Istimewa

Dosa Meninggalkan Shalat Lima Waktu

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Para pembaca yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Ta’ala. Kita semua pasti tahu bahwa shalat adalah perkara yang amat penting. Bahkan shalat termasuk salah satu rukun Islam yang utama yang bisa membuat bangunan Islam tegak. Namun, realita yang ada di tengah umat ini sungguh sangat berbeda. Kalau kita melirik sekeliling kita, ada saja orang yang dalam KTP-nya mengaku Islam, namun biasa meninggalkan rukun Islam yang satu ini. Mungkin di antara mereka, ada yang hanya melaksanakan shalat sekali sehari, itu pun kalau ingat. Mungkin ada pula yang hanya melaksanakan shalat sekali dalam seminggu yaitu shalat Jum’at. Yang lebih parah lagi, tidak sedikit yang hanya ingat dan melaksanakan shalat dalam setahun dua kali yaitu ketika Idul Fithri dan Idul Adha saja.
Memang sungguh prihatin dengan kondisi umat saat ini. Banyak yang mengaku Islam di KTP, namun kelakuannya semacam ini. Oleh karena itu, pada tulisan yang singkat ini kami akan mengangkat pembahasan mengenai hukum meninggalkan shalat. Semoga Allah memudahkannya dan memberi taufik kepada setiap orang yang membaca tulisan ini.

Dosa Meninggalkan Shalat Fardhu:

  1. Shalat Subuh : satu kali meninggalkan akan dimasukkan ke dalam neraka selama 30 tahun yang sama dengan 60.000 tahun di dunia.
  2. Shalat Zuhur : satu kalo meninggalkan dosanya sama dengan membunuh 1.000 orang umat islam.
  3. Shalat Ashar : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan menutup/meruntuhkan ka’bah.
  4. Shalat Magrib : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan berzina dengan orangtua.
  5. Shalat Isya : satu kali meninggalkan tidak akan di ridhoi Allah SWT tinggal di bumi atau di bawah langit serta makan dan minum dari nikmatnya.

6 Siksa di Dunia Orang yang Meninggalkan Shalat Fardhu :

  1. Allah SWT mengurangi keberkatan umurnya.
  2. Allah SWT akan mempersulit rezekinya.
  3. Allah SWT akan menghilangkan tanda/cahaya shaleh dari raut wajahnya.
  4. Orang yang meninggalkan shalat tidak mempunyai tempat di dalam islam.
  5. Amal kebaikan yang pernah dilakukannya tidak mendapatkan pahala dari Allah SWT.
  6. Allah tidak akan mengabulkan doanya.

3 Siksa Orang yang Meninggalkan Shalat Fardhu Ketika Menghadapi Sakratul Maut :

  1. Orang yang meninggalkan shalat akan menghadapi sakratul maut dalam keadaan hina.
  2. Meninggal dalam keadaan yang sangat lapar.
  3. Meninggal dalam keadaan yang sangat haus.

3 Siksa Orang yang Meninggalkan Shalat Fardhu di Dalam Kubur :

  1. Allah SWT akan menyempitkan kuburannya sesempit sempitnya.
  2. Orang yang meninggalkan shalat kuburannya akan sangat gelap.
  3. Disiksa sampai hari kiamat tiba.

3 Siksa Orang yang Meninggalkan Shalat Fardhu Ketika Bertemu Allah :

  1. Orang yang meninggalkan shalat di hari kiamat akan dibelenggu oleh malaikat.
  2. Allah SWT tidak akan memandangnya dengan kasih sayang.
  3. Allah SWT tidak akan mengampunkan dosa dosanya dan akan di azab sangat pedih di neraka.

SEMOGA BERMANFAAT

Sumber Referensi:
• Al-Kitab Al-Qurthubi
• A-Kitab Irsyadul I’bad
• Al-Kitab Durrotunnashihin
• Al-Kitab Tanqihul Qaul Alhatsits

Sumber Posting :
http://hadyintrior.mywapblog.com/category/dosa-meninggalkan-shalat-fardhu/1.xhtml

Istimewa

Keutamaan Shalat Shubuh

LIMA KEUTAMAAN SHALAT SHUBUH

  1. Shalat Subuh Adalah Faktor di lapangkannya Rezeki.
    ".Hai Fatimah,bangun dan saksikanlah rezeki Rabbmu,karena ALLAH membagi-bagikanrezeki para hamba antara shalat subuh dan terbitnya matahari." (HR. Baihaqi)
  2. Shalat Subuh Menjaga Diri Seorang Muslim :
    " Barang siapa melaksanakan shalat subuh,maka ia berada dalam jaminan ALLAH,maka jangan sampai ALLAH menarik kembali jaminan-Nya kepada kalian dengan sebab apapun."(HR.Muslim)
  3. Shalat Subuh Adalah tolak Ukur Keimanan :
    " Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud,ia berkata: "kami melaksanakan shalat subuh berjamaah bersama Nabi dan tidak ada yang ikut serta selain orang yang sudah jelas kemunafikannya."(HR. Muslim)
  4. Shalat Subuh Adalah Penyelamat dari Neraka:
    "Tidak akan masuk neraka,orang yang melaksamakan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum tenggelam."(HR.Muslim)

  5. Shalat Subuh Lebih Baik dari pada dunia dan seisinya :
    " Dua raka'at shalat subuh,lebih baik daripada dunia dan seisinya." (HR.Muslim)

Inilah sebagian sisi yang di gambarkan betapa utama dan nikmatnya shalat subuh dan bertasbihlah di waktu subuh.

SUBHANALLAH…

Semoga ALLAH bimbing kita untuk terus semangat dalam menjalankan-Nyadan di jauhkan dari sifat-sifat malas yang menyebabkan kita lalai dari mengerjakan shalat. Aamiin.

(Cantumkan jika ada doa khusus untuk ibu dan juga doa yang lainnya,agar kami para jamaah bisa mengaminkannya)

Silahkan Bagikan di halamanmu agar kamu dan teman-temanmu senantiasa istiqomah dan bisa meningkatkan ketakwaannya kepada ALLAH SWT.

Ya ALLAH…
✔ Muliakanlah orang yang membaca tausiah ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan tausiah ini.

Aamiin ya Rabbal'alamin.

Istimewa

Wanita Laksana Bunga Terindah

ALANGKAH indahnya bunga, mekar ditaman menyejukkan pandangan. Harum mewangi menyegarkan setiap insan yang menghirupnya. Bunga mewakili keindahan, disetiap pesta terpasang rangkaian bunga sebagai hiasannya, ia terpajang manis yang membuat indahnya suasana. Warna-warni yang menyimbolkan keceriaan, dari setiap tangkai, putik, kelopak dan mahkota yang berkolaborasi cantik dari Sang Pencipta.

dc-1388565-22507952765970.jpg

Dari sebuah bunga, kita bisa meresapi betapa indahnya kebesaranNya. Bahwa sebuah kuncup itu memerlukan perjuangan untuk mekar menjadi sebuah bunga yang menawan.

Didalam sebuah kembang bunga terdapat banyak rahasia kebesaran Allah.

Dibalik keindahan bunga,lebih indah lagi penciptanya, yaitu Allah.
Wanita identik dengan bunga, kalau diminta memilih bunga atau bola? Bungalah yang akan dia pilih. Yang masih saya ingat sewaktu saya masih belajar menggambar, pilihan utama sebagai obyek gambar saya selain gunung adalah bunga, dengan colourpen yang beraneka warna saya coretkan di setiap mahkota bunga, hingga kumpulan bunga menjadi berwarna-warni.

Putih, melati ia berarti suci dan kesederhanaan yang mewarnainya.

Kuning, ia bagaikan pancaran sinar matahari yang selalu bersinar terang.

Merah, mawar ia tegas berduri dan berani.

Pink, ia lembut penuh dengan kasih sayang.

Namun, kita wanita tidak sama dengan bunga, kita lebih indah dari pada bunga jika bisa menjaganya! Kenapa begitu? Bukankah bunga adalah tanaman yang keindahannya adalah untuk semua orang, jika kita di ibaratkan bunga liar maka semua orang bebas menikmatinya. Sejatinya hanya akan ada sebuah kumbang yang boleh menikmati keindahan dan wanginya. Kita para muslimah adalah bunga yang terpelihara. Bunga yang dipersiapkan untuk memasuki sebuah taman yang akan disirami indahnya iman.

Semoga diri ini bisa menjadi sekuntum bunga yang dihiasi dengan kelopak akhlak mulia, harum semerbak wanginya dengan ilmu agama dan cantiknya terpancar karena iman dan taqwa, menjadi bunga terindah, namun keindahan zhahirnya tetap tersimpan rapi dan menjadi rahasia dalam genggamanMu hingga tiba saatnya keindahan yang sesungguhnya Engkau singkap di hadapan seseorang yang memang berhak menerimanya.

Seindah-indahnya bunga, kita para wanita jauh lebih indah. Jadilah “bunga” terindah di dunia dan “bunga” terindah di taman surga-Nya.

Aamiin

Panduan Sholat Sunnat Tahajjud

Bismillahirrahmanirrahim

Sholat sunnat tahajud merupakan sholat yang dilaksanakan saat malam hari setelah tidur, meskipun hanya tidur dalam waktu yang sebentar. Sesuai dengan makna dari kata “Tahajjud” yang berarti “bagun dari tidur”. Jadi syarat utama melakukan sholat tahajud ialah setalah tidur terlebih dulu, meskipun hanya tidur sebentar.

Hukum dari sholat tahajud ini sendiri merupakan sunat mu’akkad, yang berarti sangat dianjurkan, karena menurut hadist Nabi SAW, sholat yang paling utama dikerjakan setelah sholat fardhu ialah sholat tahajud.

Dan untuk jumlah rakaat dari sholat tahajud ialah 2 rakaat itu untuk jumlah minimal, dan lebih baik jika dikerjakan dalam jumlah yang banyak. Karena Rasulullah SAW sendiri pernah melakukan sholat tahajud sebanyak 10 rakaat yang ditambah dengan 1 rakaat sholat witir, jadi melakukan sholat tahajud akan lebih baik jika ditambah dengan sholat witir sebagai penutup. Sholat tahajud ini hendaknya dikerjakan sebanyak 2 rakaat kemudian salam, dan jika anda ingin menambah lagi jumlah rakaatya. Anda bisa melakukannya hingga jumlah rakaat yang anda inginkan dengan 2 rakaat dan 1 kali salam.

Ada pun cara pelaksanaan dari sholat tahajud ini sama persis dengan cara sholat fardhu baik untuk bacaan ataupun gerakannya, yang berbeda hanya pada bacaan niatnya saja.

Niat Sholat Tahajud adalah

“USHALLIISUNNATATTAHAJJUDI RAK’ATAINI LILLAAHI TA’AALAA”

Artinya: (di dalam hati pada saat
takbiratul ihram) “Aku niat shalat sunat tahajud 2 rakaat, karena Allah Ta’ala”.

Dan setelah selesai melakukan sholat tahajud sebaiknya dilanjutkan dengan sholat witir. Dan sesudah selesai melakukan sholat witir, baiknya dilanjutkan lagi dengan membaca doa.

ALLAAHUMMA LAKAL HAMDU ANTA QAYYIMUS SAMAA WAATI WAL ARDHI WA MAN FIIHINNA. WA LAKAL HAMDU ANTA MALIKUS SAMAA WAATI WAL ARDHI WA MAN FIIHINNA. WA LAKAL HAMDU ANTA NUURUS SAMAAWAATI WAL ARDHI WA MAN FIIHINNA. WA LAKAL HAMDU ANTAL HAQQU, WA WA’DUKAL HAQQU, WA LIQAA’UKA HAQQUN, WA QAULUKA HAQQUN, WAL JANNATU HAQQUN, WANNAARU HAQQUN, WANNABIYYUUNA HAQQUN, WA MUHAMMADUN SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAMA HAQQUN WASSAA’ATU HAQQUN. ALLAAHUMMA LAKA ASLAMTU, WA BIKA AAMANTU, WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU, WA ILAIKA ANABTU, WA BIKA KHAASHAMTU, WA ILAIKA HAAKAMTU, FAGHFIRLII MAA QADDAMTU, WA MAA AKH-KHARTU, WA MAA ASRARTU, WA MAA A’LANTU, WA MAA ANTA A’LAMU BIHIMINNII. ANTAL MUQADDIMU, WA ANTAL MU’AKHKHIRU, LAA ILAAHA ILLAA ANTA, WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAR

Artinya:

“Wahai Allah! Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah penegak dan pengurus langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah penguasa (raja) langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah cahaya langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah Yang Hak (benar),janji-Mu lah yang benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, perkataan-Mu benar, surga itu benar (ada), neraka itu benar (ada), para nabi itu benar, Nabi Muhammad saw itu benar, dan hari kiamat itubenar(ada). Wahai Allah! Hanya kepada-Mu lah aku berserah diri, hanya kepada-Mu lah aku beriman, hanya kepada-Mu lah aku bertawakkal hanya kepada-Mu lah aku kembali, hanya dehgan-Mu lah kuhadapi musuhku, dan hanya kepada-Mu lah aku berhukum. Oleh karena itu ampunilah segala dosaku, yang telah kulakukan dan yang (mungkin) akan kulakukan, yang kurahasiakan dan yang kulakukan secara terang-terangan, dan dosa-dosa lainnya yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkaulah Yang Maha Terdahulu dan Engkaulah Yang Maha Terakhir. tak ada Tuhan selain Engkau, dan tak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Dan setelah selesai membaca doa, sebaiknya dilanjutkan lagi dengan membaca istighfar sebanyak mungkin.

Bacaan Istighfar

“ASTAGHFIRULLAAHALA AZHIIM. ALLADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBUILAIH”

Artinya:

“Akumemohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung,yang tak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya”

Demikian Cara Sholat Tahajud. Semoga bermanfaat bagi Anda yang membutuhkan. Wallahu a’lamu bishshowab.



FADHILAH BERNIAT TAHAJJUD SEBELUM TIDUR

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ حَتَّى أَصْبَحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَل

Dari Abu Ad Darda’ yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Barangsiapa yang hendak tidur dan ia berniat untuk shalat malam, lalu ia tertidur hingga datang waktu subuh maka ia mendapat pahala apa yang ia niatkan, dan tidurnya adalah sedekah baginya dari Allâh ‘Azza wa Jalla.” HR Nasa`I 1765, shahih.

FADHILAH TAHAJJUD SECARA KONTINYU

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ امْرِئٍ تَكُونُ لَهُ صَلَاةٌ بِاللَّيْلِ فَيَغْلِبُهُ عَلَيْهَا نَوْمٌ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ أَجْرَ صَلَاتِهِ وَكَانَ نَوْمُهُ ذَلِكَ صَدَقَةً

Dari ‘Aisyah, bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: Tidaklah seorang yang membiasakan diri shalat malam kemudian tertidur (di malam harinya), kecuali Allâh akan menulis pahala shalat untuknya dan tidurnya sebagai shadaqah.” HR Ahmad 233303, shahih.

FADHILAH MEMBACA SURAH PANJANG DALAM TAHAJJUD

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ طُولُ الْقُنُوتِ

Dari Jabir berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat yang paling afdhal (utama) adalah shalat yang lama berdirinya.” HR Muslim 1257.

FADHILAH TAHAJJUD DENGAN 10, 100, ATAU 1000 AYAT

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنْ الْغَافِلِينَ وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْقَانِتِينَ وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْمُقَنْطِرِينَ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bangun (shalat malam) dan membaca sepuluh ayat, maka dia tidak akan dicatat sebagai orang-orang yang lalai. Barangsiapa bangun (shalat malam) dengan membaca seratus ayat, maka dia akan dicatat sebagai orang-orang yang tunduk, dan barangsiapa bangun (shalat malam) dengan membaca seribu ayat, maka dia akan dicatat sebagai muqanthirin (orang-orang yang mendapat pahala berlipat-lipat tak terhingga)2.” HR Abu Dawud 1190, shahih.

FADHILAH MEMBANGUNKAN ISTRI UNTUK TAHAJJUD

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allâh merahmati seseorang yang bangun malam kemudian shalat lalu membangunkan isterinya, apabila isterinya menolak, dia akan memercikkan air ke mukanya, dan semoga Allâh merahmati seorang isteri yang bangun malam lalu shalat, kemudian dia membangunkan suaminya, apabila suaminya enggan, maka isterinya akan memercikkan air ke muka suaminya.” HR Abu Dawud 1113, shahih.

FADHILAH TAHAJJUD BERSAMA ISTRI

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ قَالَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اسْتَيْقَظَ مِنْ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا مِنْ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ

Dari Abu Sa’id Al Khudri dan Abu Hurairah RhadhiyAllahu ‘anhuma, mereka Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang bangun malam dan membangunkan istrinya kemudian mereka berdua melaksanakan shalat dua rakaat secara bersama, maka keduanya dicatat sebagai orang yang banyak mengingat Allâh.” HR Abu Dawud 1239, shahih.

FADHILAH TAHAJJUD AKHIR MALAM

عَمْرُو بْنُ عَبَسَةَ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنْ الْعَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الْآخِرِ فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

Dari ‘Amr bin ‘Abasah bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Waktu yang paling dekat antara Rabb dengan seorang hamba adalah pada tengah malam terakhir, maka apabila kamu mampu menjadi golongan orang-orang yang berdzikir kepada Allâh (shalat) pada waktu itu, lakukanlah!”. HR Tarmidzi 3503, shahih.

FADHILAH TAHAJJUD DAWUD

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radliallahu ‘anhu’anhuma mengabarkannya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepadanya: “Shalat yang paling Allâh cintai adalah shalatnya Nabi Daud Alaihissalam dan shaum (puasa) yang paling Allâh cintai adalah shaumnya Nabi Daud alaihissalam. Nabi Daud Alaihissalam tidur hingga pertengahan malam lalu shalat pada sepertiganya kemudian tidur kembali pada seperenam akhir malamnya3. Dan Nabi Daud Alaihissalam shaum sehari dan berbuka sehari”. HR Bukhari 1063.

FADHILAH TAHAJJUD TENGAH MALAM

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

اعْبُدُوا الرَّحْمَنَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَأَفْشُوا السَّلَامَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Dari ‘Abdullahbin Amru ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Beribadahlah kalian kepada Ar Rahman (Alloh Swt), berilah makanan, dan tebarkanlah salam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” HR Tarmidzi 1778, shahih.

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

Dari Ali ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi menjawab: “Untuk orang yang berkata benar, memberi makan, shaum secara kontinyu, dan shalat pada malam hari di waktu orang-orang tidur.” HR Tarmidzi 1907, shahih. * Yaitu di tengah malam pada jam tidur.

FADHILAH TAHAJJUD TARAWIH

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنْ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتْ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتْ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ قَالَ فَقَالَ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ قَالَ فَلَمَّا كَانَتْ الرَّابِعَةُ لَمْ يَقُمْ فَلَمَّا كَانَتْ الثَّالِثَةُ جَمَعَ أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ وَالنَّاسَ فَقَامَ بِنَا حَتَّى خَشِينَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ قَالَ قُلْتُ وَمَا الْفَلَاحُ قَالَ السُّحُورُ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِقِيَّةَ الشَّهْرِ

Dari Abu Dzar dia berkata; “Kami pernah berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau tidak mengerjakan shalat malam bersama kami sedikitpun dalam sebulan sampai berlalu sepertiga malam, setelah malam keenam (dari akhir bulan) beliau juga tidak mengerjakan shalat malam bersama kami, ketika di hari kelima (dari akhir bulan), beliau mengerjakan shalat malam bersama kami hingga tengah malam pun berlalu. Maka kataku; “Wahai Rasulullah, alangkah baiknya sekiranya anda menambahi shalat sunnah (qiyamullail) pada malam hari ini untuk kami!.” Abu Dzar berkata; Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya apabila seseorang shalat (malam) bersama imam hingga selesai, maka akan dicatat baginya seperti bangun (untuk mengerjakan shalat malam) semalam suntuk.” Kata Abu Dzar; “Ketika malam keempat (dari akhir bulan) beliau tidak mengerjakan shalat malam (bersama kami), setelah malam ketiga (dari akhir bulan), beliu mengumpulkan keluarganya, isteri-isterinya dan orang-orang, lalu melakukan shalat malam bersama kami, sampai kami khawatir ketinggalah “Al falah.” Jabir bertanya; “Apakah al falah itu?” jawabnya; “Bersahur. Kemudian beliau tidak lagi melakukan shalat malam bersama kami di malam-malam berikutnya dari sebulan itu.” HR Abu Dawud 1167, shahih.

TAHAJJUD MENINGGIKAN KEMULIAAN DI HADAPAN ALLOH

Terdapat hadits shahih dan hadits dha’if, yaitu:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ ، قَالَ : جَاءَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ ، وَأَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ ثُمَّ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ.

Dari Sahl bin Sa’d berkata, “Jibril ‘alaihissalam datang kepada Nabi saw lalu berkata: Hai Muhammad, hiduplah engkau semaumu sebab kau akan mati. Cintailah siapapun yang kau cintai karena kau akan meninggalkannya. Kerjakanlah apapun yang kau mau sebab kau akan dibalas dengannya.” Kemudian dia berpetuah, “Hai Muhammad, Kemuliaan orang mu’min adalah dengan qiyamullail, dan ‘izzahnya (gagah) adalah jika ia menahan diri dari meminta kepada orang.” HR Hakim 7921, shahih.

Adapun hadits yang dha’if bahkan palsu adalah:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَشْرَافُ أُمَّتِي حَمَلَةُ الْقُرْآنِ وَأَصْحَابُ اللَّيْلِ “

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah saw bersabda, “Para mulia dari ummatku adalah mereka yang hafal Al-Qur’an dan ahli ibadah malam hari.” HR Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2447 & 2977, DHA’IF/PALSU.4

DOA TAHAJJUD LEBIH MUSTAJAB

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ

قَالَ جَوْفَ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ

Dari Abu Umamah ia berkata; Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam ditanya: Wahai Rasulullah, doa apakah yang paling didengar? Beliau berkata: “Doa di tengah malam terakhir, serta setelah shalat-shalat wajib.” HR Tarmidzi 3421, shahih.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Dari Jabir ia berkata; Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di waktu malam terdapat suatu saat, tidaklah seorang muslim mendapati saat itu, lalu ia memohon kebaikan kepada Allâh ‘Azza wa Jalla baik kebaikan dunia maupun akhirat, kecuali Allâh memperkenankannya. Hal tu terjadi pada setiap malam.” Muslim 1259.

TAHAJJUD MENGHAPUS DOSA

ثَوْبَان مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ يُدْخِلُنِي اللَّهُ بِهِ الْجَنَّةَ أَوْ قَالَ قُلْتُ بِأَحَبِّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ فَسَكَتَ ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَسَكَتَ ثُمَّ سَأَلْتُهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ سَأَلْتُ عَنْ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

Tsauban, maula Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, lalu aku bertanya, ‘Kabarkanlah kepadaku dengan suatu amal yang jika kukerjakan niscaya Allâh akan memasukkanku ke dalam surga disebabkan amal tersebut, -atau dia berkata, aku berkata, ‘Dengan amalan yang paling disukai Allâh-, lalu dia diam, kemudian aku bertanya kepadanya, lalu dia diam kemudian aku bertanya kepadanya yang ketiga kalinya.’ Dia menjawab, ‘Aku telah menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, maka beliau menjawab, ‘Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allâh, karena tidaklah kamu bersujud kepada Allâh dengan suatu sujud melainkan Allâh akan mengangkatmu satu derajat dengannya, dan menghapuskan satu dosa darimu dengannya’.” HR Muslim 753.

TAHAJJUD MELEPASKAN 3 IKATAN SETAN

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan. Pada tiap ikatan dia berkata: Kamu akan melewati malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak. Jika dia bangun dan mengingat Allâh maka lepaslah satu tali ikatan. Jika kemudian dia berwudhu’ maka lepaslah tali yang lainnya dan bila ia mendirikan shalat lepaslah seluruh tali ikatan dan pada pagi harinya ia akan merasakan semangat dan kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tidak melakukan seperti itu, maka pagi harinya jiwanya merasa tidak segar dan menjadi malas”. HR Bukhari 1074.

TAHAJJUD ADALAH SHALAT SUNNAH PALING UTAMA

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seutama-utama puasa setelah Ramadlan ialah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama shalat sesudah shalat Fardlu ialah shalat malam.” HR Muslim 1982.

TAHAJJUD YANG PASTI DITERIMA ALLOH

عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَعَارَّ مِنْ اللَّيْلِ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي أَوْ دَعَا اسْتُجِيبَ لَهُ فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ

‘Ubadah bin Ash-Shamit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang bangun di malam hari lalu membaca “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir. Alhamdulillahi wa subhaanallah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar wa laa jaula wa laa quwwata illa billah” (Tidak ada tuhan yang berhaq disembah kecuali Allâh satu-satunya, tidak ada sekutu bagiNya. Dialah yang memiliki kerajaan dan baginNya segala pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allâh dan Maha Suci Allâh dan tidak ada ilah kecuali Allâh dan Allâh Maha Besar dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Dia”) Kemudian dilanjutkan dengan membaca “Allahummaghfirlii” (“Ya Allâh ampunilah aku”) atau berdo’a, maka akan dikabulkan baginya. Jika dia berwudhu’ lalu shalat maka shalatnya diterima”. HR Bukhari 1154.

* * * * *
[MH]

Kata Mutiara Islami dan Nasehat Penyejuk Qalbu

Bismillahirrahmanirrahim

Tujuan merenungi kata kata mutiara islami penyejuk hati dan jiwa bagi setiap manusia adalah untuk mencapai derajat kesadaran yang sempurna, iman, dan taqwa.

Hati adalah bagian dalam tubuh kita yang menjadi penggerak utama dan penuntun jalan hidup kita. Bila hati kita bersih, maka bersihlah segala sikap dan perilaku kita. Sebaliknya bila hati ini kotor, maka dunia kita akan dipenuhi kemaksiatan dan dosa.

Untuk itu, jagalah hati karena dengan penjagaan yang benar, langkah kita akan terarah menuju tempat yang mulia. Bacalah kata kata mutiara islam ini dan semoga mampu menyejukan hati anda.

Madinatul Iman — “Sungguh beruntung orang yang mati tapi kebaikannya tak turut mati. Dan sungguh celaka orang yang mati namun keburukannya tidak pula ikut mati”

“Kegigihan usahamu pada [perkara-perkara] yang telah pun dijaminkan untukmu (yakni di dalam urusan-urusan rezeki) disamping kelalaianmu pada [perkara-perkara] yang telah dituntut daripadamu (yakni di dalam mengerjakan ibadat) adalah satu dalil bagi terhapusnya al-bashirah (penglihatan mata hati) daripada dirimu”. (Syaikh Ibnu ‘Athoillah As-Sakandari)

“Cara terbaik menghukum orang yang telah melakukan kesalahan terhadap kita ialah dengan berbuat baik kepadanya”
        
لا يُقبل قول إلا بعمل، ولا يستقيم قول وعمل إلا بنية، ولا يستقيم قول وعمل ونية إلا بمتابعة السنة.

Tidak diterima ucapan tanpa perbuatan, tidak akan lurus (benar) ucapan dan perbuatan tanpa niat, dan tidak lurus (benar) ucapan, perbuatan dan niat, kecuali dengan mengikuti Sunnah Rasulullah SAW”. (Imam Sufyan Ats-Tsauriy)

“Diamnya seorang ‘alim itu adalah merupakan sebuah aib/cela dan perkataannya itu adalah sebuah perhiasan, sedangkan perkataan seorang yang jahil itu adalah merupakan sebuah ‘aib dan diamnya adalah sebuah perhiasan”

“Kalau ada orang yang meragukan keluasan ilmu Imam al-Syafi’I Rahimahullah, berarti orang tersebut adalah orang yang perlu diragukan” (Habib Novel bin Muhammad Alaydrus)

“Dalam shalatku selama 40 tahun, aku tak pernah lupa mendo’akan guruku yang bernama Imam Syafi’i. Itu kulakukan karena aku memperolah ilmu dari Allah lewat beliau”. (Yahya bin Said al-Qathan)

 “Raihlah sesuatu dengan bakat yang kau miliki, dan jangan meraihkan (mengingankan) sesuatu sesuai dengan nafsu atau seleramu”. (Lukman Hakim)

“Sesungguhnya kebaikan itu memancarkan cahaya pada wajah seseorang, dan cahaya pada hati, keluasan dalam rezeki, kekuatan pada badan, kecintaan di tengah makhluk. Dan keburukan akan mengakibatkan kehitaman pada wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan badan dan kekurangan rezeki, serta kebencian di dalam hati para makhluk Allah.” (Abdullah bin Abbas Radliyallah ‘anh)

ما زلنا طالبين لله

“Selamanya kita adalah santri pencari ilmu karena Allah”

لايدرك النائم أنه يحلم إلا بعد أن يستيقظ  وكذلك الغافل عن الآخرة لايدرك ماضيع إلا بعد أن يأتيه الموت . اللهم لا تجعلنا من الغافلين

“Orang yang tidur tidak akan tahu kalau dirinya sedang bermimpi kecuali setelah bangun, begitu juga orang yang lupa (lalai) akan akhirat tidak akan tahu kalau dirinya sedang menyia-nyiakan amal akhirat, kecuali setelah datangnya kematian. Ya Allah jangan jadikan kami orang-orang pelupa (lalai)”. (Syaikh Sami al-Musaithir)

اعلم ان الباب الاعظم الذي يدخل منه إبليس على الناس هو الجهل

“Ketahuilah, sesungguhnya pintu terbesar manusia yang dimasuki oleh iblis adalah kebodohan” (al-Hafidz Imam Ibnul Jauzi al-Hanbali)

من اشتغل بنفســه شغل عن الناس

“Barang siapa sibuk dengan dirinya sendiri maka orang tersebut akan jauh dari mencari kekurangan orang lain”. (Abu Sulaiman Ad-Darani)

غضب الاشراف يضهر فى افعالها # وغضب السفهاء يضهر فى السنتها

“Marahnya orang yang mulia bisa terlihat dari sikapnya, dan marahnya orang yang bodoh terlihat dari ucapan lisannya” (Imam Syafi’i)

“Tenanglah dan sejukkan jiwamu dengan kebersamaan para Imam-Imam kaum Muslimin dan para Sahabat Radhiyallahu’anhum. Sungguh mereka itulah yang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, kita tak akan bersama Rasulullah Shallalahu ‘alayhi wa Sallam kecuali bila kita mengikuti mereka” [Al Habib Munzir Al Musawa, pengasuh Majelis Rasulullah SAW]

الوقت كالسيف فإن قطعته والا قطعك

“Waktu laksana pedang, jika engkau tidak memotongnya, maka ia akan memotongmu”

ونفسك إن لم تشغلها بالحق وإلاشغلتك بالباطل

“Nafsumu jika tidak engkau sibukkan dengan kebenaran (haq), niscaya akan menyibukkanmu dengan kebatilan”

سَلاَمَةَ الإِنْسَانِ فيِ حِفْظِ اللِّسَانِ

“Keselamatan seseorang ialah dengan menjaga lisannya”

مَنْ قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ، غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الجَنَّةِ

“Barangsiapa yang mengucapkan : “Subhanallahil ‘Adhim wa bi-Hamdih”, ditanamkan untuknya sebatang pohon kurma di surge” (HR. Turmudhi)

اَلْحَـرْفُ يَـبْقَى بَعْدَ الْمَوْتِ شَاهِداً .. فَاكْتُبْ بِكَفِّكَ مَا تَـرَاهُ جَمِيْلاً

“Huruf yg kamu tulis itu akan tetap ada sebagai saksi walaupun kamu sudah mati .. Maka tulislah dengan tanganmu hal-hal yg kamu lihat baik”

وأفضل العلم علم الحال … وأفضل العمل حفظ الحال

“Ilmu yang paling utama adalah ilmu hal (tingkah laku) … dan amal yang paling utama adalah menjaga tingkah laku”. (Syaikh Ahmad Az-Zarnuji berkata didalam Ta’lim Al Muta’allim)

تعـلـم فــإن الـعلـم زيـن لأهــلــه … وفــضـل وعــنـوان لـكـل مـــحامـد
وكــن مـستـفـيدا كـل يـوم زيـادة … من العـلم واسـبح فى بحـور الفوائـ

“Belajarlah kalian, karena sungguh ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya … dan menjadi keutamaan serta sebagai penolong pada setiap hal yang terpuji. | Jadilah kalian orang yang selalu mengambil faidah disetiap waktu sebagai tambahan … ilmu, dan selamilah samudera-samudera faidah tersebut”.

من علامة اتباع الهوى المسارعة إلى نوافل الخيرات و التكاسل عن القيام بالواجبات

“Diantara tanda seseorang mengikuti nawa nafsu adalah bersegera melakukan amaliyah-amaliyah yang sunnah namun malas untuk menegakkan yang bersifat wajib” (Syaikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandariy)

“Persahabatan terkadang menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan tumbuh dan berkembang bersama”

وَالحُبُّ فِي اللَّهِ وَالبُغْضُ فِي اللَّهِ مِنَ الإِيمَانِ

“Cinta dan benci karena Allah Subhanahu wa ta’alaa termasuk bagian dari Keimanan”

ما هذا؟! أنتم إلى يسير من الأدب أحوج منكم إلى كثير من العلم

Ketika Al-Laits bin Sa’d menemui para pencari hadits, kemudian melihat sesuatu yang ada pada mereka, maka ia berkata, “Apa ini ?!, Kalian lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyaknya ilmu.”  (Syaraf Ashabul Hadits, karya Al Khathib Al Baghdadi )

“Aku telah membuktikan bahwa kenikmatan hidup itu ada pada kesabaran kita dalam berkorban.” (Sayyidina Umar bin Khaththab)

“Hamba yang saling mencintai karena Alloh akan mendapatkan pertolongan istimewa di padang makhsar dan di surga akan di tempatkan di tempat mulia yang bersinar – sinar yang membuat semua penghuni surga merindukan untuk bisa bersama mereka.Dan tanda hamba yang saling mencintai adalah tidak pernah meninggalkanya dalam panjatan doanya.Maka dari itu jangan lupa sertakan kami dalam dalam doa anda dan doakan kami agar tidak lupa mendoakan anda agar kita mendapatkan kemuliaan hamba-hamba yang saling mencintai karena Alloh. ” (Al Ustadz Yahya Zainul Ma’arif)

أرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ فما قامَ بهِ غيرُكَ عنْكَ لا تَقُم بهِ لنفسِكَ
“Istirahatkan dirimu dari mencemaskan masa depan. Apa yang sudah ditanggung pihak lain (Allah) untukmu, kau tidak perlu ikut menanggungnya”.

“Jika hanya sebatas keluar dari lisan, niscaya hanya akan sampai ke telinga. Namun, jika yang keluar dari hati niscaya akan sampai ke hati”

“Ilmu yg bermanfaat adalah ilmu yg dapat menambah rasa takutmu (taqwa-mu) kepada Allah Taala. ”

“Bukan dengan merendahkan orang lain yang menjadikan kita mulya. Bukan dengan membuka aib orang lain yang menjadikan kitab terpuji. | Bukan pula dengan mengkafirkan orang lain yang menjadikan kita beriman. Bukan pula dengan memperolok orang lain yang menjadikan kitab pandai”

“Keburukan yang ditata dengan baik, bisa mengalahkan kebaikan yang ditata buruk”

“Tidak peduli masa belakangmu, tapi peduli pada masa depanmu, semuanya tergantung pada tindakan kita pada masa kini”

“Jangan jadi bebek, kalaupun mau jadi bebek maka jadilah bebek yang berprinsip”

إن ليلة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كانت ليلة شريفة عظيمة مباركة سعيدة على المؤمنين، طاهرة، ظاهرة الأنوار جليلة المقدار

Maulid Nabi menurut Ibnu Katsir: “Sungguh malam kelahiran Nabi SAW adalah malam yang sangat mulia dan banyak berkah dan kebahagiaan bagi orang mukmin dan malam yang suci, dan malam yang terang cahaya, dan malam yang sangat agung”. [Lihat kitab Maulid iIbnu Katsir 19],

“Kata “Syaikh” semakna dengan kata “asy-syâ’ikh”. Kata syaikh adalah masdar yang memiliki makna isim fa’il. Secara bahasa, syaikh adalah orang yang telah mencapai usia 40 tahun, meskipun ia seorang yang kafir. Adapun menurut tradisi, syaikh adalah seseorang yang telah mencapai derajat utama, meskipun ia seorang bocah. Syaikh adalah seseorang yang memiliki kebijakan, ilmu, dan hikmah yang luas”.
(Syaikh Ihsan Jampes dlm Siraj ath-Thalibin)

“Senjata orang yang hina adalah tutur kata yang buruk”. (al-Imam Ali Zaenal Abidin bin Husein ra)

“Sanjungan orang lain yang ditujukan kepadamu, itu karena indahnya penutup Allah yang ada padamu atas aibmu”.

“Mengajak tanpa do’a itu bentuk kesombongan. Sebab, bukan anda yang dapat memberikan hidayah, melainkan Allah. Oleh karena itu, ajaklah dan do’akanlah”. (Dalam Dakwah)

“wa Ammal Kasrotu fa-Takunu ‘alamatan lil-Khofdli. Arti secara nahwunya adalah “Sedangkan Kasroh itu tanda untuk Khofadl / Jer. | Sedangkan pecah belah (cerai berai / tidak bersatu) itu tanda-tanda rendah (kehinaan, penj)”. (Menyelami Hikmah | Tidak Sekedar Nahwu)

عن أبي هريرة، رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” كن ورعاً تكن أعبد الناس، وكن قنعاً تكن أشكر الناس؛ وأحب للناس ما تحب لنفسك تكن مؤمناً وأحسن من جاورك تكن مسلماً، وأقل الضحك، فن كثرة الضحك تميت القلب ” .

“Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda “Jadilah orang wara’ (menjaga diri dari dosa kecil dan perkara hina) maka kamu akan jadi orang yang paling giat beribadah, jadilah orang qana’ah (menerima dan ridla atas rizqi yang berikan Allah kepadanya) maka kamu akan menjadi orang yang paling bersyukur, cintailah orang lain sperti kami mencintari dirimu niscaya kamu akan jadi orang mukmin sejati, berbuat baiklah dengan tetangga niscaya kamu akan menjadi muslim sejati, kurangi tertawa, sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati” (RISALAH AL-QUSYAIRIYYAH)

سُمِّيَ خلقه عظيماً لأنه لم تكن له همة سوى الله تعالى

Imam Al Junaid Al Baghdadi berkata: “Akhlaq Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi wa Sallam dinamakan sebagai akhlaq yang agung karena tiada sesuatu yang menjadi keinginan pun bagi Nabi SAW melainkan hanya Allah Ta’alaa”.

انَّ اْلحَقَّ يَضْعُفُ بِاْلإِخْتِلاَفِ وَاْلإِفْتِرَاقِ وَاَنَّ اْلبَاطِلَ قَدْ يَقْوى بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِتِّفَاقِ

“Sesungguhnya kebenaran dapat menjadi lemah karena perselisihan dan perpecahan dan kebathilan sebaliknya dapat menjadi kuat dengan persatuan dan kekompakan” (Kalam Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhah, disebutkan didalam kitab Qanun Asasi Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari)

“Santri harus diberi peluang untuk membuat revolusinya sendiri. Sebuah revolusi wacana, revolusi pemikiran. Lahap semua buku, diskusi, dan menulislah. Sekali lagi, bikin revolus”i. (Dwy Sadoellah)

“Islam mengakui eksistensi negara, bahkan seperti Imam Al Ghazali dan Imam Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa urusan hukuman itu adalah otoritas negara” (KH ‘Ali Mustofa Ya’qub)

يحيى بن معاذ الرازي يقول : ليكن حظ المؤمن منك ثلاثة : إن لم تنفعه فلا تضره ، وإن لم تفرحه فلا تغمه ، وإن لم تمدحه فلا تذمه .

Yahya bin Mu’adz Ar-Razi menasehatkan : “Hendaknya kamu mempunyai tiga sikap terhadap sesama mukmin: kalau kamu belum mampu memberinya manfaat, maka janganlah kau beri dia kesusahan, kalau kamu mampu membuatnya gembira janganlah kau buat dia sedih, kalau kamu belum bisa memujinya maka janganlah kau mencela”.

من استخف بالعلماء ذهبت آخرتُه، ومن استخف بالأمراء ذهبت دنياه، ومن استخف بالإخوان ذهبت مروءته

Ibnul Mubarak (ulama Salaf) pernah berkata: “Barangsiapa menghina ulama maka hilanglah akhiratnya. Barangsiapa menghina pemerintah, maka hilanglah dunianya. Barangsiapa menhina sahabat-sahabatnya maka hilanglah kemuliaanya”

إن العبد إذا أخطاء خطيئة نكتت فى قلبه نكتة سوداء فاذا هو نزع واستغفر وتاب صقل قلبه وإن عاد زيد فيها حتى تعلو على قلبه, وهو الران الذى ذكره الله – كلا بل ران على قلوبهم ماكانوا يكسبون

“Sesungguhnya seorang hamba apabila ia berbuat kesalahan maka dihatinya akan tertera setitik noda. Ketika ia telah beristighfar (meminta ampunan) dan bertaubat maka hati itu akan kembali cemerlang dan jika ia kembali melakukan kesalahan serupa maka hati itulah yang telah tertutup. Seperti halnya firman Allah dalam al-Muthafifin “demikian sebenarnya apa yang mereka lakukan itu telah menutupi hati mereka”

وخالف النفس والشيطان واعصهما * وإن هما محضاك النصح فاتهم

“Janganlah kau mengikuti nafsu dan syaitan serta kemaksiatan yang ditawarkannya. Dan tetap waspadalah sekalipun keduanya membisikkan nasihat yang terkesan baik”

اَلاِحْسَانُ اَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَاَنَّكَ تَرَاهُ فَاِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَاِنَّهُ يَرَاكَ

“Ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat Allah dan bila tidak bisa melihat Allah maka allah melihat kamu”

لْوَقْتُ أَنْفَسُ مَا عُنِيْتَ بِحِفْظِهِ * وَأَرَاهُ أَسْهَلَ مَا عَلَيْكَ يَضِيْعُ

“Waktu adalah hal yang paling berharga untuk dijaga dan dipelihara, tapi paling mudah untuk hilang dan sirna”. (Yahya bin Hubairah |Qimatuz-Zaman ‘Indal-Ulama)

وَلَمْ أَجِدِ الْإِنْسَانَ إِلاَّ ابْنَ سَعْيِهِ # فَمَنْ كَانَ أَسْعَى كَانَ بِالْمَجْدِ أَجْدَرَا

وَبِاْلهِمَّةِ العُلْيَا تَرَقَّى إِلَى العُلىَ # فَمَنْ كَانَ أَعْلَى هِمَّةً كَانَ أَظْهَرَا

وَلَمْ يَتَأَخَّرْ مَنْ أَرَادَ تَقَدُّماً # وَلَمْ يَتَقَدَّمْ مَنْ أَرَادَ تَأَخُّرَا

“Setiap manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakin pantas ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Semakin keras berkemauan, semakin terang derajat itu. Tak ada langkah mundur bagi orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang menghendaki mundur”

وَمِنْ عَادَةِ اْلأَيَّامِ أَنَّ خُطُوْبَهَا # إِذَا سُرَّ مِنْهَا جَانِبٌ سَاءَ جَانِبُ

“Sudah menjadi tabiat waktu, membahagiakan satu pihak akan menyedihkan pihak lainnya”

الْحِفْظُ قَبْلَ الْفَهْمِ أَنْفَعُ مِنَ الْفَهْمِ قَبْلَ الْحِفْظِ

“Menghafal sebelum memaham lebih berguna daripada memahami sebelum menghafal”.

“Sesuatu yang menjadi perselisihan pendapat para ulama tidak boleh diingkari | Sebuah Ijtihad tidak bisa dibatalkan dengan ijtihad lainnya”

الدنيا دار صدق لمن صدقها، ودار نجاة لم فهم عنها، ودار غنى لمن تنود منها

“Dunia itu ibarat rumah yang nyata bagi yang membenarkannya; ibarat rumah kesuksesan bagi yang mema¬haminya; dan ibarat rumah mewah bagi yang mengiyakannya”

“Belajar agama Islam melalui buku-buku terjemahan berbahasa Indonesia itu hendaknya digunakan untuk menambah pengetahuan pribadi dalam beribadah. Dan apabila ada orang yang belajar agama Islam dari buku-buku terjemahan kok dipakai untuk berdebat atau dipakai ikut-ikutan untuk berfatwa maka itulah ciri-ciri orang yang tidak sabar dalam menuntut ilmu namun dia sudah tidak sabar ingin dianggap WAH oleh orang lain”. (Ustadz Dawam Mu’allim Hafidzahullah | Pengasuh Pondok Pesantren Al Ma’rifah – Bontang Kalimantan Timur)

اذا جالست بين العلماء فاحفظ لسانك، وإذا جالست بين الأولياء فاحفظ قلب

“Jika kamu duduk bersama para ulama’ maka jagalah lisanmu dan bila kamu duduk dengan para aulia’ maka jagalah hatimu”.

“Betapa banyak orang yang mencela perkataan yang benar dan sebabnya adalah pemahaman yang salah/buruk”.

“Akan kuberikan ilmu yang kumiliki kepada siapapun, asal mereka mau memanfaatkan ilmu yang telah kuberikan itu”. (Imam Syafi’i Rahimahullah)

Syaikh Abdul Wahhab asy-Sya’rani bercerita : “Pernah seseorang yang mengaku ‘arif billah datang kepadaku, lalu ia berbicara tinggi tentang Fana dan Baqo tanpa di dasari ilmu. Banyak orang yang meyakininya. Ia bersamaku beberapa hari, kemudian aku bekata kepadanya “ Beri tahu aku apa saja syarat-syarat whudu dan sholat !” Ia menjawab “ Aku belum belajar bab itu sama sekali “. Maka aku berkata kepadanya “ Wahai saudaraku, sesungguhnya menyesuaikan segala ibadah dengan ketentuan Al-Quran dan As-Sunnah adalah perkara yang wajib menurut kesepakatan para ulama. Barangsiapa yang tidak bisa membedakan antara yang wajib dan sunnah, antara yang makruh dan haram maka ia adalah orang bodoh. Dan orang bodoh tidak patut untuk di ikuti baik dalam thoriqah lahir maupun thoriqah batin “. Lalu ia membisu seribu bahasa dan tidak ada jawaban sama sekali darinya. Sejak itulah ia menjauhiku”.

Sayyidi Syaikh Ali Al-Khowwash Rh berkata: “Sesungguhnya jalan para ulama sufi terhias dengan Al-Quran dan Al-Hadits bagaikan terhias dengan emas dan permata. Demikian itu karena mereka di setiap gerak-gerik dan diam mereka mempunyai niat yang baik sesuai dengan timbangan Syari’at. Dan tidak bisa mengetahuinya kecuali orang yang memperdalami ilmu-ilmu Syari’at “.

وعلى عباد الله الصالحين: وهم القائمون بحقوق الله تعالى وحقوق العباد

“Orang-orang sholih adalah mereka yang memenuhi/menegakkan hak-hak Allah Ta’ala dan hak-hak sesama hamba”. (Minhaj al-Qowim Ibnu Hajar al-Haitami hal 44)

وَلَا شَيْءٌ يَدُوْمُ فَكُنْ حَدِيْثاً # جَمِيْلَ الذّكْرِ فَالدُّنْيَا حَدِيْثُ

“Tiada sesuatupun didunia ini yang kekal, maka ukirlah cerita, cerita yang indah untuk dikenang, karena dunia itu sendiri adalah sebuah cerita”. (Penyair)

داوم على سماع المواعظ ،فإن القلب إذا غاب عن المواعظ عمي

“Biasakan untuk menyimak (mendengarkan) nasehat-nasehat, sebab sesungguhnya hati ketika kosong dari nasehat maka akan buta”. (Syaikh Abdul Qadir Al Jailani)

من خير الاختيار صحبة الاخيار ومن شر الاختيار صحبة الاشرار

“Berkawan dengan orang yang baik (akhlaknya ) adalah pilihan yang baik, sedangkan berkawan dengan orang yang buruk (akhlaknya) adalah pilihan yang buruk”.

“Tidak boleh hasad/dengki/cemburu kecuali pada dua golongan yaitu seorang laki-laki yang Allah anugerahkan kepadanya Ilmu pengatehuan, dan seorang yang Allah anugerahkan harta kekayaan yang dengan harta kekayaannya ia manfaatkan dijalan Allah”

الصبر كف النفس وحبسها عن الشيئ

“Sabar adalah menjaga diri dan menahannya dari sesuatu”

السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنْ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنْ الْجَنَّةِ قَرِيبٌ مِنْ النَّاسِ بَعِيدٌ مِنْ النَّارِ

“Bahwa orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surge, dekat dengan masyarakatnya dan jauh dari neraka”

“Sebaiknya sebelum bersetubuh hendaknya diajak bersenda-gurau dan menciumnya, sebagaimana Rasulullah SAW melakukannya” (Ibnul Qayyim al Jauziyah)

ترك العمل لأجل الناس رياء ، والعمل لأجلهم شرك

“Tidak melakukan sesuatu karena manusia adalah riya, dan melakukan sesuatu karena manusia adalah syirik”. (Ibnu al-‘Iyyadl)

قل الحق ولو كان مرا

“Katakanlah kebenaran waluapun pahit adanya”

مامن عبد يقول بسم الله الرحمن الرحيم إلا أمر الله تعالى الكرام الكاتبين أن يكتبوا فى ديوانه أربعمائة حسنة

“Tidaklah seorang yang membaca bismillahirrahmanirrahim kecuali Allah akan utus kepadanya seorang (malaikat pencatat) menuliskan 400 kebaikan untuknya”

“Apabila kamu melihat seorang alim yg bisa berjalan di atas air, jangan lantas dengan mudahnya engkau mengikutinya, teliti dulu apakah pola tingkahnya sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits, apabila demikian maka ikutilah dia, namun bila berseberangan maka tinggalkanlah dia” (Syaikh Abu Yazid Al Busthomi)

DOA – “Bismillahirrahmanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin. Allahumma Shalli ‘alaa Sayyidina Muhammad. ya Allah …!, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan dunia dan kesempitan hari kiamat. Ya Allah …!, jadikanlah permulaan hari ini suatu kebaikan dan pertengahannya suatu kemenangan dan penghabisannya suatu kejayaan, wahai Tuhan yang paling Penyayang dari segala penyayang Ya Allah …!, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang berguna, rezki yang baik dan amal yang baik Diterima. wa Shallallahu ‘alaa Sayyidina Muhammad, wal Hamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin. Aaamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin”

“Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama, dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama” (Deklarasi Hubungan Pancasila dengan Islam, dikeluarkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) tahun 1983)

“Cinta mampu melunakan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan. Cinta juga mampu membuat seorang budak menjadi majikan, serta majikan akan menjadi seorang budak. Ketahuilah, bahwa inilah kedahsyatan cinta”. (Sayyidah Rabi’ah al-‘Adawiyah)

“Janganlah bersedih karena urusan dunia dan isinya. Kita hanya bertamu di atas tanahnya.” (Ustadz Muhammad Idrus Romli)

“Sesungguhnya hal yang memalukan dan aib bagi muslimah dan mukminah adalah tidak mempedulikan sirah (sejarah) Sayyidah Fatimah Az-Zahro, akhlak dan kebiasaan beliau” (Habib Umar Bin Hafidz)

“Aksi-aksi yang bersifat intimidatif, merugikan pihak lain secara materi maupun non-materi, mengancam keselamatan atau bahkan menghilangkan jiwa dan/atau menciderai raga siapapun, sekalipun dilakukan atas nama dakwah dan/atau amar ma’ruf nahi munkar, itu adalah dakwah yang salah dan umat Islam harus menolaknya. Bahkan wajib hukumnya bagi pemerintah menangkap para pelaku kejahatan (jarimah). Dakwah apapun yang tidak sejalan dengan pesan luhur agama, adalah dakwah yang salah dan harus di tolak”(Syaikhul Akbar al-Azhar Muhammad Sayyid Thanthawi)

“Dimanapun, untuk mencapai kesucian hati adalah dengan rendah hati” (Maulana Jalaluddin Rumi)

“Dakwah yang baik itu adalah dakwah yang mencerahkan, yang mendidik, yang mencerdaskan dan memberi harapan kepada manusia. | Semua dakwah yang berbeda dengan semua orientasi Ilahiyah adalah dakwah yang salah”

“al-Ilmu Nurun (Ilmu adalah cahaya). Ibarat sebuah bola lampu, jika engkau ingin tercerahkan dengan cahaya maka tempatkan dirimu didekat bola lampu yang terang, bukan pada bola lampu yang redup, apalagi bola lampu yang mati”. [Madinatuliman.com]

الحديث مضلة إلا للفقهاء

Sufyan bin Uyainah berkata: “al-Hadits itu menyesatkan, kecuali bagi fuqaha/ulama'”

لولا مالك بن أنس والليث بن سعد لهلكت ، كنت أظنّ أنّ كلّ ما جاء عن النّبي صلّى الله عليه وسلّم يفعل به

Abdullah bin Wahab rahimahullah (seorang ahli hadis yang juga sahabat Imam Malik) pernah berkata: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan al–Laist bin Sa’ad, maka aku akan celaka, aku sebelumnya mengira bahwa setiap yang datang dari Nabi SAW di amalkan semua”

“Dakwah itu tidak hanya bil-maqal (ucapan), tapi juga bil-hal (perbuatan)” (Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj)

اعجز الناس من عجز عن اكتساب الاخوان, و اعجز منه من ضيع من ظفر به منهم

“Selemah-lemahnya manusia ialah yang tidak bisa mendapatkan kawan, dan yang lebih lemah dari itu ialah orang yang eninggalkan kawannya setelah ia dapatkan”

“Kedalaman ilmu membentuk prinsip yang teguh, keteguhan prinsip membentuk sikap yang tangguh, ketangguhan sikap menjadi pijakan hidup yang kokoh”. (Abu al-Husain an-Nuri | Ulama sufi Baghdad (w. 295 H))

العلم والعمل والاخلاص والخوف – فمن لم يعلم فهو أعمى ومن لم يعمل بماعلم فهو محجوب ومن لم يخلص العمل فهو مغبون ومن لم يلازم الخوف فهو مغرور. (روضة الطالبين – ج 1 / ص 3-4)

“Ilmu, amal, ikhlas, dan khauf (takut kepada Allah) – Barangsiapa yang tidak berilmu dia adalah buta, barangsiapa yang tidak mengamalkan ilmunya dia adalah terhijab (tertutup), barangsiapa yang tidak ikhlas dalam beramal dia adalah terlena, dan barangsiapa yang tidak senantiasa khauf (takut kepada Allah) dia adalah tertipu” (Raudlatuth Thalibin – Taman Para Santri 1 : 3-4)

أَلَا لِيَقُلْ مَا شَاءَ مَنْ شَاءَ إِنّماَ # يُلاَمُ الفَتىَ فِيْمَا اسْتَطَاعَ مِنَ اْلأَمْرِ

“Ungkapkanlah apa yang ingin diungkapkan. (Jangan ragu) pemuda memang selalu dicemooh lantaran kecakapannya”

“Bila saat shalat tidak bisa merasakan Allah bersama kita, bagaimana mungkin bisa merasakan kebersamaan Allah di luar shalat”

اعلم أن مذهبَ أهل الحق من المحدّثين والفقهاء والمتكلمين من الصحابة والتابعين ومن بعدهم من علماء المسلمين أن جميع الكائنات خيرها وشرَّها، نفعَها وضَرّها كلها من الله سبحانه وتعالى، وبإرادته وتقديره

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya Madzhab Ahlul haqq dari kalangan ahli hadits , ahli fiqih , ahli ilmu kalam dari kalangan shahabat , tabi’in dan orang-orang sesudah mereka dari kalangan Ulama’nya umat Islam adalah sesungguhnya semua yang ada (terjadi) , yang baik , yang buruk , yang manfaat , yang madlorrot , semuanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dengan Irodah (Kehendak)Nya dan TaqdirNya” (Al-Adzkar | Imam al-Nawawiy al–Syafi’iy al-Asy’ariy)

لا تحتقر من دونك فلكلّ شيئ مزيّة

“Jangan menghina seseorang yang lebih rendah daripada kamu, karena setiap orang mempunyai kelebihan”

لا تحقرن من المعروف شيئا

“Jangan remehkan sedikitpun dari suatu kebaikan yang diperoleh”

“Sebarkanlah Islam yang damai dan ramah | bukan menyebarkan amarah dan kebencian”

لولا مربي ما عرفت ربي

“Andai tidak ada guru pembimbingku niscaya aku tidak akan tahu siapa Tuhanku”

“Dalam berdakwah, para mubaligh harusnya mempunyai parameter keberhasilan untuk mengukur sejauh mana materi dakwah yang disampaikan telah mencapai harapan. Berdakwah tidak cukup hanya memberikan materi dakwah tanpa memperdulikan kemajuan jama’ahnya”. (Prof. Dr.Yunahar Ilyas, LC, M.Ag | Ketua PP Muhammadiyah)

“Mempublikasikan dakwah itu bukan riya’. Kita harus ceritakan kegiatan kita pada media, koran, televisi, majalah, internet. Karena sarana dakwah yang paling efektif saat ini adalah media,“ (DR. KH Marsudi Syuhud, Sekjend Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)

“Aku melihat menyibukkan diri dengan fiqah dan dengan mendengar hadis tidak cukup untuk merawat hati melainkan ilmu itu digabungkan dengan perkara-perkara yang melembutkan hati dan membaca cerita sejarah orang soleh. Adapun mengetahui perkara halal dan haram bukanlah satu peranan yang besar di dalam melembutkan hati. Sesungguhnya yang melembutkan hati ialah dengan menyebut cerita-cerita yang menyentuh hati dan cerita-cerita orang soleh kerana mereka ialah golongan memahami maksud daripada hadis-hadis yang dinukil. Mereka keluar daripada zahir cerita kepada aspek rohani dan sentimen cerita-cerita tersebut. Tidaklah aku ceritakan perkara ini melainkan untuk merawat dan mengubat kerana aku melihat pelajar-pelajar yang belajar hadis, minat mereka hanya pada mendapat sanad hadis yang tinggi dan minat fuqaha ialah untuk memperhebatkan pendebatan mereka.” (al-Hafidz Imam Ibnul Jauzi al-Hanbali)

“Setiap perjuangan pasti ada tantangan. Jika tidak berani menghadapi tantangan, jangan berjuang. Tapi hidup sendiri pun adalah perjuangan” (KH. Abdurrahman Navis, Lc. MHI, Direktur ASWAJA NU Center PW NU Jawa Timur)

“Janganlah karena kelambatan pemberian karunia dari Allah sedangkan engkau telah bersungguh sungguh berdoa, membuat kamu berputus asa. Sebab Allah telah menjamin untuk mengabulkan semua doa, menurut apa yang dipilihNya untuk kamu, bukan menurut kehendakmu, pada waktu yang ditentukan oleh Nya bukan waktu yang kamu tentukan. (Al- Hikam | Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari)

”Jika engkau dengan ilmu yang kau dapati tidak engkau amalkan. Maka, untuk apa engkau mencari ilmu yang tidak engkau ketahui?.” (Imam Al Ghazali – Ihya Ulumuddin, 1/94)

“Menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, tidak boleh dengan membuat kemungkaran yang baru. Inilah yang jadi pegangan kita. Islam menentang perbuatan yang anarkis” (Prof. Dr. KH. Ali Mustofa Ya’kub, MA (Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadits Darussunnah | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta)

“Islam tidak pernah mengamanatkan anarkisme, apalagi membunuh pemeluk agama lain hanya karena berbeda agama” (Prof. Dr. KH. Ali Mustofa Ya’kub, MA (Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadits Darussunnah | Rais Syuriah PBNU bidang Fatwa)

والعمل الصالح هو وصف عام لك عمل يفيد العباد والبلاد وينفع المجتمع والفرد في الحال والإستقبال
“Adapun amal salih adalah sifat yang umum pada setiap perbuatan yang memberi faidah kepada sesama hamba dan negara, dan memberi manfa’at kepada masyarakat baik individu, sekarang dan masa datang” (Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari)

“Dalam Islam ada ajaran bahwa kearifan-kearifan itu tidak hanya di Mekkah dan Madinah. Hikmah juga terdapat di mana-mana.Hikmah adalah sesuatu yang dicari-cari oleh seorang muslim, maka di mana pun hikmah itu didapatkan, maka muslim itulah yang berhak mengambil hikmah itu. Maka kearifan ada di Jawa, Kalimantan, Sumatera, China, Amerika, Eropa, dan tempat lain”. (KH. A. Malik Madany)

“Pengakuan akan kebesaran seorang ulama tidak cukup ditentukan oleh pengetahuan dan ilmu yang dimiliki, tetapi bagaimana peran yang dijalankannya di masyarakat.” (H Miftah Fakih – Sekretaris Rabithah Ma’ahid Islamiyah/Persatuan Pondok Pesantren (RMI))

“Pemuda yang tidak mengalami payahnya mendalami ilmu agama (hanya belajar instan), tidak akan bisa menghargai ilmu dan ahli ilmu (Ulama)”

“Islam berkait dengan kata salam, as-silmu, as-salmu, dan as-salam yang semuanya mengacu pada pengertian keselamatan dan kedamaian. Islam juga masuk ke Nusantara ini, khususnya ke Jawa, dengan cara-cara yang damai, dan itu sesuai dengan karakteristik dan jatidiri agama Islam. Di samping itu Islam juga mengacu pada pengertian kepasrahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, dan pada aturan-aturan yang digariskan oleh Allah SWT”. (KH A. Malik Madani)

“Kalau badan membutuhkan makan, maka ruhani juga demikian. Kalau ruhani jarang diberi makan, maka bisa kering dan tumpul, alias tidak berguna.”(Kiai Sa’dan – Bantul)

Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya perkataan Subhanallah walhamdu Lillaah wa Laa Ilaaha Ilallah wallahu Akbar menggugurkan dosa seperti pohon menggugurkan daunnya. (Al Hadits)

تَزَوَّجُوا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ النَّبِيِّينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا تَكُونُوا كَرْهَبَانِيَةِ النَّصَارَى

“Menikahlah kalian, sesungguhnya diriku akan berbangga dengan banyaknya umatku dihadapan nabi-nabi pada hari Qiyamat, dan janganlah kalian seperti rahib-rahib Nasrani” (HR. Al Baihaqi)

أوْلى النَّاسِ بي يَوْمَ القِيامَةَ أَكْثَرُهُمْ عَليَّ صَلاةً

“Manusia yang paling utama bagiku kelak di hari qiyamat adalah yang paling banyak mengucapkan shalawat kepadaku” (HR. At-Turmidzi)

“Janganlah sekali-kali engkau meremehkan suatu perbuatan baik walaupun hanya menyambut saudaramu dengan muka yang manis” (HR. Muslim)

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”. (Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari)

رجعتم من الجهاد الاصغر الى الجهاد الأكبر فقيل وماجهاد الأكبر يارسول الله؟ فقال جهاد النفس

Rasulullah SAW bersabda : “Kalian semua pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran besar. Lalu ditanyakan kepada Rasulullah saw. Apakah pertempuran besar wahai Rasulullah? Rasul menjawab “jihad (memerangi) hawa nafsu”.

إنما هلك أمتى باتباع الهوى وحب الثناء و حب الدنيا

Rasulullah SAW bersabda : “Bahwasannya kehancuran umatku karena menuruti hawa nafsu, senang dipuji dan cinta dunia”.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلاَلِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلاَ لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى. (رواه أحمد والبيهقي والهيثمي)

“Wahai manusia, ingatlah, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu juga satu. Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain. Tidak ada kelebihan bangsa lain terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit hitam terhadap orang yang berkulit merah, tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah terhadap yang berkulit merah, kecuali dengan taqwanya..” (HR. Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Haitsami)

يأتي على الناس زمان همتهم بطونهم وشرفهم متاعهم وقبلتهم نساؤهم ودينهم دراهمهم ودنانيرهم أولئك شر الخلق لا خلاق لهم عند الله

“Akan datang kepada manusia di mana perhatianya adalah perutnya, kebanggaan mereka adalah harta (benda) qiblatnya adalah wanita, agama mereka adalah uang dirham dan dinar, mereka itulah makhluk paling jelek dan tidak mendapat bagian di sisi Allah.” (Al Hadits)

من أكثر من الاستغفار جعل الله له من كل هم فرجا ومن كل ضيق مخرجا ورزقه من حيث لا يحتسب

“Barang siapa yang memperbanyak baca istighfar maka Allah swt akan mengubah kesusahan orang itu menjadi kebahagiaan dan mengeluarkannya dari keprihatinan, serta memberinya rizqi dari arah yang tidak disangkanya.” (Al hadits)

عليكم بالجماعة فإن يد الله على الجماعة ومن شذ شذ فى النار

“Tetapi wajiblah kamu bersama-sama jama’ah karena kekuatan/pertolongan Allah terletak pada jama’ah dan barang siapa menyendiri (pengenyahan diri) maka dia akan sendirian di neraka” (Al Hadits)

إن الله لن يجمع أمتى على ضلالة

“Seseungguhnya Allah tidak mengumpulkan umatkan (Islam) terhadap suatu kesesatan’. (Al hadits)

عن أنس بن مالك إن عمر بن خطاب كان إذا قطحوا استسقى بالعباس بن عبد المطلب فقال : اللهم إنا كنا نتوسل إليك بنبينا فتسقينا وإنا ننتوسل إليك بعم نبينا فاسقنا قال : فيسقون (أخرجه الإمام البخارى فى صحيحه ج: 1 ص:137 )

“Dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Abbas berkata:”Ya Tuhanku sesungguhkan kami bertawassul (berperantara) kepadamu melalui nabi kami maka turunkanlah hujan dan kami bertawassul dengan paman nabi kami maka turunkanlau hujan kepada, lalu turunlah hujan”. (Imam Al Bukhari)

أفضل الايمان : الصبر و السماحة

“Seutama-utamanya iman adalah sabar dan toleransi” (Hadits Shohih dari kitab Faidhul Qadir Syarah al-Jami’ush Shaghir jilid 2 halaman 29)

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jika salah seorang dari kalian akan mengenakan sandal, hendaknya memulai dengan kaki kanannya. Dan apabila akan melepasnya, hendaknya memulai dengan kaki kirinya”. [Muttafaqun alaihi]

ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس

“Bukanlah yang dikatakan kaya itu dengan banyaknya harta, akan tetapi kaya itu adalah kaya hati” (Al Hadits)

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh manusia adalah pasukan yang besar. Selagi ruh-ruh itu saling mengenal maka mereka akan bersatu padu. Dan selagi ruh-ruh itu saling mengingkari, maka mereka akan berselisih”. (HR. Imam Al Bukhari)

إنّ مِنْ أُمّتِي مُكَلَّمِيْنَ وَمُحَدَّثِيْنَ، وَإنّ عُمَرَ مِنْهُمْ

“Sesungguhnya dari umatku terdapat Mukallamin dan Muhaddatsin [diberi karunia oleh Allah untuk mengetahui beberapa rahasia], dan sesungguhnya ‘Umar adalah termasuk dari mereka” (Al Hadits)

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم)

“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR. Imam Muslim)

أكثروا من ذكر هادم اللذات يعني الموت

“Perbanyaklah kalian mengingat penghancur kelezatan yaitu kematian” (HR. Imam At-Turmidzi)

وإن أحب الأعمال إلى الله ما دووم عليه وإن قل

“Dan sesungguhnya amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus menerus dirutinkan meskipun sedikit” (HR. Muslim)

لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ : الثَّيِّبُ الـزَّانِيْ ، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ ، وَالتَّارِكُ لِدِيْنِهِ الْـمُـفَارِقُ لِلْجـَمَاعَةِ

Rasulullah Saw bersabda: “Tidak halal darah seorang muslim, kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang berzina padahal ia sudah menikah, membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah (kaum muslimin)” (HR. Al Bukhari – Muslim)

لو أجمع أهل السموات والأرض على قتل رجل مسلم، لأكبهم الله في النار

“Seandainya penduduk langit dan bumi bersatu untuk membunuh seorang muslim, maka Allah benamkan mereka semua di neraka” (HR. Ath Thabrani)

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Sabda Rasulullah SAW; “Barangsiapa yang mengucapkan sholawat kepadaku satu kali, maka Allah mengucapkan sholawat kepadanya sepuluh kali” (Al Hadits)

لزوال الدنيا أهون عند الله من قتل رجل مسلم

“Hancurnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim” (HR. Tirmidzi dan An-Nasaa-i)

“Setiap perjuangan pasti ada tantangan. Jika tidak berani menghadapi tantangan, jangan berjuang. Tapi hidup sendiri pun adalah perjuangan” (KH. Abdurrahman Navis, Lc. MHI, Direktur ASWAJA NU Center PW NU Jawa Timur)

“Dakwah itu tidak hanya bil-maqal (ucapan), tapi juga bil-hal (perbuatan)”.  (Prof. DR. KH. Said Aqil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)

“Mempublikasikan dakwah itu bukan riya’. Kita harus ceritakan kegiatan kita pada media, koran, televisi, majalah, internet. Karena sarana dakwah yang paling efektif saat ini adalah media,“ (DR.KH Marsudi Syuhud, Sekjend Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)

“Remaja sebagai generasi muda calon pemimpin bangsa masa depan sudah terpengaruh dengan budaya-budaya di luar Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Hal ini tentunya memerlukan perhatian serius dari banyak pihak, agar terwujud generasi muda yang tangguh, handal, berkualitas dan berakhlak mulia” (Sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo,  M. Mascung Asy’ari)

 “Islam berkait dengan kata salam, as-silmu, as-salmu, dan as-salam yang semuanya mengacu pada pengertian keselamatan dan kedamaian. Islam juga masuk ke Nusantara ini, khususnya ke Jawa, dengan cara-cara yang damai, dan itu sesuai dengan karakteristik dan jatidiri agama Islam. Di samping itu Islam juga mengacu pada pengertian kepasrahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, dan pada aturan-aturan yang digariskan oleh Allah SWT”. (KH A. Malik Madani, Katib Aam PBNU)

“Mujahadah merupakan tradisi kaum santri. Dengan mujahadah, maka ruhani mendapatkan menu yang sangat lezat. Kalau badan membutuhkan makan, maka ruhani juga demikian. Kalau ruhani jarang diberi makan, maka bisa kering dan tumpul, alias tidak berguna.” (Kiai Sa’dan – Bantul)

“Pengakuan akan kebesaran seorang ulama tidak cukup ditentukan oleh pengetahuan dan ilmu yang dimiliki, tetapi bagaimana peran yang dijalankannya di masyarakat.” (H Miftah Fakih – Sekretaris Rabithah Maahid Islamiyah (RMI))

“Dalam Islam ada ajaran bahwa kearifan-kearifan itu tidak hanya di Mekkah dan Madinah. Hikmah juga terdapat di mana-mana.Hikmah adalah sesuatu yang dicari-cari oleh seorang muslim, maka di mana pun hikmah itu didapatkan, maka muslim itulah yang berhak mengambil hikmah itu. Maka kearifan ada di Jawa, Kalimantan, Sumatera, China, Amerika, Eropa, dan tempat lain”. (KH. A. Malik Madany, Katib Aam PBNU)

“Godaan hidup manusia itu banyak sekali. Sejak manusia diciptakan, godaan sudah ada. Manusia jangan sampai lengah dan terlena, karena dengan godaan hidup itulah, kualitas iman manusia semakin meningkat. | Manusia harus bermental baja, karena cobaan yang dihadapi manusia di jaman modern ini sangat beragam. Manusia jangan sampai terlena, karena bisa terbawa arus negatif yang merusak.  (KH Asyhari Abta, Rais Syuriah PWNU DIY)

“Kearifan lokal harus dijaga dan dikembangkan bersama-sama. Pengembangan itu dilakukan dengan menjaga dan melestarikan budaya bangsa, termasuk budaya Jawa” (KH Mustofa Bisri)

“Pesantren itu lembaga paling tua dalam pencetak kader akhlaq anak bangsa mulai merebut kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan” (Katib Syuriyah PBNU KH Muhammad Musthofa Aqil).

—————

Enam Fakta Api Neraka yang Buat Ingin Taubat

Di Ulas Oleh : Senandung Pelangi Senja

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mutiara Hikmah On Facebook — Neraka menjadi tempat di akhirat yang dipersiapkan bagi
pelaku keburukan selama hidup di dunia. Di dalamnya manusia akan menjalani beragam siksaan pedih sebagai bentuk balasan atas kejahatan yang pernah di lakukan.

Gambar Oleh : Senandung Pelangi Senja

Satu hal yang sangat identik dengan neraka adalah keberadaan api. Dengan panasnya yang menyala-nyala, semakin menambah pedih siksaan yang diterima. Dalam hadist dijelaskan jika api yang ada di dunia ini, hanya seperti bunga api akhirat nanti.

Sehingga tidak terbayangkan bagaimana tubuh luluh lantah karena panasnya. Enam fakta tentang api neraka berikut menjadi gambaran bagaimana Allah SWT tidak main-main. Dia memberitakan kabar ini, agar manusia senantiasa takut berbuat dosa sehingga terhindar dari api neraka. Apa saja faktanya? Berikut ulasannya.

1. Panas Api Neraka 70 Kali Api Dunia

Fakta pertama adalah api neraka panasnya 70 kali lipat dari api yang ada di dunia. Tidak terbayangkan bagaimana pedihnya siksaan ketika kita terlempar ke tempat ini. Pasalnya api dunia saja begitu menyiksa tatkala kobarannya menyentuh bagian tubuh. Bagaimana pula dengan tingkat panas yang mencapai 70 kali lipat dari api yang ada saat ini. Tentu sangat menyiksa. Hal ini dijelaskan dalan Hadist Riwayat Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

Abu Hurairah ra. menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya” Api yang biasa kalian nyalakan merupakan sebagian dari tujuh puluh bagian panasnya neraka jahanam”

“Ya Rasulullah, demi Allah sungguh api dunia ini benar-benar cukup panas,” ungkap para sahabat.

Nabi Muhammad SAW melanjutkan “Tetapi sungguh api neraka jahanam enampuluh sembilan kali lebih panas dibandingkan api dunia, yang masing-masing bagian sama panasnya
dengan api di dunia” (Hadist Riwayat Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

2. Panas Api Neraka Akibatkan Hitam dan Gelap

Nabi Muhammad SAW bersabda “Neraka dinyalakan selama seribu tahun hingga tampak merah. Lalu dinyalakan lagi selama seribu tahun sampai kelihatan putih. Kemudian dinyalakan selama seribu tahun sehingga terlihat hitam. Hingga sekarang neraka itu hitam dan gelap” (HR Tirmidzi).

3. Tinggi Gejolak Api Neraka

Api neraka menyala-nyala hingga bunga apinya tinggi mencapai empat puluh tahun perjalanan. Abu Sa’id ra menyatakan, Muhammad SAW bersabda “Sungguh tinggi gejolak api neraka itu empat buah tembok yang tebal-tebal. Tinggi masing-masing tembok seperti perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Tirmidzi).

4. Di Neraka Terdapat Bukit Api

Ternyata di dalam neraka terdapat bukit api. Bukit ini bernama Ash Shu-uud yang akan dinaiki oleh para orang kafir.

Nabi Muhammad SAW bersabda “Ash Shu-uud adalah sebuah bukit api. Orang kafir menaikinya selama tujuh puluh tahun, kemudian ia terjatuh dari atasnya. (Lalu naik lagi ke atas dan terjatuh lagi) demikian seterusnya” (HR Tirmidzi).

5. Uap Panas Neraka yang Berhembus ke Dunia

Nabi Muhammad SAW bersabda “Neraka mengadu kepada Tuhannya. Ia berkata, ‘Wahai Tuhanku, sebagian dariku memakan (membakar) sebagian yang lain’. Maka Allah SWT mengizinkan neraka untuk mengeluarkan uapnya sebanyak dua kali lipat. Yakni pada musim dingin dan sekali pada musim panas. Uap tersebut adalah rasa panas yang sangat yang kalian rasakan (pada musim panas) dan rasa dingin yang paling menggigit yang kalian rasakan (pada musim dingin).” (HR Lima Ahli Hadist)

6. Salah Satu Bentuk Api Neraka

Ternyata, api neraka memiliki bentuk. Salah satu bentuknya adalah menyerupai leher yang memiliki mata, telinga dann dapat berbicara.

Nabi Muhammad SAW bersabda “Pada hari kiamat kelak akan muncul dari neraka api yang berbentuk leher. Ia memiliki dua mata yang dapat melihat, dua telinga yang dapat mendengar dan lisan yang dapat berbicara. Ia katakan , “Aku ditugaskan mengambil tiga macam orang, yaitu orang yang berlaku sewenang-wenang dan keras kepala, orang yang menyembah Tuhan lain disamping Allah, dan orang yang membuat patung-patung,” (HR. Tirmidzi).

Wallahu a’lamu bishshowab.

* * * * *

Gambar Oleh : 1.bp.blogspot.com

Ketetapan Rizki, Aajal, Amal, Kecelakaan Dan Kebahagiaan

Bismillahirrahmanirrahim

Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga  maka masuklah dia ke dalam surga. (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

1.     Allah ta’ala mengetahui tentang keadaan makhluknya sebelum mereka diciptakan dan apa yang akan mereka alami, termasuk masalah kebahagiaan dan kecelakaan.

2.     Tidak mungkin bagi manusia di dunia ini untuk memutuskan bahwa dirinya masuk surga atau neraka, akan tetapi amal perbutan merupakan sebab untuk memasuki keduanya.

3.     Amal perbuatan dinilai di akhirnya. Maka hendaklah manusia tidak terpedaya dengan kondisinya saat ini, justru harus selalu mohon kepada Allah agar diberi keteguhan dan akhir yang baik (husnul khotimah).

4.     Disunnahkan bersumpah untuk mendatangkan kemantapan sebuah perkara dalam jiwa.

5.     Tenang dalam masalah rizki dan qanaah (menerima) dengan mengambil sebab-sebab serta tidak terlalu mengejar-ngejarnya dan mencurahkan hatinya karenanya.

6.     Kehidupan ada di tangan Allah. Seseorang tidak akan mati kecuali dia telah menyempurnakan umurnya.

7.     Sebagian ulama dan orang bijak berkata  bahwa dijadikannya pertumbuhan janin manusia dalam kandungan secara berangsur-angsur adalah sebagai rasa belas kasih terhadap ibu. Karena sesungguhnya Allah mampu menciptakannya sekaligus.
Pembahasan

Manusia hanya merencanakan tapi segala ketentuan berada  di tangan Allah, itu kalimat yang sering kita dengar bahkan kita ucapkan yang menggambarkan kelemahan manusia dan keperkasaan Allah. Memang manusia sangat tidak berdaya terhadap ketentuan hidupnya karena semuanya berada dalam genggaman yang Maha Kuasa, apakah ada kekuasaan manusia terhadap kelahiran, rezeki, jodoh dan  kematiannya, kita hanya sebagai wayang [pemain] yang menjalankan scenario kehidupan ini yang telah ditentukan Allah.
Banyak mungkin diantara kita yang masih berpendapat bahwa Rezeki, Ajal, serta jodoh telah ditetapkan oleh Allah semenjak kita masih di dalam kandungan. Pemikiran seperti ini mungkin telah mendarah daging di dalam diri kita.
Apalagi kiranya sejak kecil mungkin orang tua, guru, dan lingkungan masyarakat dimana tempat kita hidup pun kalimat ini sampai sekarang masih sangat familiar diulang-ulang.

Ar-Rizqu (rezeki) secara bahasa berasal dari akar kata razaqa–yarzuqu–razq[an] wa rizq[an]. Razq[an] adalah mashdar yang hakiki, sedangkan rizq[an] adalah ism yang diposisikan sebagai mashdar. Kata rizq[an] maknanya adalah marzûq[an] (apa yang direzekikan); mengunakan redaksi fi’l[an] dalam makna maf’ûl (obyek) seperti dzibh[an] yang bermakna madzbûh (sembelihan).

Secara bahasa razaqa artinya a’thâ (memberi) dan ar-rizqu artinya al-‘atha’ (pemberian).

1. Menurut ar-Razi dan al-Baydhawi, secara bahasa ar-rizqu juga berarti al-hazhzhu (bagian/porsi), yaitu nasib (bagian) seseorang yang dikhususkan untuknya tanpa orang lain.Karena itu, Abu as-Saud mengartikan ar-rizqu dengan al-hazhzhu al-mu’thâ (bagian/porsi yang diberikan).

2 Menurut Ibn Abdis Salam dalam tafsirnya, asal dari ar-rizqu adalah al-hazhzhu (bagian/porsi). Karena itu, apa saja yang dijadikan sebagai bagian/porsi (seseorang) dari pemberian Allah adalah rizq[an].
Selain itu, ar-rizqu juga diartikan apa saja yang bisa dimanfaatkan. Dari semuanya itu, ar-rizqu bisa diartikan sebagai: bagian/porsi dari pemberian Allah kepada seorang hamba berupa apa saja yang bisa dimanfaatkan sebagai bagian/porsi yang dikhususkan untuknya.

Ayat-ayat tentang rezeki lebih banyak menunjuk pada harta baik berupa barang maupun jasa yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi aneka kebutuhan manusia. Konteks ayat-ayat bahwa Allah meluaskan dan menyempitkan rezeki juga lebih menunjuk pada konotasi harta.
Banyak orang menduga, merekalah yang mendatangkan rezeki mereka sendiri. Mereka menganggap kondisi-kondisi mereka meraih harta —barang atau jasa—sebagai sebab datangnya rezeki; meskipun mereka menyatakan, bahwa Allahlah Yang memberikan rezeki. Profesi atau usaha yang dicurahkan mereka anggap sebagai sebab datangnya rezeki.

Fakta yang ada sebenarnya cukup jelas menunjukkan kesalahan anggapan itu. Banyak orang yang telah berusaha dengan segenap tenaga dan pikirannya, tetapi rezeki tidak datang, bahkan tidak jarang justru merugi.

Sebaliknya, sangat banyak fakta bahwa rezeki datang kepada seseorang tanpa dia melakukan usaha apapun. Ini menunjukkan bahwa usaha bukan sebab bagi datangnya rezeki. Rezeki tidak berada di tangan manusia. Allahlah yang menentukan rezeki itu datang kepada manusia dan Dia memberinya kepada manusia menurut kehendak-Nya.

Keimanan tentang rezeki itu menjadi salah satu kunci seorang tidak akan tersibukkan dengan dunia, tidak menjadi pemburu harta, bisa bersikap zuhud, giat beramal, berdakwah amar makruf nahi mungkar dan ketaatan pada umumnya. Imam Hasan al-Bashri pernah ditanya tentang rahasia zuhudnya. Beliau menjawab, “Aku tahu rezekiku tidak akan bisa diambil orang lain.Karena itu, hatikupun jadi tenteram. Aku tahu amalku tidak akan bisa dilakukan oleh selainku. Karena itu, aku pun sibuk beramal. Aku tahu Allah selalu mengawasiku. Karena itu, aku malu jika Dia melihatku di atas kemaksiatan. Aku pun tahu kematian menungguku. Karena itu, aku mempersiapkan bekal untuk berjumpa dengan-Nya.”.

Lafadz “jodoh” adalah kata yang dipakai dalam bahasa Indonesia untuk menunjuk makna tertentu. Lafadz ini berbeda dengan lafadz suami, istri, pasangan hidup atau yang semisal dengannya. Lafadz jodoh menurut kamus bahasa Indonesia adalah “pasangan yang cocok” baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Oleh karena itu lafadz jodoh memiliki makna yang lebih spesifik dari lafadz suami, istri, atau pasangan hidup, sebab di sana terdapat penjelasan sifat lebih khusus dari sekedar pasangan hidup. Dalam bahasa Arab, kata yang bermakna “jodoh” seperti yang terdapat dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan.

Para Fuqaha’ ketika membahas hukum pernikahan hanya menyebut istilah ( زَوْجٌ ) atau( بَعْلٌ ) untuk suami, dan ( زَوْجَةٌ ) atau ( امْرَأَةٌ ) untuk istri, yakni istilah-istilah yang berkonotasi “netral” tanpa ada penekanan sifat tertentu sebagaimana kata suami, istri, atau pasangan hidup dalam bahasa Indonesia.

Adapun makna jodoh yang menjadi topik diskusi di sini adalah “orang atau individu tertentu yang akan menjadi pasangan hidup kita”, dengan titik diskusi: Apakah Allah telah menentukan dalam Lauhul Mahfudz, sebelum manusia dilahirkan bahwa ia akan dipasangkan dengan individu tertentu ataukah tidak? Artinya apakah Allah sudah mentakdirkan dalam Azal bahwa A akan dipasangkan dengan B, C dipasangkan dengan D, ataukah tidak?

Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu harus dilakukan studi yang mendalam terhadap nash-nash yang terkait dengan topik tersebut berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah atau dalil yang ditunjuk keduanya seraya mengesampingkan semua dasar yang tidak terkait dengan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah baik ia berupa adat, tradisi, pameo, peribahasa, dsb.

Hanya saja, pembahasan tentang jodoh termasuk perkara Qadha’ atau bukan tidak boleh dicampur adukkan dengan pembahasan keimanan bahwa Allah adalah ( اْلمُدَبِّرُ ) (Maha Pengatur). Sebab, pembahasan “jodoh termasuk perkara Qadha’ atau bukan” adalah satu hal, sementara pembahasan tentang keimanan bahwa Allah bersifat ( اْلمُدَبِّرُ ) adalah hal yang lain.

Dari sini bisa difahami, bahwa langkah yang harus dilakukan untuk menjawab persoalan jodoh adalah mencari dalil yang menunjukkan bahwa Allah telah menetapkan pasangan hidup manusia sebelum mereka diciptakan. Dalil itupun harus bersifat ( قَطْعِيٌّ ) baik ( قَطْعِيُّ الثُّبُوْتِ ) (pasti sumbernya) maupun ( قَطْعِيُّ الدَّلاَلَةِ ) (pasti penunjukan maknanya).

Setelah dilakukan kajian terhadap persoalan ini, nyatalah bahwa tidak ada nash baik dalam al-Qur’an mapun as-Sunnah, juga Ijma’ sahabat dan Qiyas yang menunjukkan bahwa Allah menetapkan calon pasangan seseorang. Bahkan nash-nash yang ada menunjukkan bahwa persoalan ini adalah masalah mu’amalah biasa yang berada dalam area yang dikuasai manusia.

Artinya persoalan menentukan pasangan hidup adalah hal yang bersifat pilihan, yang manusia bertanggung jawab di dalamnya dan dihisab atasnya. Dalil yang menunjukkan bahwa menentukan pasangan hidup adalah pilihan manusia adalah:Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. (An-Nisa;4).
Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya dia berkata: Seorang gadis datang kepada Nabi Saw. Kemudian ia berkata: Sesungguhnya ayahku menikahkan aku dengan putra saudaranya untuk mengangkat derajatnya melalui aku. Maka Nabipun menyerahkan keputusan itu pada gadis tersebut. Maka gadis itu berkata: Aku telah mengizinkan apa yang dilakukan ayahku, akan tetapi aku hanya ingin agar para wanita tahu bahwa para ayah tidak punya hak dalam urusan ini. (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i).
Dalam hadis di atas, Nabi memberi kebebasan penuh pada gadis tersebut untuk memutuskan apakah melanjutkan pernikahannya ataukah membatalkannya. Ini menunjukkan bahwa menentukan calon suami adalah hak penuh bagi wanita dan merupakan pilihan dia semata-mata.
Dalil lain yang mendukung adalah adanya syari’at talak. Talak adalah pembubaran akad nikah. Syari’at talak memungkinkan seseorang yang menjadi pasangan hidup orang lain untuk berpisah pada satu waktu tertentu dengan sebab-sebab tertentu. Karena itu mustahil dikatakan bahwa seseorang sudah dipasangkan dengan orang tertentu jika ternyata syara’ memberikan suatu mekanisme untuk membubarkan akad nikah.
Secara bahasa kata ajal berasal dari kata: ajila–ya‘jalu–ajal[an]. Menurut al-Khalil al-Farahidi dalam Kitâb al-‘Ayn dan ash-Shahib ibn ‘Abad di dalam Al-Muhîth fî al-Lughah, dikatakan ajila asy-syay‘u ya‘jalu wahuwa âjilun artinya naqîdu al-‘âjil (lawan dari segera). Dengan demikian, al-ajal (bentuk pluralnya al-âjalu) secara bahasa artinya terlambat atau tertunda.

Masalah ajal ini persis seperti masalah rezeki. Ajal dan umur tiap orang telah ditetapkan oleh Allah. Allah SWT juga menegaskan tidak akan memajukan atau menangguhkan ajal seseorang. Allah tidak akan menambah atau mengurangi jatah umur seseorang. Dalam QS al-Munafiqun [63]: 11, Allah mengungkapkan dengan kata lan yang merupakan penafian selama-lamanya (Lihat pula QS. Fathir [35]: 11).

Datangnya ajal adalah pasti, tidak bisa dimajukan ataupun dimundurkan. Berjihad, berdakwah, amar makruf nahi mungkar, mengoreksi penguasa, dsb, tidak akan menyegerakan ajal atau mengurangi umur. Begitu pula berdiam diri, tidak berjihad, tidak berdakwah, tidak mengoreksi penguasa, tidak beramar makruf nahi mungkar, dan tidak melakukan perbuatan yang disangka berisiko mendatangkan kematian, sesungguhnya tidak akan bisa memundurkan kematian dan tidak akan memperpanjang umur. Semua itu jelas dan tegas dinyatakan oleh ayat-ayat al-Quran seperti di atas.

[disarikan dari ,Antara Rezeki, Jodoh dan Ajal, Adi VictoriaAl_ikhwan1924@yahoo.com,Senin, 29/11/2010 13:37 WIB].

            Ketentuan dan ketetapan Allah kita kenal dengan taqdir yang akan dijalani manusia sepanjang kehidupannya, ada memang perdebatan dikalangan ulama tentang taqdir dan ketentuan, tapi yang jelas segala yang terjadi pada makhluk Allah sebagai ketentuan bagi manusia yang akan dijalaninya.

Hampir dipastikan, kita semua tidak pernah bisa meraba bagaimana rupa takdir kita ke depan. Segala sesuatunya adalah misteri bagi kita. Acap kali kejadian dan semua peristiwa terjadi begitu saja tanpa bisa direkayasa. Terkadang kita juga tidak berkuasa dengan amalan kita sendiri. Kegagalan, kesuksesan, kaya miskin, antara kehidupan dan kematian adalah mutlak milik Allah. Bahkan, di beberapa ayat diinformasikan, salah satunya dalam QS ash-Shaaffat, [37]: 96, bahwa kita dan semua amalan kita Allahlah pembuat skenarionya, “Wallahu khalaqakum wa maa ta’maluun”.

Meski pembuat skenario semuanya adalah Allah SWT, tapi hal yang tidak bisa dinapikan adalah bahwa banyak amalan yang bisa menentukan arah keberpihakan takdir-Nya. Pertama, doa. Sebuah hadis, Laa yaruddul qadhaa-a illa biddu’a, tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa. Jika kita menghendaki kegagalan beralih kepada kesuksesan, maka ubahlah di antaranya dengan doa. Kenapa? Karena Allah sangat mencintai hamba-Nya yang banyak minta kepada-Nya. Dalam hadis lain disebutkan, “Innallaaha yuhibul mulihhiina biddu’a.” Karena Allah mencintai hamba-Nya, maka akan mudah bagi-Nya mengubah apa pun dari semua ciptaan-Nya. Cukup dengan mengatakan, “Jadilah!” Maka, “Terjadilah.” (QS Yaasiin [36]: 82).

Ketahuilah, doa telah terbukti menjadi senjata yang cukup menentukan bagi orang-orang yang beriman. Sabda Nabi SAW, “ad-Du’au silahul mu’miniin.” Doa adalah senjata orang yang beriman. Di antara petikan sejarah yang mampir di telinga kita adalah cerita keajaiban senjata doa Ibrahim ‘alaihis salam ketika dipanggang di api unggun raksasa. Saat itu Raja Namrudz memerintahkan punggawa kerajaan untuk mengumpulkan kayu bakar dan disulutkan api raksasa. Lalu Ibrahim diletakkan di atasnya.
Saat itu Ibrahim-seorang hamba pilihan-Nya yang memiliki sebuah keyakinan dan kepasrahan total kepada Sang Khalik- sudah tidak memiliki daya apa pun kecuali senjata doa. Tidak lama, Allah pun kemudian menghadirkan takdir lain dari api, yaitu dingin dan turut membantu menyelamatkan Ibrahim as. “Hai api, jadilah dingin dan selamatkan Ibrahim.” (QS al-Anbiyaa [21]: 69).  

Kekuatan doa itu pula yang dibuktikan oleh Nabi Musa dan para pengikutnya ketika mereka terdesak di Laut Merah saat dikejar oleh pasukan Firaun. Hukum alam air yang tidak mungkin terbelah dan terpisah, ternyata kala itu tidak berfungsi. Bersamaan dengan doa, air membelah dirinya dan mempersilakan Musa dan pengikutnya lewat. Musa pun selamat, justru Firaun dan semua pasukannya terkubur di dasar Lautan Merah.

Doa adalah sebuah kekuatan (the power). Bahkan, dalam doa berhimpun berbagai kekuatan untuk menghadirkan puncak harapan setiap hamba.” Jika hamba-Ku bertanya tentang Aku, sungguh Aku teramat dekat. Aku akan memenuhi permintaanmu jika kamu memohon (berdoa) dan beriman kepada-Ku” (QS al-Baqarah [2]: 186).

[RepublikaOnline, Damanhuri,Amalan yang Mewarnai Penentuan Takdir,Jumat, 04 Juni 2010, 09:54 WIB].
   
   Dari Salman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Tak ada yang dapat menolak takdir selain doa, dan tak ada yang dapat memperpanjang umur selain kebajikan.” (HR. At-Tirmidzi,. Al-Albani menganggapnya hasan lighairih dalam Shahih At-Targhib).
Ada beberapa hadits lain yang senada dengan ini dan menunjukkan bahwa takdir bisa dicegah dengan doa, tapi semuanya dha’if. Sedangkan hadits ini derajatnya hasan, sehingga bisa dipakai sebagai hujjah.
Bagaimana doa bisa menolak takdir padahal takdir sudah ditentukan?
Jawabnya, Allah Tabaraka wa Ta’ala telah menciptakan takdir dan menciptakan pula sebabnya. Allah maha tahu apa yang akan terjadi nanti dan Ia tidak mungkin lupa atau kecolongan sehingga mengubah keputusan-Nya yang telah lalu. Tapi itu semua berada dalam dimensi ilahiyyah yang tak mungkin bisa diselami akal manusia yang serba terbatas ini. Maka tak perlu membahas masalah tersebut lebih lanjut.

Manusia hanya diperintahkan untuk melakukan sebab. Bila ingin mendapatkan rezki harus bekerja, tidak mungkin bisa kaya dengan bermalas-malasan. Nah, kerja adalah sebab dan rezki memang di tangan tuhan. Hanya orang kurang akal yang mengatakan, “Ah, buat apa bekerja bukankah rezki di tangan tuhan. Jadi, kalau saya sudah ditakdirkan kaya, maka saya akan kaya dengan sendirinya.”
Demikianlah doa, ia merupakan sebab yang diciptakan Allah untuk memperoleh keuntungan dan menolak kerugian, sama seperti kerja yang diciptakan sebagai sebab untuk mendapat kekayaan.

Kesimpulannya, takdir sudah ditetapkan dan tidak akan berubah dalam dimensi Allah. Ia hanya akan berubah dalam dimensi manusia. Manusia tidak boleh tahu apa yang sudah diputuskan Allah, tapi hanya harus berusaha untuk mendapatkan yang terbaik. Dan, Allah telah menunjukkan jalan terbaik untuk selamat dari keburukan yang kemungkinan besar akan terjadi, yaitu dengan doa. Itulah takdir dalam dimensi manusia, sesuatu yang sudah dipastikan akan terjadi, sehingga secara logika tak mungkin tertolak. Misalnya, ada yang sakit dan menurut dokter tinggal menunggu waktu saja dan tidak mungkin disembuhkan. Tapi, dengan doa siapa tahu terjadi keajaiban dan yang bersangkutan ternyata sembuh. Inilah maksud doa menolak takdir.[Republika Online, Anshari Taslim, Doa Menolak Takdir,Sabtu, 30/04/2011 06:15 WIB].
 
            Satu ketika Umar bin Khattab memerintahkan pasukannya untuk mengalihkan perjalanan kesuatu tempat yang aman dari musibah, salah seorang sahabat memprotes kebijakan itu dengan mengatakan,”Kenapa kita alihkan tujuan kita ke tempat lain, walaupun disana diserang wabah, kita tawakkal kepada Allah, kalau Allah tidak berkenan maka kita tidak akan terkena wabah itu”, mendengar itu Umar bin Khattab menjawab,”Kita sedang mencari takdir yang lebih baik, kalau kita ke tempat semula berarti kita mencari takdir yang buruk”. Artinya ada takdir yang bisa kita rubah sesuai dengan kondisi alami.

Semua ciptaan Allah itu telah ditentukan kadar dan ukurannya sesuai dengan jenis makhluk yang diciptakan itu, setiap kandungan seorang ibu sesuai dengan kadar dan ukurannya itu akan lahir seorang bayi, selama hidup di dunia dalam batas waktunya kelak akan tua dan  meninggal dunia, selama proses tertentu pula awan yang mengandung air akan turun hujan untuk kehidupan dan penghidupan penghuni bumi, bahkan bakteri dan baksil yang masuk ke tubuh manusia, pada waktu dan ukuran tertentu akan menjadi penyakit yang mencelakakan manusia bila tidak ditanggulangi dengan pengobatan yang intensif, Allah menjelaskan dalam firman-Nya; “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” [QS. 54;49]

            Air dimanapun telah ditentukan ukurannya oleh Allah akan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah, api akan membakar karena memang demikian ukurannya, besi adalah benda keras yang sulit untuk ditembus oleh kekuatan manusia sedang busa akan mengapung di air karena ringannya dan itu sudah keputusan yang ditentukan oleh Allah sesuai dengan ukuran untuk benda-benda itu, wallahu a’lam [Cheras Kuala Lumpur Malaysia, 03 Rajab 1432.H/ 05 Juni 2011.M].

Wallahu a’lamu bishshowab

Gambar Koleksi Foto Kronologi Facebook

Mengapa Ada Ujian Dan Cobaan Dalam Hidup Ini ?

Kehidupan kita di alam dunia ini takkan sepi dari senang dan susah,takkan lepas dari rasa bahagia dan sedih.Memang perjalanan hidup takkan selamanya mulus,kadang naik dan kadang juga turun.

Salah jika kita selalu berkeyakinan bahwa hidup ini selalu tetap senang, selalu tetap bahagia, tetap kaya atau sebaliknya. Juga terus susah ,terus miskin, terus prihatin atau terus ada dalam kebingungan.

Dua kenyataan yang berpapasan dan terus-terusan gonta-ganti itu adalah seni nya hidup dan juga sunatullah di alam dunia ini.

Karena hidup adalah ujian dan cobaan,ujian dan cobaan untuk memperlihatkan keaslian,agar setiap manusia mengerti dan sadar yang bagaimana kalau yang asli dan mana yang palsu.

Untuk semua orang yang beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala,Maka Allah akan memberikan ujian dan cobaan dengan berbagai ujian dan cobaan,supaya mereka benar-benar iman nya dan amal soleh nya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”(QS. Al-Mulk: 2)

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan”Kami telah beriman” sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”(QS.Al-Ankabut ayat 2-3)

Pada kenyataannya ujian dan cobaan itu bukan hanya berupa kesusahan dan kesulitan ataupun penyakit,tapi ada juga yang berupa kesenangan dan kebahagiaan,entah itu dari harta benda dan kemewahan,atau pangkat dan jabatan.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati, Kami mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”(QS. Al-Anbiyaa: 35)

Ujian yang berupa harta benda serta berbagai macam kesenangan jika kita renungkan hakikatnya adalah ujian yang begitu berat daripada ujian yang sifatnya bencana,musibah atau siksaan.Dalam kenyataan hidup tidak sedikit orang yang banyak harta bendanya malah menjadi siksa bagi dirinya sebab tidak bisa menggunakan menurut cara yang wajar dan layak,kekayaan yang seperti itu adalah ujian bagi pemiliknya.Begitu juga dengan orang-orang yang di uji dengan kekuasaan,pangkat dan jabatan serta kemewahan.

Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Demi Allah,bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian, akan tetapi yang aku takutkan adalah jika dilapangkan kepada kalian dunia sebagaimana telah dilapangkan untuk orang-orang sebelum kalian, hingga kalian saling berlomba-lomba padanya sebagaimana mereka berlomba-lomba padanya, dan akan membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.”(HR.Bukhari-Muslim)

Ujian dan cobaan berupa kesenangan dan kemewahan yang sering menjadikan banyak orang menjadi berpindah jalan,mengakibatkan lupa diri,lupa bersyukur,malah segala yang di terima dan di hasilkan dari usaha seolah-olah hasil usaha sendiri tanpa bantuan yang lain,dan lebih parah lagi lupa kepada yang sebenarnya Maha Pemberi Rizki yaitu Allah Subhanahu Wata’ala.

Dalam kenyataan hidup banyak yang tidak menyadari bahwa kesenangan dan kemewahan adalah ujian,beda dengan orang-orang yang di uji dengan musibah,penyakit atau kesusahan,orang-orang banyak yang sadar bahwa itu adalah ujian,sampai mereka bisa sabar dan tabah sambil tidak putus berdo’a kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Dan seandainya mereka benar menerima ujian dengan sabar dan tabah,di samping mereka lepas dari musibah itu,dan akan mendapatkan kenikmatan sesudahnya.

Sebaliknya,yang di uji dengan kemewahan dan kesenangan bukan nya jadi sadar tapi malah jadi terlena dan tidak menyadari akan ujian yang di terima nya.

Tapi hal ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh memiliki harta benda atau kekuasaan,pangkat dan juga jabatan,tapi kita harus sadar bahwa itu semua adalah ujian untuk kita yang harus kita waspadai,agar lebih bisa hati-hati dalam menggunakan harta benda,begitu juga dalam masalah menggunakan kekuasaan,pangkat serta jabatan.

Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yg maha dahsyat bahayanya bagi lelaki kecuali fitnah wanita.”(HR.Bukhari)

Tegasnya ujian itu akan menimpa siapa saja,yang kaya atau kepada yang miskin,kepada pejabat atau karyawan,kepada penguasa atau rakyat biasa termasuk para ulama yang menjadi panutan umat juga di uji dengan ilmu nya,di uji keyakinannya juga ketabahannya dalam mengatur dan membimbing umat.Bahkan kita menyaksikan kejadian dari sebagian ada yang sudah meninggalkan fungsi keulamaan sebagai panutan umat dan masyarakat.

Berat dan ringan nya ujian itu cocok dengan tingkat serta kedudukan orangnya,bahkan diantara yang paling banyak dan berat menerima ujian adalah para Nabi,para sahabat,bahkan dimana iman semakin tambah dan semakin kuat ujian akan semakin berat.

Tapi seberat dan sehebat apapun ujian dan cobaan,Allah takkan memberikan ujian dan cobaan itu kecuali mereka sanggup untuk menanggungnya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

“Allah tidak akan membebani seseorang (hamba-Nya) melainkan sesuai dengan kemampuannya.’’(QS. Al-Baqarah: 286)

Semoga segala ujian dan cobaan yang di timpakan kepada kita bisa jadi pemicu agar kita benar-benar jadi orang mu’min yang sejati ,mengangkat derajat kita kepada tingkat orang yang suci,bisa memelihara hakikat kemanusiaan seperti di ciptakan ku Allah Subhanahu Wata’ala.

Dan semoga kita tetap tahan uji dalam menerima segala ujian dan cobaan serta di golongkan kedalam golongan orang-orang yang sabar,yang selamanya di berikan kebahagiaan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, Aamiin

26 Dosa Istri Pada Suami dan 32 Dosa Suami Pada Istri yang Jarang Diketahui

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mutiara Hikmah on Facebook
Salah satu sikap positif yang harus dikembangkan dalam kehidupan rumah tangga adalah kesediaan untuk selalu mengintrospkesi diri dan meminta maaf bila melakukakn kesalahan.

Kelapangan hati untuk mau mengakui semua kesalahan dan meminta maaf kepada pasangan hidupnya menjadi energi digdaya untuk mengharmoniskan hubungan suami-istri sehingga diantara suami-istri tidak terjadi ganjalan perasaan dan ketidakpuasan yang terpendam yang bisa mengganggu kemesraan dan keindahan hidup berumah tangga.

Gambar oleh : Senandung Pelangi Senja

Kebahagiaan dan ketenangan hidup terwujud dengan adanya hubungan pernikahan yang bahagia. Dan kebahagiaan pernikahan itu terwujud bila suami istri memiliki agama yang benar, akal yang sehat, dan akhlak yang mulia. Ditambah lagi dengan cinta yang tulus, saling memenuhi hak, dan masing-masing menyarankan pasangannya.

Bila masing-masing suami istri menunaikan kewajibannya secara sempurna sesuai dengan kesanggupannya, maka kebahagiaan dan kegembiraan akan terwujud, problematika akan hilang atau paling tidak berkurang.

Kondisi ini sangat berpengaruh pada kebaikan keluarga dan kekuatan umat.

Dalam tulisan ini, penulis mengangkat beberapa penjelasaan dari karya Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd dalam bukunya berjudul yang dikutip dari Mynewshub; 26 dosa istri dan 32 dosa suami yang meletarbelakangi beberapa kesalahan dan dosa yang mungkin istri dan suami lakukan.
Menyebutkan kesalahan bukan berarti kesalahan tersebut mencakup seluruh istri begitupun kepada suami.

Di antara mereka ada yang memiliki banyak kebaikan dan sedikit kekurangan. Juga tidak bermaksud agar suami istri membuat kesalahan tersebut sebagai media untuk menghitung-hitung aib istri dan suami.

26 Dosa Istri Kepada Suami:

1. berlebihan dan menuntut kesempurnaan

2. kurang memperhatikan orang tua suami

3. kurang mempercantik diri di hadapan suami

4. banyak berkeluh kesah dan kurang bersyukur

5. mengungkit ungkit kebaikan kepada suami

6. menyebarkan masalah rumahtangga kepada orang lain

7. kurang memperhatikan posisi dan status sosial suami

8. kurang membantu suami dalam kebajikan dan ketakwaan

9. membebani suami dengan banyak tuntutan

10. membuat suami risau dengan banyak menjalin hubungan

11. bersikap nusyuz terhadap suami

12. menolak ajakan suami berhubungan badan

13. lalai dalam melayani suami

14. memasukkan orang yang tidak diizinkan suami de dalam rumahnya

15. keluar dari rumah tanpa izin suami

16. menaati suami dalam kemaksiatan kepada Allah swt

17. cemburu berlebihan terhadap suami

18. buruknya perilaku isteri bila suamiberpoligami

19. lalai dalam mendidik anak-anak

20. kurang perhatian terhadap kondisi dan perasaan suami

21. menyebarluaskan rahasia tempat tidur

22. isteri mendeskripsikan seorang perempuan kepada suami

23. menggugat kepemimpinan suami

24. istri yang ikhtilah dan tabarruj di hadapan kaum laki-laki

25. kurang setia terhadap suami

26. kurangnya ketakwaan kepada Allah setelah berpisah dari suami

32 Dosa suami kepada Istri

1. Lalai Berbakti kepada orang tua setelah menikah

2. Kurang serius dalam mengharmonisasikan antara istri dan orang tua

3. Ragu dan buruk sangka kepada istri

4. Kurang memiliki sikap cemburu terhadap istri

5. Meremehkan kedudukan istri

6. Melepaskan kendali kepemimpinan dan menyerahkannya kepada istri

7. Memakan Harta istri secara batil

8. Kurang semangat dalam mengajari istri ajaran-ajaran agamanya

9. Bersikap pelit terhadap istri

10. Datang secara tiba-tiba setelah lama pergi

11. Banyak mencela dan mengkritik istri

12. Kurang berterima kasih dan memotivasi istri

13. Banyak bersengketa dengan istri

14. Lama memutus hubungan dan meninggalkan istri tanpa sebab yang jelas

15. Sering berada di luar rumah dan jarang bercengkrama dengan keluarga

16. Interaksi yang buruk dengan istri

17. Tidak menganggap penting berdandan untuk istri

18. Kurang perhatian terhadap Doa yang dituntun ketika menggauli istri

19. Kurang memperhatikan Etika, Hikmah
dan Hukum hubungan badan

20. Menyebarkan rahasia ranjang

21. Tidak mengetahui kondisi biologis perempuan

22. Menggauli istri ketika haid

23. Menggauli istri pada duburnya

24. Memukul istri tanpa alasan

25. Kesalahan tujuan poligami

26. Tidak bersikap Adil antara beberapa istri

27. Terburu-buru dalam urusan Talak

28. Tidak mau mentalak, padahal sudah tidak mungkin ada perbaikan dan kecocokan

29. Mencela istri setelah berpisah dengannya

30. Menelantarkan anak-anak setelah mentalak istri

31. Kurang setia terhadap istri

32. Kurang puas dan selalu melirik perempuan lain

3 Tanda Seseorang Mencintai Dengan Tulus

1. Orang yang mencintai kamu selau ingin tau tentang
apa saja yang kamu lalui sepanjang hari ini, ia ingin
tau kegiatan kamu.

2. Orang yang mencintai kamu selalu menerima kamu
apa adanya, dimatanya kamu selalu yang tercantik/tertampan walaupun mungkin kamu merasa berat
badan kamu sudah berlebihan atau kamu merasa kegemukan.

3. Orang yang mencintai kamu tidak pernah bisa memberikan alasan kenapa ia mencintai kamu, yang ia
tahu dimatanya hanya ada kamu satu²nya.

Wallahu a’lamu bish showab.


Semoga, siapa saja yang “Like” dan “Share” status ini, Admin do’akan, semoga dapat jodoh yang sangat setia dan dapat membangun keluarga dengan sakinah mawaddah warohmah. Aamiin


Jadilah Syurga di Taman Hatiku, Jadilah Pendampingku di Taman Syurga-Nya

Halaman facebook yang mungkin Anda sukai, Jadilah Syurga di Taman Hatiku, Jadilah Pendampingku di Taman Syurga-Nya, insya Allah bermanfaat.

* * * * *

Gambar oleh : Nur Cahaya Cahaya

Allah Maha Tahu Seberapa Keras Kita Menjaga Diri

Diulas oleh : Nur Cahaya Cahaya

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assalaamu’alaikum warohmatuloohi wabarokaatuh

Mutiara Hikmah on Facebook —Sulaiman bin Yasar adalah salah satu pemuka tabi’in di Madinah. Ia adalah lelaki ahli fiqih nan rendah hati. Sulaiman adalah seorang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Selain itu ia digambarkan sebagai sosok yang amat tampan. Sulaiman pun menemui ujiannya. Ibnu Katsir dalam Bidayah wa Nihayah mengisahkan tentang fitnah yang pernah menimpa Sulaiman.

Suatu kali ia pergi kepasar. Kemudian ia dipanggil seorang wanita yang amat cantik. “Kemarilah wahai Sulaiman,” ujar wanita itu. Lalu wanita itu mulai merayunya.
Sulaiman hanya berdiri mematung sembari menangis dengan kuat. Setiap kali wanita itu mendekatinya, Sulaiman terus mundur sambil menangis dengan kuat. Wanita itupun terkaget dan mencoba mendekati lagi Sulaiman. Ia kembali mundur dan semakin menjadi-jadi tangisnya.

Melihat reaksi Sulaiman itu, sang wanitapun akhirnya pergi meninggalkannya. Melihat Sulaiman terduduk dan menangis, temannya lantas menghampiri.
“Apa yang engkau tangisi wahai Sulaiman?” tanyanya.
Sulaiman menjawab, “Aku menangis karena kesedihanku terhadap diriku sendiri.”

Demi membaca kisah itu kita patut bertanya, apa yang akan kita perbuat seandainya kita berada diposisi Sulaiman? Rasanya ujian seperti itu amat mudah kita temui hari ini.

Godaan untuk berbuat maksiat seolah berjajar rapi, mengantri untuk disambangi satu persatu. Disajikan dengan kemasan menarik dan menggoda. Beberapa bahkan nampak seperti perbuatan yang tak lagi tabu. Terlalu banyaknya orang yang berbondong melakukan kebrobrokan itu.
Saat aneka rupa godaan terhidang, ujian besar adalah soal bagaimana kita menjaga diri. Saat godaan itu terwujud dalam busur pandangan yang belum lagi halal, menundukkan pandangan adalah usaha keras kita menjaga diri.

Saat ujian datang menyeret dalam ajakan zina, maka menjaga diri darinya adalah menolak sekuat tenaga, memperbanyak puasa jika ia bujang atau menyalurkan kepada istri jika ia sudah menikah. Saat fitnah mampir dalam wujud harta dari jalan buruk namun berlimpah, qana’ah dan zuhud adalah cara kita menjaga diri.

Setiap godaan selalu ada penawarnya. Setiap ujian senantiasa tersedia jalan keluarnya. Tinggal jiwa kita memilih condong kemana. Sungguh, Allah SWT tahu seberapa kuat ikhtiar kita dalam menjaga diri. Niat dan kegigihan kita dalam membentengi diri dari perbagai godaan, semoga berbuah pahala yang besar dari sisi Allah SWT.

Rasulullah SAW pernah berpesan, salah satu golongan yang akan dinaungi dihari kiamat kelak adalah seorang pemuda yang diajak berbuat maksiat wanita, kemudian ia berkata, “Sungguh aku takut kepada Allah.”

Bukankah kita ingin menjejak sebagai manusia ihsan?
“Beribadahlah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.”
(HR Muslim).

Allah SWT Maha Tahu seberapa kuat keinginan kita dalam menjaga diri. Rupanya seorang Mukmin tak dituntut hanya menjaga diri. Jika ia memiliki imunitas terhadap godaan, maka ia berkewajiban mengubah godaan tersebut. Supaya tak lagi ada korban-korban lain yang daya tahannya bisa jadi sangat rapuh.

Pekerjaan kita tak hanya berhenti dalam menjaga diri, namun mengubah keadaan sesuai kemampuan.
“Barang siapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”
(HR Muslim).

Kita berharap semoga tangguh mengendalikan nafsu/ godaan.
Aamiin Yaa Robbal’aalamiin.

* * * * *

Kisah Syaikh Nawawi al-Bantani dan Keramatnya

Diulas oleh : Abdul Hady Sufyan Atstsaury (Admin)

Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani (bahasa Arab: محمد نووي الجاوي البنتني, lahir di Tanara, Serang, 1813 – meninggal di Mekkah, 1897) adalah seorang ulama Indonesia yang terkenal. Ia bergelar al-Bantani karena ia berasal dari Banten, Indonesia. Ia adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab, yang meliputi bidang-bidang fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Jumlah karyanya mencapai tidak kurang dari 115 kitab.

Gambar oleh : 3.bp.blogspot.com

Kelahiran dan Pendidikan

Kelahiran 1230-1314 H / 1815- 1897 M Lahir dengan nama Abû Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi. Ulama besar ini hidup dalam tradisi keagamaan yang sangat kuat. Ulama yang lahir di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Propinsi Banten (Sekarang di Kampung Pesisir, desa Pedaleman Kecamatan Tanara depan Mesjid Jami’ Syaikh Nawawi Bantani) pada tahun 1230 H atau 1815 M ini bernasab kepada keturunan Maulana Hasanuddin Putra Sunan Gunung Jati, Cirebon. Keturunan ke-12 dari Sultan Banten. Nasab dia melalui jalur ini sampai kepada Baginda Nabi Muhammad saw. Melalui keturunan Maulana Hasanuddin yakni Pangeran Suniararas, yang makamnya hanya berjarak 500 meter dari bekas kediaman dia di Tanara, nasab Ahlul Bait sampai ke Syaikh Nawawi. Ayah dia seorang Ulama Banten, ‘Umar bin ‘Arabi, ibunya bernama Zubaedah.

Pendidikan

Semenjak kecil dia memang terkenal cerdas. Otaknya dengan mudah menyerap pelajaran yang telah diberikan ayahnya sejak umur 5 tahun. Pertanyaanpertanyaan kritisnya sering membuat ayahnya bingung. Melihat potensi yang begitu besar pada putranya, pada usia 8 tahun sang ayah mengirimkannya keberbagai pesantren di Jawa. Dia mula-mula mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, kemudian berguru kapada Kyai Sahal, Banten; setelah itu mengaji kepada Kyai Yusuf, Purwakarta.

Di usia dia yang belum lagi mencapai 15 tahun, Syaikh Nawawi telah mengajar banyak orang. Sampai kemudian karena karamahnya yang telah mengkilap sebelia itu, dia mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa mengajar murid-muridnya yang kian hari bertambah banyak. Pada usia 15 tahun dia menunaikan haji dan berguru kepada sejumlah ulama terkenal di Mekah, seperti Syaikh Khâtib al-Sambasi, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Abdul Hamîd Daghestani, Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Ahmad Dimyati, Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Muhammad Khatib Hambali, dan Syaikh Junaid Al-Betawi. Tapi guru yang paling berpengaruh adalah Syaikh Sayyid Ahmad Nahrawi, Syaikh Junaid Al-Betawi dan Syaikh Ahmad Dimyati, ulama terkemuka di Mekah. Lewat ketiga Syaikh inilah karakter dia terbentuk. Selain itu juga ada dua ulama lain yang berperan besar mengubah alam pikirannya, yaitu Syaikh Muhammad Khatib dan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, ulama besar di Medinah.

Nasionalisme dan Gelar-Gelar
Nasionalisme

Tiga tahun bermukim di Mekah, dia pulang ke Banten. Sampai di tanah air dia menyaksikan praktik-praktik ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan penindasan dari Pemerintah Hindia Belanda. Ia melihat itu semua lantaran kebodohan yang masih menyelimuti umat. Tak ayal, gelora jihadpun berkobar. Dia keliling Banten mengobarkan perlawanan terhadap penjajah. Tentu saja Pemerintah Belanda membatasi gara-geriknya. Dia dilarang berkhutbah di masjid-masjid. Bahkan belakangan dia dituduh sebagai pengikut Pangeran Diponegoro yang ketika itu memang sedang mengobarkan perlawanan terhadap penjajahan Belanda (1825- 1830 M).

Sebagai intelektual yang memiliki komitmen tinggi terhadap prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran, apa boleh buat Syaikh Nawawi terpaksa menyingkir ke Negeri Mekah, tepat ketika perlawanan Pangeran Diponegoro padam pada tahun 1830 M. Ulama Besar ini pada masa mudanya juga menularkan semangat Nasionalisme dan Patriotisme di kalangan Rakyat Indonesia. Begitulah pengakuan Snouck Hourgronje. Begitu sampai di Mekah dia segera kembali memperdalam ilmu agama kepada guru-gurunya. Dia tekun belajar selama 30 tahun, sejak tahun 1830 hingga 1860 M. Ketika itu memang dia berketepatan hati untuk mukim di tanah suci, satu dan lain hal untuk menghindari tekanan kaum penjajah Belanda. Nama dia mulai masyhur ketika menetap di Syi’ib ‘Ali, Mekah. Dia mengajar di halaman rumahnya. Mula-mula muridnya cuma puluhan, tapi makin lama makin jumlahnya kian banyak. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Maka jadilah Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi sebagai ulama yang dikenal piawai dalam ilmu agama, terutama tentang tauhid, fiqih, tafsir, dan tasawwuf.

Nama dia semakin melejit ketika dia ditunjuk sebagai pengganti Imam Masjidil Haram, Syaikh Khâtib al-Minagkabawi. Sejak itulah dia dikenal dengan nama resmi Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi.’ Artinya Nawawi dari Banten, Jawa. Piawai dalam ilmu agama, masyhur sebagai ulama. Tidak hanya di kota Mekah dan Medinah saja dia dikenal, bahkan di negeri Mesir nama dia masyhur di sana. Itulah sebabnya ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Mesir negara yang pertama-tama mendukung atas kemerdekaan Indonesia.

Syaikh Nawawi masih tetap mengobarkan nasionalisme dan patriotisme di kalangan para muridnya yang biasa berkumpul di perkampungan Jawa di Mekah. Di sanalah dia menyampaikan perlawanannya lewat pemikiran-pemikirannya. Kegiatan ini tentu saja membuat pemerintah Hindia Belanda berang. Tak ayal, Belandapun mengutus Snouck Hourgronje ke Mekah untuk menemui dia.

Ketika Snouck–yang kala itu menyamar sebagai orang Arab dengan nama ‘Abdul Ghafûr-bertanya:

“Mengapa dia tidak mengajar di Masjidil Haram tapi di perkampungan Jawa?”.

Dengan lembut Syaikh Nawawi menjawab:

“Pakaianku yang jelek dan kepribadianku tidak cocok dan tidak pantas dengan keilmuan seorang professor berbangsa Arab”.

Lalu kata Snouck lagi:

”Bukankah banyak orang yang tidak sepakar seperti anda akan tetapi juga mengajar di sana?”.

Syaikh Nawawi menjawab :

“Kalau mereka diizinkan mengajar di sana, pastilah mereka cukup berjasa”.

Dari beberapa pertemuan dengan Syaikh Nawawi, Orientalis Belanda itu mengambil beberapa kesimpulan. Menurutnya, Syaikh Nawawi adalah Ulama yang ilmunya dalam, rendah hati, tidak congkak, bersedia berkorban demi kepentingan agama dan bangsa. Banyak murid-muridnya yang di belakang hari menjadi ulama, misalnya K.H. Hasyim Asyari (Pendiri Nahdhatul Ulama), K.H. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), K.H. Khalil Bangkalan, K.H. Asnawi Kudus, Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri Sempur, Plered, Purwakarta, K.H. Arsyad Thawil, dan lain-lainnya.

Konon, K.H. Hasyim Asyari saat mengajar santri-santrinya di Pesantren Tebu Ireng sering menangis jika membaca kitab fiqih Fath al-Qarîb yang dikarang oleh Syaikh Nawawi. Kenangan terhadap gurunya itu amat mendalam di hati K.H. Hasyim Asyari hingga haru tak kuasa ditahannya setiap kali baris Fath al-Qarib ia ajarkan pada santri-santrinya.

Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi menikah dengan Nyai Nasimah, gadis asal Tanara, Banten dan dikaruniai 3 anak: Nafisah, Maryam, Rubi’ah. Sang istri wafat mendahului dia.

Gelar-Gelar

Berkat kepakarannya, dia mendapat bermacam-macam gelar. Di antaranya yang diberikan oleh Snouck Hourgronje, yang menggelarinya sebagai Doktor Ketuhanan. Kalangan Intelektual masa itu juga menggelarinya sebagai al-Imam wa al-Fahm al-Mudaqqiq (Tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam). Syaikh Nawawi bahkan juga mendapat gelar yang luar biasa sebagaia al-Sayyid al-‘Ulama al-Hijâz (Tokoh Ulama Hijaz). Yang dimaksud dengan Hijaz ialah Jazirah Arab yang sekarang ini disebut Saudi Arabia. Sementara para Ulama Indonesia menggelarinya sebagai Bapak Kitab Kuning Indonesia.

Karya-Karya dan Karamah
Karya-Karya

Kepakaran dia tidak diragukan lagi. Ulama asal Mesir, Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbâr dalam kitabnya “al-Durûs min Mâdhi al-Ta’lîm wa Hadlirih bi al-Masjidil al-Harâm” (beberapa kajian masa lalu dan masa kini tentang Pendidikan Masa kini di Masjidil Haram) menulis bahwa Syaikh Nawawi sangat produktif menulis hingga karyanya mencapai seratus judul lebih, meliputi berbagai disiplin ilmu. Banyak pula karyanya yang berupa syarah atau komentar terhadap kitab-kitab klasik. Sebagian dari karya-karya Syaikh Nawawi di antaranya adalah sebagai berikut:

• al-Tsamâr al-Yâni’ah syarah al-Riyâdl al-Badî’ah

• al-‘Aqd al-Tsamîn syarah Fath al-
Mubîn

• Sullam al-Munâjah syarah Safînah al- Shalâh

• Baĥjah al-Wasâil syarah al-Risâlah

• al-Jâmi’ah bayn al-Usûl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf

• al-Tausyîh/ Quwt al-Habîb al-Gharîb syarah Fath al-Qarîb al-Mujîb

• Niĥâyah al-Zayyin syarah Qurrah al-‘Ain bi Muĥimmâh al-Dîn

• Marâqi al-‘Ubûdiyyah syarah Matan Bidâyah al-Ĥidâyah

• Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd

• Salâlim al-Fadhlâ΄ syarah Mandhûmah Ĥidâyah al-Azkiyâ΄

• Qâmi’u al-Thugyân syarah Mandhûmah Syu’bu al-Imân

• al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim al-Tanzîl al-Mufassir ‘an wujûĥ mahâsin

• al-Ta΄wil musammâ Murâh Labîd li Kasyafi Ma’nâ Qur΄an Majîd

• Kasyf al-Marûthiyyah syarah Matan al-Jurumiyyah

• Fath al-Ghâfir al-Khathiyyah syarah Nadham al-Jurumiyyah musammâ al-Kawâkib al-Jaliyyah

• Nur al-Dhalâm ‘ala Mandhûmah al-Musammâh bi ‘Aqîdah al-‘Awwâm

• Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts

• Madârij al-Shu’ûd syarah Maulid al-Barzanji

• Targhîb al-Mustâqîn syarah Mandhûmah Maulid al-Barzanjî

• Fath al-Shamad al ‘Âlam syarah Maulid Syarif al-‘Anâm

• Fath al-Majîd syarah al-Durr al-Farîd

• Tîjân al-Darâry syarah Matan al-Baijûry

• Fath al-Mujîb syarah Mukhtashar al-Khathîb

• Murâqah Shu’ûd al-Tashdîq syarah Sulam al-Taufîq

• Kâsyifah al-Sajâ syarah Safînah al-Najâ

• al-Futûhâh al-Madaniyyah syarah al-Syu’b al-Îmâniyyah

• Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain

• Qathr al-Ghais syarah Masâil Abî al-Laits

• Naqâwah al-‘Aqîdah Mandhûmah fi Tauhîd

• al-Naĥjah al-Jayyidah syarah Naqâwah al-‘Aqîdah

• Sulûk al-Jâdah syarah Lam’ah al-Mafâdah fi bayân al-Jumu’ah wa almu’âdah

• Hilyah al-Shibyân syarah Fath al-Rahman

• al-Fushûsh al-Yâqutiyyah ‘ala al-Raudlah al-Baĥîyyah fi Abwâb al-Tashrîfiyyah

• al-Riyâdl al-Fauliyyah

• Mishbâh al-Dhalâm’ala Minĥaj al-Atamma fi Tabwîb al-Hukm

• Dzariyy’ah al-Yaqîn ‘ala Umm al-Barâĥîn fi al-Tauhîd

• al-Ibrîz al-Dâniy fi Maulid Sayyidina Muhammad al-Sayyid al-Adnâny

• Baghyah al-‘Awwâm fi Syarah Maulid Sayyid al-Anâm

• al-Durrur al-Baĥiyyah fi syarah al-Khashâish al-Nabawiyyah

• Lubâb al-bayyân fi ‘Ilmi Bayyân.

Karya tafsirnya, al-Munîr, sangat monumental, bahkan ada yang mengatakan lebih baik dari Tafsîr Jalâlain, karya Imâm Jalâluddîn al-Suyûthi dan Imâm Jalâluddîn al-Mahâlli yang sangat terkenal itu. Sementara Kâsyifah al-Sajâ syarah merupakan syarah atau komentar terhadap kitab fiqih Safînah al-Najâ, karya Syaikh Sâlim bin Sumeir al-Hadhramy. Para pakar menyebut karya dia lebih praktis ketimbang matan yang dikomentarinya. Karya-karya dia di bidang Ilmu Akidah misalnya Tîjân al-Darâry, Nûr al-Dhalam, Fath al-Majîd. Sementara dalam bidang Ilmu Hadits misalnya Tanqih al-Qaul. Karya-karya dia di bidang Ilmu Fiqih yakni Sullam al-Munâjah, Niĥâyah al-Zain, Kâsyifah al-Sajâ. Adapun Qâmi’u al-Thugyân, Nashâih al-‘Ibâd dan Minhâj al-Raghibi merupakan karya tasawwuf. Ada lagi sebuah kitab fiqih karya dia yang sangat terkenal di kalangan para santri pesantren di Jawa, yaitu Syarah ’Uqûd al-Lujain fi Bayân Huqûq al-Zaujain. Hampir semua pesantren memasukkan kitab ini dalam daftar paket bacaan wajib, terutama di Bulan Ramadhan. Isinya tentang segala persoalan keluarga yang ditulis secara detail. Hubungan antara suami dan istri dijelaskan secara rinci. Kitab yang sangat terkenal ini menjadi rujukan selama hampir seabad. Tapi kini, seabad kemudian kitab tersebut dikritik dan digugat, terutama oleh kalangan muslimah. Mereka menilai kandungan kitab tersebut sudah tidak cocok lagi dengan perkembangan masa kini. Tradisi syarah atau komentar bahkan kritik mengkritik terhadap karya dia, tentulah tidak mengurangi kualitas kepakaran dan intelektual dia.

Karamah

Konon, pada suatu waktu pernah dia mengarang kitab dengan menggunakan telunjuk dia sebagai lampu, saat itu dalam sebuah perjalanan. Karena tidak ada cahaya dalam syuqduf yakni rumah-rumahan di punggung unta, yang dia diami, sementara aspirasi tengah kencang mengisi kepalanya. Syaikh Nawawi kemudian berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar telunjuk kirinya dapat menjadi lampu menerangi jari kanannya yang untuk menulis. Kitab yang kemudian lahir dengan nama Marâqi al-‘Ubudiyyah syarah Matan Bidâyah al-Hidayah itu harus dibayar dia dengan cacat pada jari telunjuk kirinya. Cahaya yang diberikan Allah pada jari telunjuk kiri dia itu membawa bekas yang tidak hilang. Karamah dia yang lain juga diperlihatkannya di saat mengunjungi salah satu masjid di Jakarta yakni Masjid Pekojan. Masjid yang dibangun oleh salah seorang keturunan cucu Rasulullah saw Sayyid Utsmân bin ‘Agîl bin Yahya al-‘Alawi, Ulama dan Mufti Betawi (sekarang ibukota Jakarta),[6] itu ternyata memiliki kiblat yang salah. Padahal yang menentukan kiblat bagi mesjid itu adalah Sayyid Utsmân sendiri.

Tak ayal , saat seorang anak remaja yang tak dikenalnya menyalahkan penentuan kiblat, kagetlah Sayyid Utsmân. Diskusipun terjadi dengan seru antara mereka berdua. Sayyid Utsmân tetap berpendirian kiblat Mesjid Pekojan sudah benar. Sementara Syaikh Nawawi remaja berpendapat arah kiblat mesti dibetulkan. Saat kesepakatan tak bisa diraih karena masing-masing mempertahankan pendapatnya dengan keras, Syaikh Nawawi remaja menarik lengan baju lengan Sayyid Utsmân. Dirapatkan tubuhnya agar bisa saling mendekat.

“Lihatlah Sayyid!, itulah Ka΄bah tempat Kiblat kita. Lihat dan perhatikanlah! Tidakkah Ka΄bah itu terlihat amat jelas? Sementara Kiblat masjid ini agak kekiri. Maka perlulah kiblatnya digeser ke kanan agar tepat menghadap ke Ka΄bah”. Ujar Syaikh Nawawi remaja.”
Sayyid Utsmân termangu. Ka΄bah yang ia lihat dengan mengikuti telunjuk Syaikh Nawawi remaja memang terlihat jelas. Sayyid Utsmân merasa takjub dan menyadari , remaja yang bertubuh kecil di hadapannya ini telah dikaruniai kemuliaan, yakni terbukanya nur basyariyyah. Dengan karamah itu, di manapun dia berada Ka΄bah tetap terlihat. Dengan penuh hormat, Sayyid Utsmân langsung memeluk tubuh kecil dia. Sampai saat ini, jika kita mengunjungi Masjid Pekojan akan terlihat kiblat digeser, tidak sesuai aslinya.

Telah menjadi kebijakan Pemerintah Arab Saudi bahwa orang yang telah dikubur selama setahun kuburannya harus digali. Tulang belulang si mayat kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya. Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain di luar kota. Lubang kubur yang dibongkar dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakan ini dijalankan tanpa pandang bulu. Siapapun dia, pejabat atau orang biasa, saudagar kaya atau orang miskin, sama terkena kebijakan tersebut. Inilah yang juga menimpa makam Syaikh Nawawi. Setelah kuburnya genap berusia satu tahun, datanglah petugas dari pemerintah kota untuk menggali kuburnya. Tetapi yang terjadi adalah hal yang tak lazim. Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya. Yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak lecet atau tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain putih kafan penutup jasad dia tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.

Terang saja kejadian ini mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan. Langkah strategis lalu diambil. Pemerintah melarang membongkar makam tersebut. Jasad dia lalu dikuburkan kembali seperti sediakala. Hingga sekarang makam dia tetap berada di Ma΄la, Mekah.

Demikianlah karamah Syaikh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Tanah organisme yang hidup di dalamnya sedikitpun tidak merusak jasad dia. Kasih sayang Allah Ta’ala berlimpah pada dia. Karamah Syaikh Nawawi yang paling tinggi akan kita rasakan saat kita membuka lembar demi lembar Tafsîr Munîr yang dia karang. Kitab Tafsir fenomenal ini menerangi jalan siapa saja yang ingin memahami Firman Allah swt. Begitu juga dari kalimat-kalimat lugas kitab fiqih, Kâsyifah al-Sajâ, yang menerangkan syariat. Begitu pula ratusan hikmah di dalam kitab Nashâih al-‘Ibâd. Serta ratusan kitab lainnya yang akan terus menyirami umat dengan cahaya abadi dari buah tangan dia.

Wafat

Masa selama 69 tahun mengabdikan dirinya sebagai guru Umat Islam telah memberikan pandangan-pandangan cemerlang atas berbagai masalah umat Islam. Syaikh Nawawi wafat di Mekah pada tanggal 25 syawal 1314 H/ 1897 M. Tapi ada pula yang mencatat tahun wafatnya pada tahun 1316 H/ 1899 M. Makamnya terletak di pekuburan Ma’la di Mekah. Makam dia bersebelahan dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Asma΄ binti Abû Bakar al-Siddîq.

Referensi
Nurul Huda, Sekilas tentang: Kiai Muhammad Nawawi al-Bantani, Alkisah, No.4, 14 September 2003 M, h. 2.

Sumber :
https://https-id-m-wikipedia-org.0.freebasics.com/wiki/Nawawi_al-Bantani

Gambar oleh : Nur Cahaya Cahaya

Meraih Kemuliaan Melalui Ilmu

Diulas oleh : Nur Cahaya Cahaya

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assalaamu’alaikum warohmatuloohi wabarokaatuh

Mutiara Hikmah on FacebookMeraih Kemuliaan,“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadilah : 11).

Allah SWT telah menjanjikan setiap orang yang mempunyai ilmu akan ditinggikan derajatnya diatas manusia yang lain.

Ditinggikan derajatnya bukan hanya didunia, tetapi juga diakhirat nanti.
Ini menunjukkan tingginya kedudukan ilmu disisi Allah Azza Wa Jalla.

Ilmu menjadi mulia disisi Allah karena ilmu akan menjadi alat yang akan membimbing seseorang menuju kebaikan hidup, kesempurnaan iman, dan selanjutnya akan menuju ma’rifatullah, sebuah tingkat pengenalan manusia akan perintah-perintah Allah.

Ilmu yang dimiliki seseorang bisa menjadi alat untuk mengenal, mendekatkan diri pada Tuhannya, dan akan menjadi panduan bagi seseorang untuk hidup didunia, menjauhi larangan-Nya dan menjadi panduan akan apa yang harus dilalui didunia yang fana ini sesuai ketentuan-Nya.

Dengan ilmu ini, maka muncullah sikap taqwa, takut kepada Allah, taat pada hukum dan aturan serta akan hidup yang baik dan memberikan kontribusi positif bagi diri, keluarga, dan lingkungannya.

Mencari ilmu adalah sebuah kewajiban bagi Muslimin dan Muslimat, sejak lahir hingga akhir hayat. Dalam sebuah hadits disebutkan :
“Utlubul `Ilma minal mahdi ilal lahdi.” (Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga liang lahat). (HR Bukhori).

Bahkan dalam Islam juga diperintahkan untuk menuntut ilmu walaupun sumber ilmunya jauh diseberang lautan :
Utlubul `ilma walau bissiin.
(Tuntutlah ilmu walau sampai kenegeri Cina).

Hal itu menunjukkan bahwa mencari ilmu harus dilakukan kemanapun dan kapanpun. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa ilmu adalah sesuatu yang utama sebagaimana kata ilmu disebut dalam Alquran sebanyak 780 kali.

Realitas menunjukkan, seseorang bisa diangkat derajatnya, misalnya, dari kalangan miskin menjadi kalangan menengah atau kaya, hanya bisa dilakukan melalui pendidikan/mencari imu. Karena dengan ilmu yang dimiliki, maka ia akan memiliki kualitas, pengetahuan, dan keterampilan dalam mengerjakan sebuah pekerjaan dan jabatannya.

Realitas kekinian juga menunjukkan bahwa sumber daya alam (SDA) yang dimiliki oleh sebuah bangsa dan negara bukanlah syarat utama sebuah bangsa maju dan sejahtera. Namun yang paling penting adalah keterampilan dan kemampuan teknologi yang dimiliki oleh penduduknya yang bisa mengolah SDA itu untuk menjadi sebuah bangsa menjadi maju dan sejahtera.

Sesungguhnya yang akan berpeluang besar menjadi alat untuk kemajuan seseorang adalah kemampuan ilmu yang dimlikinya. Semakin tinggi ilmu yang dimiliki oleh seseorang, maka akan semakin baik jabatan dan pekerjaan yang dianugerahkan oleh Allah dibanding orang yang tidak berilmu.

Melihat hal tersebut, hendaknya bagi kaum muslimin, terutama bagi kalangan pelajar, untuk tidak silau dengan indahnya usia dan dunia, serta tetap fokus mencari ilmu, dimanapun dan kapanpun. Masa muda hendaknya diisi dengan mengasah dan mengeruk sedalam dalamnya bahtera ilmu.

Semoga kita rajin, bersemangat dan mudah memahami dalam mempelajari ilmu yang bermanfa’at.
Aamiin Yaa Robbal’aalamiin.

* * * *