Istimewa

Dosa Meninggalkan Shalat Lima Waktu

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Para pembaca yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Ta’ala. Kita semua pasti tahu bahwa shalat adalah perkara yang amat penting. Bahkan shalat termasuk salah satu rukun Islam yang utama yang bisa membuat bangunan Islam tegak. Namun, realita yang ada di tengah umat ini sungguh sangat berbeda. Kalau kita melirik sekeliling kita, ada saja orang yang dalam KTP-nya mengaku Islam, namun biasa meninggalkan rukun Islam yang satu ini. Mungkin di antara mereka, ada yang hanya melaksanakan shalat sekali sehari, itu pun kalau ingat. Mungkin ada pula yang hanya melaksanakan shalat sekali dalam seminggu yaitu shalat Jum’at. Yang lebih parah lagi, tidak sedikit yang hanya ingat dan melaksanakan shalat dalam setahun dua kali yaitu ketika Idul Fithri dan Idul Adha saja.
Memang sungguh prihatin dengan kondisi umat saat ini. Banyak yang mengaku Islam di KTP, namun kelakuannya semacam ini. Oleh karena itu, pada tulisan yang singkat ini kami akan mengangkat pembahasan mengenai hukum meninggalkan shalat. Semoga Allah memudahkannya dan memberi taufik kepada setiap orang yang membaca tulisan ini.

Dosa Meninggalkan Shalat Fardhu:

  1. Shalat Subuh : satu kali meninggalkan akan dimasukkan ke dalam neraka selama 30 tahun yang sama dengan 60.000 tahun di dunia.
  2. Shalat Zuhur : satu kalo meninggalkan dosanya sama dengan membunuh 1.000 orang umat islam.
  3. Shalat Ashar : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan menutup/meruntuhkan ka’bah.
  4. Shalat Magrib : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan berzina dengan orangtua.
  5. Shalat Isya : satu kali meninggalkan tidak akan di ridhoi Allah SWT tinggal di bumi atau di bawah langit serta makan dan minum dari nikmatnya.

6 Siksa di Dunia Orang yang Meninggalkan Shalat Fardhu :

  1. Allah SWT mengurangi keberkatan umurnya.
  2. Allah SWT akan mempersulit rezekinya.
  3. Allah SWT akan menghilangkan tanda/cahaya shaleh dari raut wajahnya.
  4. Orang yang meninggalkan shalat tidak mempunyai tempat di dalam islam.
  5. Amal kebaikan yang pernah dilakukannya tidak mendapatkan pahala dari Allah SWT.
  6. Allah tidak akan mengabulkan doanya.

3 Siksa Orang yang Meninggalkan Shalat Fardhu Ketika Menghadapi Sakratul Maut :

  1. Orang yang meninggalkan shalat akan menghadapi sakratul maut dalam keadaan hina.
  2. Meninggal dalam keadaan yang sangat lapar.
  3. Meninggal dalam keadaan yang sangat haus.

3 Siksa Orang yang Meninggalkan Shalat Fardhu di Dalam Kubur :

  1. Allah SWT akan menyempitkan kuburannya sesempit sempitnya.
  2. Orang yang meninggalkan shalat kuburannya akan sangat gelap.
  3. Disiksa sampai hari kiamat tiba.

3 Siksa Orang yang Meninggalkan Shalat Fardhu Ketika Bertemu Allah :

  1. Orang yang meninggalkan shalat di hari kiamat akan dibelenggu oleh malaikat.
  2. Allah SWT tidak akan memandangnya dengan kasih sayang.
  3. Allah SWT tidak akan mengampunkan dosa dosanya dan akan di azab sangat pedih di neraka.

SEMOGA BERMANFAAT

Sumber Referensi:
• Al-Kitab Al-Qurthubi
• A-Kitab Irsyadul I’bad
• Al-Kitab Durrotunnashihin
• Al-Kitab Tanqihul Qaul Alhatsits

Sumber Posting :
http://hadyintrior.mywapblog.com/category/dosa-meninggalkan-shalat-fardhu/1.xhtml

Istimewa

Keutamaan Shalat Shubuh

LIMA KEUTAMAAN SHALAT SHUBUH

  1. Shalat Subuh Adalah Faktor di lapangkannya Rezeki.
    ".Hai Fatimah,bangun dan saksikanlah rezeki Rabbmu,karena ALLAH membagi-bagikanrezeki para hamba antara shalat subuh dan terbitnya matahari." (HR. Baihaqi)
  2. Shalat Subuh Menjaga Diri Seorang Muslim :
    " Barang siapa melaksanakan shalat subuh,maka ia berada dalam jaminan ALLAH,maka jangan sampai ALLAH menarik kembali jaminan-Nya kepada kalian dengan sebab apapun."(HR.Muslim)
  3. Shalat Subuh Adalah tolak Ukur Keimanan :
    " Diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mas'ud,ia berkata: "kami melaksanakan shalat subuh berjamaah bersama Nabi dan tidak ada yang ikut serta selain orang yang sudah jelas kemunafikannya."(HR. Muslim)
  4. Shalat Subuh Adalah Penyelamat dari Neraka:
    "Tidak akan masuk neraka,orang yang melaksamakan shalat sebelum matahari terbit dan sebelum tenggelam."(HR.Muslim)

  5. Shalat Subuh Lebih Baik dari pada dunia dan seisinya :
    " Dua raka'at shalat subuh,lebih baik daripada dunia dan seisinya." (HR.Muslim)

Inilah sebagian sisi yang di gambarkan betapa utama dan nikmatnya shalat subuh dan bertasbihlah di waktu subuh.

SUBHANALLAH…

Semoga ALLAH bimbing kita untuk terus semangat dalam menjalankan-Nyadan di jauhkan dari sifat-sifat malas yang menyebabkan kita lalai dari mengerjakan shalat. Aamiin.

(Cantumkan jika ada doa khusus untuk ibu dan juga doa yang lainnya,agar kami para jamaah bisa mengaminkannya)

Silahkan Bagikan di halamanmu agar kamu dan teman-temanmu senantiasa istiqomah dan bisa meningkatkan ketakwaannya kepada ALLAH SWT.

Ya ALLAH…
✔ Muliakanlah orang yang membaca tausiah ini
✔ Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid
✔ Lapangkanlah hatinya
✔ Bahagiakanlah keluarganya
✔ Luaskan rezekinya seluas lautan
✔ Mudahkan segala urusannya
✔ Kabulkan cita-citanya
✔ Jauhkan dari segala Musibah
✔ Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar.
✔ Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang membaca dan membagikan tausiah ini.

Aamiin ya Rabbal'alamin.

Istimewa

Wanita Laksana Bunga Terindah

ALANGKAH indahnya bunga, mekar ditaman menyejukkan pandangan. Harum mewangi menyegarkan setiap insan yang menghirupnya. Bunga mewakili keindahan, disetiap pesta terpasang rangkaian bunga sebagai hiasannya, ia terpajang manis yang membuat indahnya suasana. Warna-warni yang menyimbolkan keceriaan, dari setiap tangkai, putik, kelopak dan mahkota yang berkolaborasi cantik dari Sang Pencipta.

dc-1388565-22507952765970.jpg

Dari sebuah bunga, kita bisa meresapi betapa indahnya kebesaranNya. Bahwa sebuah kuncup itu memerlukan perjuangan untuk mekar menjadi sebuah bunga yang menawan.

Didalam sebuah kembang bunga terdapat banyak rahasia kebesaran Allah.

Dibalik keindahan bunga,lebih indah lagi penciptanya, yaitu Allah.
Wanita identik dengan bunga, kalau diminta memilih bunga atau bola? Bungalah yang akan dia pilih. Yang masih saya ingat sewaktu saya masih belajar menggambar, pilihan utama sebagai obyek gambar saya selain gunung adalah bunga, dengan colourpen yang beraneka warna saya coretkan di setiap mahkota bunga, hingga kumpulan bunga menjadi berwarna-warni.

Putih, melati ia berarti suci dan kesederhanaan yang mewarnainya.

Kuning, ia bagaikan pancaran sinar matahari yang selalu bersinar terang.

Merah, mawar ia tegas berduri dan berani.

Pink, ia lembut penuh dengan kasih sayang.

Namun, kita wanita tidak sama dengan bunga, kita lebih indah dari pada bunga jika bisa menjaganya! Kenapa begitu? Bukankah bunga adalah tanaman yang keindahannya adalah untuk semua orang, jika kita di ibaratkan bunga liar maka semua orang bebas menikmatinya. Sejatinya hanya akan ada sebuah kumbang yang boleh menikmati keindahan dan wanginya. Kita para muslimah adalah bunga yang terpelihara. Bunga yang dipersiapkan untuk memasuki sebuah taman yang akan disirami indahnya iman.

Semoga diri ini bisa menjadi sekuntum bunga yang dihiasi dengan kelopak akhlak mulia, harum semerbak wanginya dengan ilmu agama dan cantiknya terpancar karena iman dan taqwa, menjadi bunga terindah, namun keindahan zhahirnya tetap tersimpan rapi dan menjadi rahasia dalam genggamanMu hingga tiba saatnya keindahan yang sesungguhnya Engkau singkap di hadapan seseorang yang memang berhak menerimanya.

Seindah-indahnya bunga, kita para wanita jauh lebih indah. Jadilah “bunga” terindah di dunia dan “bunga” terindah di taman surga-Nya.

Aamiin

Sifat-Sifat Rasulullah Menurut Al-Qur’an

Kajian Islam

Sifat-Sifat Rasulullah Menurut Al-Qur’an

Oleh. KH. Jalaluddid Rakhmat

Saya ingin memulai tulisan ini dengan menyampaikan dua buah hadits tentang kecintaan kepada Rasulullah saw. Pertama, hadits yang masyhur diriwayatkan dalam kitab-kitab ahli sunnah, di antaranya dalam Al-Targhib wal Takhib, sebuah kitab hadits yang sangat populer di antara kita. Kedua, hadits yang dikutip dari Bihar Al-Anwar, kitab hadits yang cukup besar dan menjadi rujukan mazhab Ahlul Bayt.

Hadits yang pertama menceritakan bahwa pada suatu hari ketika Rasulullah saw sedang berbincang-bincang dengan para sahabatnya, seorang pemuda datang mendekati Rasul sambil berkata, “Ya Rasulullah, aku mencintaimu.” Lalu Rasulullah saw berkata: “Kalau begitu, bunuh bapakmu!” Pemuda itu pergi untuk melaksanakan perintah Nabi. Kemudian Nabi memanggilnya kembali seraya berkata, “Aku tidak diutus untuk menyuruh orang berbuat dosa.” Aku hanya ingin tahu, apa betul kamu mencintai aku dengan kecintaan yang sesungguhnya?”

Tidak lama setelah itu, pemuda ini jatuh sakit dan pingsan. Rasulullah saw datang menjenguknya. Namun pemuda…

Lihat pos aslinya 2.897 kata lagi

Untukmu Putra-Putriku Tersayang

Oleh :
Seandainya ALLAH Takdirkan Kau Istriku, Jadikanlah Aku Pilihan Terakhirmu

Nak, kemarilah mendekat. Papah ingin mengelus rambutmu, merangkul pundakmu. Dengan sentuhan kasih sayang, dengan hati yang lembut disaksikan gelinang air mata kasih nan sayang.

Nak, raihlah cita-citamu, jadilah
apapun yang kau cita-citakan. Andai kau mau jadi dokter, jadilah dokter. Atau jadilah pemimpin, pilot, arsitek, ahli ekonomi, petani, atau apapun. Terserah kamu nak, papah akan selalu mendukungmu. Mamahmu akan terus mendoakan mu.

Tapi nak, satu yang perlu kau ingat, Papah dan Mamahmu takkan bangga nak, meskipun kau jadi presiden atau penguasa dunia sekalipun. Kami hanya akan bangga ketika kau menyandang gelar apapun dan status “PRILAKU BAIKMU” melekat dalam hati, ucap dan tingkahmu, dan itu yang papah maksud “Akhlakul Karimah”.


Ketika kau jadi Pengusaha, jadilah
Pengusaha yang baik dan beriman.

Ketika kau jadi Dokter, jadilah
Dokter yang baik dan beriman.

Ketika kau jadi Arsitek,
jadilah Arsitek yang baik dan beriman.

Ketika kau jadi Gubernur, jadilah
Gubernur yang baik dan beriman.

Ketika kau jadi
Presiden, jadilah Presiden yang
baik dan beriman.

Ketika kau jadi Kepala Keluarga, jadilah Suami yang baik dan beriman.

Ketika kau jadi Bendahara Rumah Tangga, jadilah Ibu yang baik dan beriman.

Sungguh tiada kebahagiaan dalam hati papahmu selain saat engkau mendapat gelar apapun tetapi kau jadi yang terbaik akhlaknya. Jangan sombong, jangan berdusta, jangan khianat, dan jaga kemuliaan akhlakmu dengan motif hanya
karena mengharap ridho Robbmu semata. Hanya itulah yang akan membuat kami bangga nak. Kami rasa lebih dari cukup kado terindah dari seorang anak buat orang tuanya.

Nak, seberapa sukses kau meraih cita-cita, semua itu percuma nak,
semuanya akan kau tinggalkan.

Gelar doktermu takkan mampu
memperpanjang umurmu.

Gelar arsitek takkan membuat kuburmu begitu megah.

Gelar pilotmu takkan mampu
mengendalikan keranda
mayat yang kelak akan kau
kendarai. Kau harus ingat akan satu gelar yang pasti didapat oleh setiap
makhluk yaitu — ‘Almarhum’ dan
‘Almarhumah’.

Gelar itu akan melekat
pada dirimu ketika kau dianggap cukup menjalani ujian kehidupanmu.

Gelar itu dipaksakan tak peduli
kau mau atau tidak. Seperti itulah
engkau dan begitu juga kami. Kami takkan mungkin hidup selamanya, menjaga dan menasehatimu jika kau salah, karena suatu saat kami akan pergi nak.

Pada akhirnya kau akan hidup
sendiri dan mempertahankannya.
Semoga kau jadi anak-anak yg sholeh
sholehah, yaitu anak yang senantiasa taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya, dalam setiap tindak tanduk senantiasa ridha dan ikhlas dikomando dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Semoga setiap langkah dan nafasmu selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin.

“Kalau ada orang Muslim dukung dia, karena katanya dia bisa membangun,
maka sampaikanlah bahwa Fir’aun bisa
membangun Mesir menjadi negara gemerlap, penduduknya hidup makmur tapi Fir’aun menistakan Allah, maka Allah
hancurkan dia”.

“Kalau ada orang Muslim dukung dia, karena katanya dia bisa membuat Jakarta menjadi moderen, maka sampaikanlah bahwa Namrud bisa membangun Messopotamia menjadi negara yang
moderen, bangunan menjulang ke atas dengan teknologi canggih saat itu hanya Namrud menistakan Allah, maka Allah
hancurkan dia”.

“Kalau ada orang Muslim dukung dia, karena katanya dia bisa menjadikan hidup makmur, maka sampaikanlah pada dia bahwa bangsa Saba’ bisa membangun negerinya menjadi negara yang
makmur, bebas korupsi, dan kaum Saba’ menistakan Agama Allah, maka
Allah hancurkan mereka”.

“Percayalah, orang yang selalu bersama Allah tidak akan pernah kehilangan apa-apa tapi orang yang kehilangan Allah, maka ia akan kehilangan segalanya”.

“Saya tidak benci dengan orang Non Muslim, tapi Allah dengan Firmannya melarang saya untuk memilihnya sebagai Pemimpin”.

“Saya tidak ingin berdebat dengan anda yang mendukung mereka, apalagi jika anda yang orang islam. Bagaimana saya bisa meyakinkan anda, sedangkan Firman Allah saja anda tidak yakini dan anda
abaikan”. – [Aa Gym]

Sedikit Waktu Berpijak di Dunia Fana

Sahabatku terkasih…

…… Pada akhirnya, kita hanya tinggal
punya sedikit waktu berpijak di dunia
fana ini, untuk bernafas…untuk
berbicara…untuk memandang…untuk
mendengar…untuk melangkahkan kedua
kaki…untuk bersilaturrahmi…untuk
berbincang-bincang…begitupun untuk
mengejar segala ketertinggalan atau
bahkan tuk mengejar segala harapan dan
cita-cita hidup. Apalagi untuk penuh
konsentrasi istikamah beribadah,
mengabdikan seluruh jiwa dan raga di
hadapan Yang Maha Kuasa. Sedikit…sungg
uh tinggal sedikit waktu dan umur yg kita
jalani. Sementara kematian semakin
mendekat dan mendekat lagi.

Entahlah, esok hari atau lusa kita dapat
bersua bersama kembali atau tidak tuk
bergelak tawa mencurahkan segala rasa
dengan keluarga, sanak saudara, teman
atau sahabat, meceritakan pengalaman
hidup, cerita hari ini, cerita masa nan lalu.
Andai diberikan kewenangan hidup,
serasa tidak mau mati untuk tetap
bertahan hidup selamanya.

Sahabatku terkasih…
Dalam kesempatan yang sangat terbatas
oleh ruang dan waktu ini, sungguh telah
banyak waktu tersita oleh kesia-siaan
dalam hal yg tidak bermanfaat bahkan
jikalau kita fikir dari putaran waktu 24
jam itu mungkin hanya sedikit sisa waktu
untuk melakukan shalat, apalagi tuk
mengkaji al-qur’an, apalagi tuk
melangkahkan kaki menuju pada tempat
berjamaah sholat, pengajian,
bersilaturtrrahmi, dll. Cukuplah kita akui
saja, bahwa diri ini sangat merugi.

Pabila kita Zoom tuk mengingat
kematian, memang itu keharusannya agar
semakin lunak nafsu ini tuk berbakti pada
Allah SWT. Satu hal, hari ini dan detik ini,
yakinlah ! Adalah sebagai bentuk jawaban
baik buruknya hari esok. Keridhoan Allah
kah atau murka Allah untuk kita?. Surga
kah atau neraka balasannya pada kita?.

Semoga kita bisa me-manage waktu yang
singkat ini, dengan sebaik-baiknya. Kita yg tidak akan pernah sedikitpun dibertitahu oleh Sang Pemilik jiwa raga kapan kita mati. Kita yang selalu tenggelam dalam samudra nafsu duniawi, terkubur dalam dibawah angan-angan semu, terkendali dengan buaian nafsu syahwat bissu-i.

Mudah-mudahan Taufik Allah serta
bimbingan dan lindunganNya tercurah
pada kita semua. Aamiin

Kata Motivasi Abdul Hady Sufyan Atstsaury

Tingkat KESABARAN pasangan hidup itu dapat dianalisa dari sebarapa besar kesabaran saat menghadapi berbagai macam pesoalan hidup yg ia jalani bahkan sekalipun saat kekurangan sesuap nasi. Oleh karena itu, berbahagialah bagi mereka yang mempunyai pasangan hidupnya PENYABAR. Sekarang tinggal mengangkat telunjuk diarahkan pada dada masing-masing dan bebisiklah : “Apakah saya ini orang penyabar?!”

NEXT ! Wanita penyabar tentu akan memilih yang tepat dalam pilihan di bawah ini !

1. Ketika ada sama dimakan, waktu tak ada sama di tahan.

2. Ketika ada sama dimakan, waktu tak ada sama-sama ngutang.

3. Ketika ada sama dimakan, waktu tak ada sama menendang.


Tidak akan mulia seseorang kecuali Allah
menghinakannya. Dan tidak akan jatuh hina seseorang kecuali Allah memuliakannya.

Jangan takut kehilangan harga diri karena kau tidak pernah menjualnya.
Namun takutlah kehilangan diri karena kau tidak kan mampu menahannya.


Diutusnya Rasulullah SAW dan para Warotsatul Anbiya’ di muka bumi ini tugasnya untuk menyempurnakan akhlak manusia, membenarkan akidah, merefresh dari kepatrahan menuju kefitrahan. 22 tahun Rasululllah SAW menyeru ummat manusia agar insaf dari kebejatan moral kembali pada akhlak yg mulia tidak seperti binatang.

Andaikata jelas-jelas si Mukidi telah terang-terangan menyebarkan link dan video bokep di medsos, atau menentang prinsip-prinsip Islam, bukankah ini termasuk dari suatu perbuatan perusakan moral umat manusia yang Rasulullah telah ditata kian rapi?


Ikhwatal iman rahimaniyallahu wa iyyakum. Posting ini sekedar untuk renungan, bila berkenan membacanya boleh disimak 1 menit saja. Semoga bermanfaat.

قيل ساعات الليل والنهار أربع وعشرون , فالانسا ن متنفس في كل ساعة ماءة وثما نين نفسا , ففي الليل والنهار يتنفس أربعة الاف وثلثمأة وعشرين نفسا .

وفي كل نفس يسأل بسوءالين وقت الحروج ووقت الدخول : يعني أى عمل عملت في خروج النفس ودخوله . درهَ الناصحين صحيفه :٢٧٤

Dikatakan, jumlah waktu satu hari satu malam ada 24 jam, adapun manusia menghembuskan nafasnya dalam setiap jamnya 180 kali nafas, maka dapat di kalkulasi secara keseluruhannya bahwa dalam satu hari satu malam manusia menghembuskan nafasnya 4320 kali nafas.

Pertanyaannya ! Di setiap kali nafas, kelak di hari kiamat Allah akan menyoal dengan dua persoalan yaitu saat keluar dan masuknya nafas,

“ PERBUATAN APA YANG TELAH ANDA LAKUKAN SAAT MNGELUARKAN NAFAS ?” .

“ PERBUATAN APA YANG TELAH ANDA LAKUKAN SAAT MENARIK NAFAS ?” .

Jawabannya : Antum pada tahu. Boleh di share status ini pada teman kalian agar mereka dapat membaca dan merenungkan persoalan ini. Semoga dengan share status ini dapat fahala yang berlipat ganda dan Allah Swt meringankan pesoalan anda.

Aamiin


Hidup tak surut dari macam masalah, namun bagi orang beriman semuanya dapat dilalui dengan sabar dan pasrah, mereka senantisa melapangkan
dada dalam menyikapinya, befikir bening, berhati teguh kian kukuh dan meyakini bahwa itu semua semata ujian dari ALLAH.

Bagi saudaraku yang tak surut ditimpa berbagai macam problemtika kehidupan, aku hanya bisa berkata, “Kau harus kuat melaluinya dengan sabar dan ikhtiar! Insya Allah pertolongan Allah segera
datang bagi hambaNya yang penyabar.”


Ketika cintamu dilepas, bukan berarti ia telah melepas rasa cintanya akan tetapi ia mencintaimu dalam kenaifan. Dan putus cinta itu bukan ujung penderitaan tetapi awal moment terindahmu tuk
menyambut seseorang yang terbaik darinya.

Usahakan untuk mentaati pesan-pesan
pasanganmu sebagaimana kau tetap ingin ditaati saat sepi dari pandanganmu.


Seseorang yang berkepribadian dewasa selalu mempersempatkan waktu dalam hal kemaslahatan ketimbang membagi waktu pada hal kesia-siaan.


Seseorang yang hatinya lembut bagaikan mutiara dalam kegelapan adalah ia yang tidak bertutur kata kecuali dengan budi pekerti yang santun. Tutur kata yang menyakiti hati orang lain, adalah ia
yang belum sempat mempebaiki hatinya.


Dear sahabatku…
Lihatlah genting dan renungkanlah, karena aku yakin dibalik genting ada banyak hikmah yang terkandung.

Tahukah, bahwa genting itu melewati beberapa proses kepedihan, hingga martabatnya duduk di atap rumah ia nangkring?.

Tahukah, bahwa genting itu prosesinya di luluh, di injak-injak kaki manusia, di jemur di tengah trik panasnya sinar matahri, dibakar dengan kobaran api yang sangat panas?.

Sekarang, bagaimakah kedudukan atas sabarnya? Ia bisa duduk di martabat paling atas. Ia sanggup mengaubi segenap manusia bukan?.

Apakah kita tidak tertarik dengan martabatnya yang tinggi?. “Semoga, kita bisa!”. “Orang yang sukses adalah orang yang bisa belajar dari kesalahannya”. “Orang yang sukses adalah dia yang mampu berdiri saat ia harus jatuh, dan mampu berjalan saat ia tertekan banyak rintangan, dan mampu bersenyum saat ia bersedih, dan mampu bergerak saat ia di pukul banyak cobaan”. Ia bangkitnya, justru karena adanya kesabaran. Ia mampu bertahan saat diuji, dan orang seperti itulah yang akan memperoleh kedudukan martabat yang tinggi di dunia dan akhirat.

Namun, ingatlah selalu!. Jangan sombong
manakala keberhasilan telah di capai. Jangan angkuh manakala kesuksesan telah di genggam dan jangan pernah merasa yang hebat dari orang lain manakala martabatmu kini dapatkan. Karena, semua itu adalah ujianmu saat kaya, saat jaya, saat perkasa, saat pintar, saat senang atau bahkan saat bahagia. Hembusan badai angin, ingat akan menimpamu. Guncangan badai gempa pasti datang. Gemuruh petir pasti datang menyambar. Dan gentingpun akan ruksak kembali ke lembah yang hina jika tidak bisa menahan ujian di balik semua persoalan datang.

Begitu banyak badai —cobaan— kita jalani. Tetapi, itu tidak seberapa berat dibanding badai cobaan yang diterima Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Intinya dari cobaan itu, kita harus bisa meneladani dan belajar dari kesabarannya Nabi Ayyub ‘alaihissalam saat menghadapi guncangan mushibahnya.

Begitu banyak badai—persoalan—kita terima. Tetapi itu tidak seberapa sulit dibanding persoalan yang diterima Nabi Musa ‘alaihissalam. Intinya, kita harus bisa meneladani dan belajar dari kesabarannya Nabi Musa ‘alaihissalam saat menghadapi bala tantangan kaum Fir’aun.

Begitu banyak badai—kegelisahan—yang kita dapatkan. Tetapi itu tidak seberapa berat dibanding kegelisahan yang diterima Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Intinya kita harus bisa meneladani dan belajar dari kesabarannya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam saat menghadapi kebandelan Ayahandanya.

Dan begitu banyak badai—kesedihan—yang kita rasakan. Tetapi itu tidak seberapa berat dibanding kesedihan yang di terima Nabiyyuna Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, saat menghadapi banyak mushibah dan penderitaan hidupnya.

“Dan sungguh akan kami berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kehilangan jiwa (kematian) dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”(Q.S. AL-Baqarah 155).

“Sungguh akan dibayar upah (fahala) orang-orang yang sabar dengan tiada batas hitungan.”(Q.S. Az-Zumar 10).

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah
pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan shalat) sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.(Q.S. Al-Baqarah 153).

“Kami (Allah) pasti akan menguji kamu, hingga nyata dan terbukti mana yang pejuang dan mana yang sabar dari kamu”.(Q.S. Muhammad 31).

Abu Jahja (Shuhaib) bin Sinan Arrumy r.a. berkata :”Bersabda Rasulullah s.a.w, sangat mengagumkan keadaan seorang mu’min, sebab segala keadaannya untuk ia sangat baik, dan tidak mungkin terjadi demikian kecuali bagi seorang mu’min, jika mendapat ni’mat ia bersyukur, maka syukur itu lebih baik baginya, dan bila menderita kesusahan (ia) sabar, maka kesabaran itu lebih baik baginya”.(H.R.Muslim)

Anas r.a. berkata: Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w berasabda: “Allah SWT telah berfirman, apabila Aku menguji seorang hamba-Ku dengan buta kedua matanya, kemudian ia sabar, maka Aku akan menggantikannya dengan syurga”.(H.R.Bukhari)

Subhanallah…
Sahabatku seakidah dan sekeyakinan. Pada akhirnya, semoga kita semua bisa jadi hamba Allah yang penyabar. Aamiin


Orang bijak ditanya : “Pandangan anda siapakah didunia ini ‘Maling’ yang paling jahat?”. Orang bijak menjawab :

“Sejahat-jahatnya orang Maling pasti acap kali ada sholatnya meski belum dianggap benar, tetapi lebih jahat orang yang sholat, ia me-Maling-kan wajah ke kanan dan kirinya dalam salam lima waktu, tapi abai pada hakikatnya salam”.

Orang bijak ditanya lagi : “Apa hubungannya antara ‘salam sholat’ dengan ‘si Maling’ disebutkan jahat?”. Orang bijak pun menjawab :

“Orang maling hakikatnya fakir, dan ia tidak akan maling jikalau seluruh orang yang menegakan sholat ia mendermakan hartanya pada mereka yang kelaparan.

Sedangkan orang yang sholat lebih jahat prilakunya ketika dengannya ia tidak sejalan dengan hakikatnya sholat, ia yang tidak memperhatikan siapa-siapa orang yg sedang dirundum banyak kesusahan, lalu ia tidak mau menyedekahkan hartanya. Ia menengok ke kanan dan ia menengok ke kiri dalam sholat, tapi ia tidak bisa menengok pada apa yang seharusnya ia tengok. Bahkan lebih anehnya ia yg sholat jadi malingnya, aku pikir dialah koruptor dan maling terjahat.

Lantas… Bukankah sesungguhnya sholat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar?!”

Saudaraku, dalam tulisan ini bukan memberi angin segar pada tukang maling hingga dia terus enjoy dengan aktifitas malingnya. Bukan. Tapi sebuah motivasi agar kita yang sholat harus bisa mengaflikasikan hakikat sholat dalam sendi kehidupan sehari-hari. Sebab tiap gerakan sholat itu mengandung filosofi untuk kehidupan kita sehari hari.

Sholat yang telah kita lakukan selama ini tentu bukan sekedar kewajiban, namun juga merupakan kebutuhan untuk jiwa kita. Merupakan sarana agar kita dapat menjalin hubungan dengan erat dengan sang Maha Pencipta. Dibalik itu semua, terdapat filosofi yang luar biasa dari gerakan- gerakan sholat yang Kita lakukan sehari- hari.

1. Takbiratul Ihram (Awal dan Akhir)

Pengawalan segala sesuatu, sebagaimana hidup dimulai kelahiran, sesuatu yg ada pasti ada awalnya. Dengan keimanan kita yakin bahwa semuanya berawal dari Allah. Maka dengan takbir kita mengembalikan kepada segala aktivitas kita adalah karena Allah. Takbiratul Ihram sebagai starting point sholat, simbol starting perjalan hidup. Bermakna penyerahan totalitas pada yang Maha Awal bahwa karenaNya kita ada dan karenaNYa kita melakukan perjalanan hidup.

2. Berdiri (Gerak Perjalanan)

Berdiri lambang siap berjalan menjelajahi kehidupan, karena jika duduk dan berdiam kita tidak mungkin bisa berjalan. Tegak artinya kehidupan harus ditegakkan (ditumbuhkan) pada ruang waktu, iman harus ditegakkan, akhlak harus ditegakkan, amalan pribadi dan amalan sosial juga harus ditegakkan. Sebagai mana sabda rosulullah : “Sholat adalah tiang agama (agama didirikan/ ditegakkan oleh sholat)”.

Dalam tegak berdiri, posisi kepala tunduk, artinya dalam perjalanan hidup akan tunduk dan patuh pada segala hukum dan kehendak Allah. Kedua tangan mendekap ulu hati, simbol bahwa hati harus selalu dijaga kebersihannya dalam perjalanan hidup.

3. Rukuk (Penghormatan)

Mengenal Allah melalui hasil ciptaanNya . Dalam perjalanan hidup, pada ruang ciptaan Allah kita menemukan, menyaksikan dan merasakan bermacam- macam hal : tanah, air, gunung, laut, hewan, sistem kehidupan, rantai makanan, rasa senang, rasa sedih, rasa marah, kelahiran, kematian, pertengkaran, percintaan, ilmu alam, pikiran, manusia sekitar kita, Nabi, Rosul, dll. Ini merupakan bukti bahwa Allah itu Ada sebagai Pencipta dari semua itu. Dan kita tahu apabila tanpa petunjuk para utusan Allah (Nabi dan Rosul) kita tidak akan tahu jika itu semua ciptaan Allah dan dengan para UtusanNya, kita tahu tujuan hidup serta cara mengisi kehidupan ini agar selamat.

4. Itidal (Puja- puji pada Allah)

Kemudian kita berdiri lagi untuk mengisi perjalanan hidup dengan penuh puja dan puji pada Allah serta penuh syukur setiap saat sehingga tercipta kepatuhan dan ketaatan. Dengan mengetahui hasil ciptaan Allah, maka akan tumbuh kekaguman dan kecintaan pada Allah sehingga tumbuh rasa cinta dan iklas atau dengan senang hati akan menjalani menjalani hidup ini sesuai Kehendak Allah.

5. Sujud (penyatuan diri dengan Kehendak Allah)

Jika berdiri di analogikan dengan perjalan jasadi, maka Sujud dengan kaki dilipat, atau setengah berdiri adalah simbol dari perjalanan hati (rohani). Dangan sujud hati dan fikiran kita direndahkan serendahnya sebagai tanda ketundukan total pada atas segala kuasa dan kehendak Allah. Menyatu kan kehendak Allah dengan Kehendak kita.

Sujud pertama merupakan penyatuan Kehendak Allah dengan Kehendak ruhani/ hati/ jiwa kita. Diselangi permohonan pada duduk antara 2 sujud dengan doa : “Rabbighfirli (ampuni aku), warhamni (sayangi aku), Wajburni (cukupkanlah kekuranganku), warfa’ni (tinggikanlah derajadku), warzuqni (berilah aku rezeki), wahdini (tunjukilah aku), wa’fani (sehatkan aku), wa’fu’anni (maafkan aku).

Sujud kedua merupakan pernyataan pengagungan Allah secara lebih personal antara makhluk dengan Sang Pencipta, pernyataan ingin kembali pada Sang Pencipta akhir dari perjalanan. Dan pada waktu itu juga, kita dianjurkan untuk memanjatkan doa dalam sujud kita yang panjang

6. Duduk diantara 2 Sujud (Permohonan)

Pengungkapan berbagai permohonan pada Allah untuk memberikan segala kebutuhan yang diperlukan dalam bekal perjalanan menuju pertemuan denganNya, butuh sumber dukungan hidup jasmani dan ruhani, serta pemeliharaan dan perlindungan jasmani ruhani agar tetap pada jalan Allah.

7. Attahiyat : Pernyataan Ikrar

Tahap pemantapan, karena perjalanan hidup itu naik turun dan fitrah manusia tidak lepas dari sifat lupa, maka perlu pemantapan yang di refresh dan diulang untuk semakin kokoh, yaitu dengan Ikrar Syahadat, dengan simbol pengokohan ikrar melalui telunjuk kanan. Sebelum Ikrar, memberikan penghormatan untuk para Utusan Allah dan ruh hamba- hamba sholeh (Auliya) yang melalui merekalah kita mengenal Allah dan melalui ajaranya kita dibimbing ke jalanNya, serta menjadikan mereka menjadi saksi atas Ikrar kita.

Sholawat menjadi pernyataan kebersediaan mengikuti apa yang diajarkan Rosululloh Muhammad SAW, dan menempatkannya sebagai pimpinan dalam perjalanan kita. Salam penghormatan kepada Bapak para Nabi (Ibrohim) yang menjadi bapak induk ajaran Tauhid. Kemudian diakhir dengan permohonan doa dan permohonan perlindungan dari kejahatan tipuan Setan dan Jin agar kita dapat tetap istiqomah dan berhasil mencapai Allah.

8. Salam

Salam adalah ucapan yang mengakui adanya manusia lain yang sama- sama melakukan perjalanan dalam hidup ini (aspek kemasyarakatan). Menunjukkan bahwa hidup ini tidak sendiri, sehingga hendaknya menyebarkan salam dan berkah kepada sesama untuk saling bahu membahu menegakkan kehidupan yang harmonis (selaras) dan tegaknya kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan di bumi. Salam adalah penutup sekaligus awal dari mulainya praktek aplikasi sholat dalam bentuk aktivitas kehidupan di lapangan hingga ke sholat berikutnya. Nah salam itu simbol dari putaran yang dimulai dari kanan ke kiri dengan poros badan. Jika dihubungkan dengan Hukum Kaidah Tangan Kanan berarti arah energi ke atas, simbolisasi bahwa perjalanan digantungkan pada Allah SWT (di atas) sebagai penjamin keselamatan dalam perjalanan.

Wallahu alamu.
Semoga bermanfaat.

images?q=tbn:ANd9GcTw0X92R7KmC5o8SXtRQI4

Tidak Bisa Shalat Tepat Waktu Karena Ada Alasan Lain Bagaimana Hukumnya?

PERTANYAAN

Nur Anisa

Assalamu’alaikum wr wb

Saya ingin brtanya, apakah boleh sholat maghrib sekitar jam setengah 7 an, karena ada suatu halangan yang membuat saya tidak bisa tepat waktu untuk sholat maghrib, apakah jam 6 lewat hampir setengah 7 an masih boleh melaksanakan sholat maghrib ?

Mohon jawabannya bagi yang tau.

JAWABAN

Wa’alaikumussalamu warahmatullahi wabarakatuh

الحمد لله رب العالمين , والصلاة والسلام على
سيد نا محمد سيدالمرسلين , وعلى اله وصحبه أجمعين والتابعين لهم باحسان الى يوم الد ين . أما بعد

Saudariku Nur Anisa yang terhormat, semoga dirahmati Allah.

Pada dasarnya mengakhirkan sholat itu diharamkan dalam syari’at Islam, berdasarkan Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

فويل للمصلين الذ ين هم عن صلاتهم ساهون . سورة الماعون : ٤-٥

Artinya : “ Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, ( yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”. (QS. al-Ma’uun : 4 – 5)

Bersumber dari Abu Dawud dan Ibnu Maajah dari Ibnu U’mar radhiyallahu a’nhum, Rasulullah shallahu a’laihi wa sallam bersabda :

ثلاثة لا يقبل الله تعالى منهم , صلاة الرجل يأوم قوما وهم له كارهون , والرجل لا يأ تي الصلاة الا د بارا والد بار أن يأ تيها بعد أن يفوتها , ورجل اعتبد محررا أي جعله عبدا . رواه أبوداود وابن ماجه وابن عمر

Dalam hadits ini pada point kedua adalah bantahan bagi orang yang sengaja mengakhirkan sholat, bahwa Allah SWT tidak akan menerima sholatnya seseorang yang mengabaikan kedatangan waktu shalat dan tidak ia shalat kecuali dalam waktu yang mepet.

“ Apakah boleh sholat maghrib sekitar jam setengah 7 an, karena ada suatu halangan yang membuat saya tidak bisa tepat waktu untuk sholat maghrib?” Boleh dan sholatlah sebelum waktunya habis meskipun memang sebenarnya saudari punya dosa mengakhirkan shalat maghrib tersebut, mudah-mudahan Allah mengampuninya, aamiin.

BOLEHNYA MENGAKHIRKAN SHALAT DENGAN MENGAZAM

ULAMA FIQIH membuat rumusan dalam hal seperti ini untuk mengatasi agar tidak terjebak pada perbuatan mengakhirkan sholat yang di haramkan. Caranya adalah, ketika telah tiba waktu sholat dan mulai terdengar gema adzan di masjid-masjid, maka kewajiban kita sebagai muslim ada dua pilihan untuk dipilih:

1. Shalat Diawal Waktu

Bersucilah untuk menyambut shalat tepat diawal waktu. Jika memungkinkan perlu mandi, mandilah segera karena badan banyak kotoran dan debu karena habis aktivitas perlu di bersihkan, setelahnya berwudhu dan shalatlah. Dan inilah yang di maksud Ulama’ Fikih dengan” Wajib Muassa’ “. Kalau saja hal ini tidak bisa dilakukan karena ada alasan tertentu, misalnya sedang dalam perjalanan, atau dalam kendaraan mobil, atau karena airnya harus menunggu dulu dll, nah untuk menghindari seperti ini pada point yang kedua :

2. Mengazam Mengakhirkan Shalat

Jika shalat diawal waktu tidak bisa dilakukan karena ada alasan tertentu, maka wajib diawal waktu untuk mengazam mengakhirkan sholat pada jam tertentu sehingga pada jam tersebut waktu untuk mengerjakan sholat masih panjang dan cukup untuk bersuci, berpakian dll, misalnya kalau waktu zhuhur pada pukul 1 : 30.

Dengan demikian, adalah di bolehkan oleh mayoritas Ulama’ Fuqaha dan tidak termasuk dalam kategori mengakhirkan sholat yang diharamkan. Seandainya seseorang itu mati didalam azaman waktu yang telah ia tentukan sebelumya dan ia belum sempat mengerjakan kewajiban shalat, maka matinya orang tersebut tidak berdosa dalam kategori mengakhirkan sholat, akan tetapi jika tidak mengazam mengakhirkannya, maka ia matinya berdosa karena mengakhirkan shalat.

Wallahu a’lamu bishshowab.

* * * * *

Dasar pengambilan satu :

عبارة كتاب ارشاد العباد صحيفة : ١٤

(تنبها ت) أحدها أن اخراج الصلاة عن وقتها بلا عذرمن أكبرالكباءر المهلكة , فيجب على من فوّتها بغير عذر القضاء فورا وصرف جميع زمنه للقضاء ما عدا الوقت الذي يحتاج لصرفه في تحصيل ما عليه من موء نة نفسه وعياله , وكما يحرم الاخراج عن الوقت يحرم تقد يمها عنه عمدا.

وثانيها أن الصلاة تجب أول الوقت وجوبا موسّعا فله التأخير عن أوله الى وقت يسعها ما لم يظن فوتها بشرط العزم على فعلها فيه والا عصى بالتأخير كمن نام
بلا غلبة بعد دحول الوقت وقبل فعلها حيث لم يظن الا ستيقا ظ قبل ضيق الوقت أو ايقا ظ غيره له .

وثالثها أن فضيلة أول الوقت تحصل باشتغاله
بأسباب الصلاة كطهارة وستر أول الوقت ثم يصليها.

ورابعها أنه يندب تأخير الصلاة عن أول ا لوقت لمن تيقن جماعة أثناءه وان فخش التأخير ما لم يضق الوقت وكذا لمن ظنها اذا لم يفخش التأخير بحيث لايزيد على نصف الوقت ولا يندب التأخير مطلقا لمن شك فيها . اه

* * * * *

Dasar pengambilan dua :

عبارة كتاب شرح رياض الباديعة صحيفة : ٣٠

والأفضل تعجيل الصلاة في أول وقتها [١] ويجوز تأ خيرها عن أول الوقت ولوبلاعذر بشرط أن يعزم على فعلها قبل خروج الوقت [٢] ومثل الصلاة في ذلك بقية الفروض الموسعة كالحجّ.

ويجب على الشخص عند أول بلوغه أن يعزم [٣ ] على فعل جميع الواجبات والامتناع عن جميع المحرمات .[٤]

ومن جحد وجوب الصلاة عليه من المكلفين فهو كافر مرتدّ ويقتل كفرا ان لم يرجع الى الاسلام ولا يصلي عليه ولا يدفن في قبورالمسلمين[٥] فان لم يجحد وجوبها[٦] وأخرها عن وقتها بلا عذر فهو موءمن فاسق[٧] لكنه يقتل بشروط مذكورة في المطولات.[۸]

ولا تسقط الصلاة عن أحد ولواشتد عليه المرض الا اذا غاب عقله بغير تعمد منه[٩] ولا عذرله في تأخيرها في الحضر عن وقتها ولو تكا ثرت عليه الاشغال الا اذا نسيها بغير لعب أو نام قبل دخوله وقتها ولم ينتبه الا بعد فواتها.

واذا فا تت شخصا فريضة بغيرعذر وجب عليه قضاءها علىالفور[١٠] , فان فا تته بعذروجب عليه قضاءها على التراخي , والأفضل له المبادرة بقضاءها . اه

* * * * *

Dasar pengambilan tiga :

عبارة كتاب اعانة الطالبين صحيفة :١١۸ / ج ١

واعلم أن الصلاة تجب بأول الوقت وجوبا موسعا[١١]
فله التأخيرعن أوله الى وقت يسعها بشرط أن يعزم على فعلها فيه[١٢] ولو أدرك في الوقت ركعة [١٣] لادونها فالكل أداء[١٤ ] والا فقضاء …. الخ


Catatan kaki :

[١] لا نه صلى الله عليه وسلم سءل أي الاعمال أفضل
فقال الصلاة في أول وقتها.

[٢] أي على الأ صح وهذا عزم خاص فيجب عليه بدخول الوقت أحد أمرين اما الفعل أو العزم عليه في الوقت فان لم يفعل ولم يعزم أثم فاذا عزم على الفعل فيه ولم يفعل ومات مع اتساع الوقت لا يموت عاصيا لأن لها
وقتا محدودا بحيث لو أخرجها عنه لأثم .

[٣] أي عزما عاما

[٤] أي فان لم يعزم على ذلك عصى ويصح تداركه لمن فا ته ذلك ككثير من الناس .

[٥] أي لخروجه عنهم بالردة ولا في مقابرالمشركين لما تقدم من حرمة الاسلام أما من تركها جاهلا لوجوبها لقرب عهده بالاسلام أونحوه ممن يجوز أن يخفي عليه ذلك كمن بلغ مجنونا ثم أفا ق فليس مرتدا بل يعرف الوجوب فان أصربعد ذلك صار مرتدا كما في النهاية شرح الغاية .

[٦] أي لم ينكره بعد علمه به بل تركها كسلا.

[٧] أي فيستتاب ند با حالا ان أخرجها عن وقت جمع لها ان كان لأن تأخيرالاستتابة يفوت صلوات .

[۸] أي وهي أن يطالبه امام أوناءبه بأداءها ويتوعده بالقتل ان أخرجها عن الوقت فان أخرها وأخرجها عنه استحق القتل فلو أبدى للترك عذرا صحيحا أو باطلا وامتنع منها فلا يقتل … الخ

[٩] أي قال الامام الثلاثة ان فرض الصلاة لايسقط عن المكلف مادام عقله ثا بتا لوجود منا ط التكليف وهوالعقل
وقال الامام أبوحنيفة ان من عا ين الموت وعجز عن الايماء برأسه سقط عنه الفرض وعليه عمل الناس سلفا
وخلفا فلم يبلغنا أن أحدا منهم أمرالحتضر بالصلاة أي لانه
صار قلبه مع الله تعالى فصار حكمه حكم الولي المجذوب .

[١٠] أي فلا يجوز أن يصرف زمنا في غير قضاءها كالتطوع الافيما يضطر اليه كأداء الفروض ّتحصيل مءوونة من تلزمه نفقته وكالنوم .

[١١] أي موسعا فيه فلا يجب فعل الصلاة بأول الوقت على الفور

[١٢] أي في الوقت وحيننْذ لا يأ ثم لومات قبل فعلها ولو بعد امكانه بخلاف ما اذا لم يعزم على فعلها فانه يأثم حيننْذ والعزم المذكور خاص وهو أحد قسمي العزم الواجب الشخص والثاني العزم العام وهو أن يعزم الشخص عند بلوغه على فعل الواجبات وترك المحرمات فان لم يعزم على ذلك عصى ويصح تداركه لمن فا ته ذلك ككثير من
الناس … الخ

[١٣] أي كاملة بأن فرغ من السجدة الثانية قبل خروج الوقت .

[١٤] أي لخبر من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة أي موءداة .

Renungan Hikmah Senja

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sahabat, saudara, saudariku fillah, pembaca yang budiman, semoga dirahmati Allah.

SETIAP insan yang ada di muka bumi ini memiliki episode kehidupannya masing masing, dan tentu di setiap episode kehidupan yang berjalan tidak dapat di pungkiri bahwa di dalamnya selalu ada ujian yang datang.

Ujian ini bisa jadi berupa teguran dan juga bentuk kasih sayang dari Allah SWT, tergantung bagaimana kita menyikapinya dengan hati yang bersihkah atau dengan hati yang keruh dengan noda hitam. Maka Hanya insan yang berhati bersihlah yang mampu mengambil saripati hikmah dari setiap ujian yang Allah berikan kepadanya, bahwa sesulit apapun ujian yang datang pada dirinya akan diyakini bahwa itu sebagai bentuk kasih sayang Allah kepadanya agar ia bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari episode episode sebelumnya. Sementara bagi seorang insan yang berhati keruh akan menganggap setiap ujian yang hadir merupakan bencana yang tak ada ujung penyelesaian masalahnya, sehingga muncul rasa cemas, gelisah, dan kepanikan yang tidak menenangkan lahir dan batin.

Ada rahasia dibalik rahasia atas setiap ujian yang Allah berikan kepada setiap makhluk-Nya. Karena sungguh Allah memiliki alasan mengapa Ia menurunkan ujian kepada Hamba HambaNya, bukan semata mata karena ingin memberikan teguran, tetapi harus kita yakini ini adalah bentuk training dari Allah kepada diri kita agar kita bisa menapaki derajat insan yang beriman di sisi Allah SWT. Sungguh Allah tidak akan menguji suatu kaum melainkan sesuai dengan kemampuannya.

Allah tidak akan menguji hambaNya di luar batas kemampuan hambaNya, maka yakinlah bahwa di setiap ujian yang Allah berikan kepada kita mampu untuk kita hadapi, karena yang menjadi masalah adalah bukan ujian yang datang, tetapi bagaimana cara kita menghadapi dan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang datang kepada kita. Laksana anak kecil yang akan naik kelas dari mulai kelas 1 ke kelas 2, maka untuk bisa mencapai ke kelas 2 sang anak pun harus bisa melewati ujian apakah ia mampu untuk lulus masuk ke kelas 2 atau tidak.

Ujian Allah bisa datang kapan saja dan dari arah yang tidak di duga duga, ia seperti angin yang sulit untuk kita terka arah datangnya. Maka Hal yang kemudian harus kita siapkan adalah bukan untuk mengetahui kapan ujian itu datang, tetapi seberapa siapkah diri kita untuk menyiapkan manuver keimanan ketika ujian itu datang.

Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: “Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Sesungguhnya Allah ’Azza wa jalla bila menyenangi suatu kaum Allah menguji mereka. Barangsiapa bersabar maka baginya manfaat kesabarannya dan barang siapa murka maka baginya murka Allah”.(HR. Tirmidzi).

Sudah seharusnya kita menjadikan ujian yang datang sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Memiliki semua jawaban atas setiap permasalahan hidup kita. Ujian yang datang membuktikan bahwa diri kita ini begitu lemah, sehingga kita membutuhkan pertolongan Allah SWT.

Ujian yang datang bukan karena Allah benci kepada kita, tapi sungguh karena Allah sayang kepada kita. Simaklah Firman Allah SWT yang begitu indah ini, “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu? Yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutanmu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”.(QS. Alam Nasyrah/94:1-8)

Melalui Ayat ini Allah SWT ingin mengingatkan kepada kita akan janjiNya bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, dan harus kita yakini bahwa Allah memiliki banyak pintu kemudahan agar kita bisa melewati setiap ujian yang datang, maka sudah seharusnya kita mengikutsertakan selalu hati yang bersih dan keyakinan yang menghujam di dalam dada kita akan dekatnya pertolongan Allah mana kala kita pun dekat denganNya. Jangan pernah ragu akan janji datangnya pertolongan Allah, Allah lah yang punya kuasa membalikkan keadaan, Allah lah yang memiliki kuasa menjadikan kita tersenyum bahagia selepas kita menangis, dan Allah lah yang memiliki kuasa atas setiap jawaban di setiap ujian yang kita hadapi, jangankan menenangkan ombak yang ganas, menenangkan air mata kita yang larut di pipi dan mengubahnya menjadi senyuman yang manis pun Allah sudah pasti sanggup.

Maka untuk apa kita ragu, yakinlah ada kasih sayang Allah di balik ujian yang datang dan mulai saat ini, ketika ada ujian yang datang haruslah kita Hadapi, Hayati dan Nikmati. Karena sungguh bisa jadi ujian yang Allah berikan kepada kita adalah sebuah undangan khusus dari Allah agar kita bisa kembali dekat denganNya.

Semoga ulasan ini ada manfa’atnya.
Wilujeng sonten kanggo wargi sadaya. Mugia salawasna aya dina panangtayungan Allah nu Maha Kawasa, dina sagala rengkak paripolah mugi-mugi aya dina PikaridhoNa.

Aamiin

SOAL :
Dalam sebuah hadits riwayat Ibnu
Maajah, Rasulullah shallallahu a’laihi
wasallam bersabda:

ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺍﺧﻮﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻻﻳﺪﻉ ﻧﺼﻴﺤﺘﻪ ﻋﻠﻰ ﻛﻞ ﺣﺎﻝ .
)ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ).

Artinya : “Orang mu’min itu adalah
menjadi saudara sesama mu’min
lainnya, (karena itu) janganlah
meninggalkan memberi nasihat dalam
segala hal”. (HR. Ibnu Maajah).
Pertanyaannya, apakah boleh
memberi nasihat pada orang lain
sementara diri sendiripun masih perlu
diluruskan alias belum layak memberi
nasihat?

JAWAB :

Ibnu Rajab Al-Hambali berkata,

ﻓﻼ ﺑﺪ ﻟﻺﻧﺴﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭ ﺍﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ
ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﻭ ﺍﻟﻮﻋﻆ ﻭ ﺍﻟﺘﺬﻛﻴﺮ ﻭ ﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﻌﻆ ﺇﻻ ﻣﻌﺼﻮﻡ
ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻟﻞ ﻟﻢ ﻳﻌﻆ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﻌﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺃﺣﺪ ﻷﻧﻪ ﻻ ﻋﺼﻤﺔ ﻷﺣﺪ ﺑﻌﺪﻩ

“Tetap bagi setiap orang untuk
mengajak yang lain pada kebaikan dan
melarang dari kemungkaran. Tetap
ada saling menasihati dan saling
mengingatkan. Seandainya yang
mengingatkan hanyalah orang yang
maksum (yang bersih dari dosa, pen.),
tentu tidak ada lagi yang bisa
memberi nasihat sepeninggal Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena
sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam tidak ada lagi yang maksum.”
Dalam bait sya’ir disebutkan,

ﻟﺌﻦ ﻟﻢ ﻳﻌﻆ ﺍﻟﻌﺎﺻﻴﻦ ﻣﻦ ﻫﻮ ﻣﺬ ﻧﺐ … ﻓﻤﻦ ﻳﻌﻆ
ﺍﻟﻌﺎﺻﻴﻦ ﺑﻌﺪ ﻣﺤﻤﺪ

“Jika orang yang berbuat dosa tidak
boleh memberi nasihat pada yang
berbuat maksiat, maka siapa lagi yang
boleh memberikan nasihat setelah
(Nabi) Muhammad (wafat)?”
Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan
dengan sanad yang dha’if, dari Abu
Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam,

ﻣﺮﻭﺍ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭ ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﻌﻤﻠﻮﺍ ﺑﻪ ﻛﻠﻪ ﻭ ﺍﻧﻬﻮﺍ ﻋﻦ
ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﻭ ﺇﻥ ﻟﻢ ﺗﺘﻨﺎﻫﻮﺍ ﻋﻨﻪ ﻛﻠﻪ

“Perintahkanlah pada yang makruf
(kebaikan), walau engkau tidak
mengamalkan semuanya. Laranglah
dari kemungkaran walau engkau tidak
bisa jauhi semua larangan yang ada.”
Ada yang berkata pada Al-Hasan Al-
Bashri,

ﺇﻥ ﻓﻼﻧﺎ ﻻ ﻳﻌﻆ ﻭ ﻳﻘﻮﻝ : ﺃﺧﺎﻑ ﺃﻥ ﺃﻗﻮﻝ ﻣﺎﻻ ﺃﻓﻌﻞ
ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺤﺴﻦ : ﻭ ﺃﻳﻨﺎ ﻳﻔﻌﻞ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﻭﺩ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺃﻧﻪ
ﻇﻔﺮ ﺑﻬﺬﺍ ﻓﻠﻢ ﻳﺄﻣﺮ ﺃﺣﺪ ﺑﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭ ﻟﻢ ﻳﻨﻪ ﻋﻦ ﻣﻨﻜﺮ

“Sesungguhnya ada seseorang yang
enggan memberi nasihat dan ia
mengatakan, “Aku takut berkata
sedangkan aku tidak
mengamalkannya.” Al-Hasan Al-
Bashri berkata, “Apa ada yang
mengamalkan setiap yang ia
ucapkan?” Sesungguhnya setan itu
suka manusia jadi seperti itu.
Akhirnya, mereka enggan mengajak
yang lain dalam perkara yang makruf
(kebaikan) dan melarang dari
kemungkaran.
Malik berkata dari Rabi’ah
bahwasanya Sa’id bin Jubair berkata,

ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﺮﺀ ﻻ ﻳﺄﻣﺮ ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭ ﻻ ﻳﻨﻬﻰ ﻋﻦ
ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﺣﺘﻰ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻴﻪ ﺷﻲﺀ ﻣﺎ ﺃﻣﺮ ﺃﺣﺪ ﺑﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭ
ﻻ ﻧﻬﻰ ﻋﻦ ﻣﻨﻜﺮ ﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ : ﻭ ﺻﺪﻕ ﻭ ﻣﻦ ﺫﺍ ﺍﻟﺬﻱ
ﻟﻴﺲ ﻓﻴﻪ ﺷﻲﺀ

“Seandainya seseorang tidak boleh
beramar makruf nahi mungkar (saling
mengingatkan pada kebaikan dan
melarang dari kemungkaran, pen.)
kecuali setelah bersih dari dosa, tentu
ada yang pantas untuk amar makruf
nahi mungkar.” Malik lantas berkata,
“Iya betul. Siapa yang mengaku bersih
dari dosa?”
Dalam bait sya’ir disebutkan,

ﻣﻦ ﺫﺍ ﺍﻟﺬﻱ ﻣﺎ ﺳﺎﺀ ﻗﻂ … ﻭ ﻣﻦ ﻟﻪ ﺍﻟﺤﺴﻨﻰ ﻓﻘﻂ

“Siapa yang berani mengaku telah
bersih dari dosa sama sekali. Siapa
yang mengaku dalam dirinya terdapat
kebaikan saja (tanpa ada dosa, pen.)?”
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah
berkhutbah pada suatu hari. Ia
menasihati,

ﺇﻧﻲ ﻷﻗﻮﻝ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﻘﺎﻟﺔ ﻭ ﻣﺎ ﺃﻋﻠﻢ ﻋﻨﺪ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ
ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻤﺎ ﺃﻋﻠﻢ ﻋﻨﺪﻱ ﻓﺎﺳﺘﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺃﺗﻮﺏ ﺇﻟﻴﻪ

“Sungguh aku berkata dan aku lebih
tahu bahwa tidak ada seorang pun
yang memiliki dosa lebih banyak dari
yang aku tahu ada pada diriku.
Karenanya aku memohon ampun pada
Allah dan bertaubat pada-Nya.”
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz juga pernah
menuliskan surat berisi nasihat pada
beberapa wakilnya yang ada di
berbagai kota:
“Aku beri nasihat seperti ini. Padahal
aku sendiri telah melampaui batas
terhadap diriku dan pernah berbuat
salah. Seandainya seseorang tidak
boleh menasihati saudaranya sampai
dirinya bersih dari kesalahan, maka
tentu semua akan merasa dirinya
telah baik (karena tak ada yang
menasihati, pen.). Jika disyaratkan
harus bersih dari kesalahan, berarti
hilanglah amar makruf nahi mungkar.
Jadinya, yang haram dihalalkan.
Sehingga berkuranglah orang yang
memberi nasihat di muka bumi. Setan
pun akhirnya senang jika tidak ada
yang beramar makruf nahi mungkar
sama sekali. Sebaliknya jika ada yang
saling menasihati dalam kebaikan dan
melarang dari kemungkaran, setan
akan menyalahkannya. Setan
menggodanya dengan berkata, kenapa
engkau memberi nasihat pada orang
lain, padahal dirimu sendiri belum
baik.”

Demikian penjelasan menarik dari
Ibnu Rajab dalam Lathaif Al-Ma’arif,
hlm. 42-43.
Penjelasan di atas bukan berarti kita
boleh tetap terus dalam maksiat.
Maksiat tetaplah ditinggalkan.
Pemaparan Ibnu Rajab hanya ingin
menekankan bahwa jangan sampai
patah semangat dalam menasihati
orang lain walau diri kita belum baik
atau belum sempurna. Yang penting
kita mau terus memperbaiki diri.
Etika Dan Norma Amar Ma’ruf Nahyi
Munkar
Tidak disangsikan lagi bahwa adanya
perbedaan antara kata dan realita
adalah salah satu hal yang sangat
berbahaya. Itulah sebab datangnya
murka Allah sebagaimana firman-Nya
surat Shaff ayat 2 dan 3.

ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮﺍ ﻟﻢ ﺗﻘﻮﻟﻮﻥ ﻣﺎ ﻻ ﺗﻔﻌﻠﻮﻥ . ﻛﺒﺮ ﻣﻘﺘﺎ
ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻥ ﺗﻘﻮﻟﻮﺍ ﻣﺎ ﻻ ﺗﻔﻌﻠﻮﻥ

“Wahai orang-orang yang beriman,
kenapa kamu mengatakan sesuatu
yang tidak kamu kerjakan? Amat
besar kebencian di sisi Allah bahwa
kamu mengatakan apa-apa yang tidak
kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)
Allah juga mencela perilaku Bani
Israil dengan firman-Nya,

ﺃﺗﺄﻣﺮﻭﻥ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﺎﻟﺒﺮ ﻭﺗﻨﺴﻮﻥ ﺃﻧﻔﺴﻜﻢ ﻭﺃﻧﺘﻢ ﺗﺘﻠﻮﻥ
ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﺃﻓﻼ ﺗﻌﻘﻠﻮﻥ

“Mengapa kamu suruh orang lain
(mengerjakan) kebaktian, sedang
kamu melupakan diri (kewajiban) mu
sendiri, Padahal kamu membaca Al
kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu
berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44)
Demikian pula terdapat dalam hadits.
Dari Usamah, aku mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Akan didatangkan
seorang pada hari kiamat lalu
dicampakkan ke dalam neraka. Di
dalam neraka orang tersebut berputar-
putar sebagaimana keledai berputar
mengelilingi mesin penumbuk
gandum. Banyak penduduk neraka
yang mengelilingi orang tersebut lalu
berkata, ‘Wahai Fulan, bukankah
engkau dahulu sering memerintahkan
kebaikan dan mencegah
kemungkaran?’ Orang tersebut
menjawab, ‘Sungguh dulu aku sering
memerintahkan kebaikan namun aku
tidak melaksanakannya. Sebaliknya
aku juga melarang kemungkaran tapi
aku menerjangnya.’” (HR Bukhari dan
Muslim)

Berkaitan dengan para penceramah,
dai dan mubaligh bahkan terdapat
hadits khusus. Dari Anas bin Malik,
Rasulullah bersabda, “Saat malam
Isra’ Mi’raj aku melintasi sekelompok
orang yang bibirnya digunting dengan
gunting dari api neraka.” “siapakah
mereka”, tanyaku kepada Jibril. Jibril
mengatakan, “mereka adalah orang-
orang yang dulunya menjadi
penceramah ketika di dunia. Mereka
sering memerintahkan orang lain
melakukan kebaikan tapi mereka
lupakan diri mereka sendiri padahal
mereka membaca firman-firman
Allah, tidakkah mereka
berpikir?” (HR. Ahmad, Abu Nu’aim
dan Abu Ya’la. Menurut al-Haitsami
salah satu sanad dalam riwayat Abu
Ya’la para perawinya adalah para
perawi yang digunakan dalam kitab
shahih)

Dalil-dalil di atas menunjukkan
pengingkaran keras terhadap orang
yang punya ilmu tapi tidak
mengamalkan ilmunya. Inilah salah
satu sifat orang-orang Yahudi yang
dicap sebagai orang-orang yang
mendapatkan murka Allah disebabkan
mereka berilmu namun tidak beramal.
Oleh karena itu, Ibnu Qudamah
mengatakan, “Ketika berkhutbah
seorang khatib dianjurkan untuk turut
meresapi apa yang dia nasihatkan
kepada banyak orang.” (Al-Mughni,
3/180)

Ali bin Abi Thalib mengatakan,
“Duhai orang-orang yang memiliki
ilmu amalkanlah ilmu kalian. Orang
yang berilmu secara hakiki hanyalah
orang yang mengamalkan ilmu yang
dia miliki sehingga amalnya selaras
dengan ilmunya. Suatu saat nanti akan
muncul banyak orang yang memiliki
ilmu namun ilmu tersebut tidaklah
melebihi kerongkongannya sampai-
sampai ada seorang yang marah
terhadap muridnya karena ngaji
kepada guru yang lain.” (Al-Adab Asy-
Syar’iyyah, 2/53)

Abu Darda radhiyallahu ‘anhu
mengatakan, “tanda kebodohan itu
ada tiga; pertama mengagumi diri
sendiri, kedua banyak bicara dalam
hal yang tidak manfaat, ketiga
melarang sesuatu namun
melanggarnya. (Jami’ Bayan Al-Ilmi
wa Fadhlih, 1/143)

Jundub bin Abdillah Al-Bajali
mengatakan, “gambaran yang tepat
untuk orang yang menasihati orang
lain namun melupakan dirinya sendiri
adalah laksana lilin yang membakar
dirinya sendiri untuk menerangi
sekelilingnya.” (Jami’ Bayan Ilmi wa
Fadhlih, 1/195)

Bahkan sebagian ulama memvonis gila
orang yang pandai berkata namun
tidak mempraktekkannya karena
Allah berfirman, “Tidakkah mereka
berakal?” (QS. Al-Baqarah: 44)
Sungguh tepat syair yang disampaikan
oleh manshur al-Fakih, “Sungguh ada
orang yang menyuruh kami untuk
melakukan sesuatu yang tidak mereka
lakukan, sungguh orang-orang gila.
Dan sungguh mereka tidaklah
berterus terang.” (Tafsir Qurthubi,
1/410)

Berikut ini, beberapa perkataan
salafus shalih berkaitan dengan
masalah ini sebagaimana yang
disebutkan oleh Ibnu Abdil Barr
dalam Jami’ Bayan Ilmi wa Fadhlih :
Siapa saja yang Allah halangi untuk
mendapatkan ilmu maka Allah akan
menyiksanya karena kebodohannya.
Orang yang lebih keras siksaannya
adalah orang yang ilmu itu datang
kepadanya tapi dia berpaling
meninggalkan ilmu. Demikian pula
orang yang Allah berikan kepadanya
ilmu tapi tidak diamalkan.
Ubay bin Ka’ab mengatakan,
“Pelajarilah ilmu agama dan
amalkanlah dan janganlah kalian
belajar untuk mencari decak kagum
orang. Jika kalian berumur panjang
segera akan muncul satu masa di masa
tersebut orang mencari decak kagum
orang lain dengan ilmu yang dia miliki
sebagaimana mencari decak kagum
dengan pakaian yang dikenakan.
Abdullah ibn Mas’ud mengatakan,
“semua orang itu pintar ngomong.
Oleh karenanya siapa yang
perbuatannya sejalan dengan
ucapannya itulah orang yang
dikagumi. Akan tetapi bila lain ucapan
lain perbuatan itulah orang yang
mencela dirinya sendiri.
Al-Hasan Bashri mengatakan,
“Nilailah orang dengan amal
perbuatannya jangan dengan
ucapannya. Sesungguhnya semua
ucapan itu pasti ada buktinya. Berupa
amal yang membenarkan ucapan
tersebut atau mendustakannya. Jika
engkau mendengar ucapan yang bagus
maka jangan tergesa-gesa menilai
orang yang mengucapkannya sebagai
orang yang bagus. Jika ternyata
ucapannya itu sejalan dengan
perbuatannya itulah sebaik-baik
manusia.”
Imam Malik menyebutkan bahwa
beliau mendapatkan berita al-Qasim
bin Muhammad yang mengatakan,
“Aku menjumpai sejumlah orang
tidak mudah terkesima dengan ucapan
namun benar-benar salut dengan amal
perbuatan.”

Abu Darda mengatakan, “Sebuah
kecelakaan bagi orang yang tidak tahu
sehingga tidak beramal. Sebaliknya
ada 70 kecelakaan untuk orang yang
tahu namun tidak beramal.”
Tidak diragukan lagi bahwa
permisalan orang yang beramar
makruf nahi mungkar adalah seperti
dokter yang mengobati orang lain.
Satu hal yang memalukan ketika
seorang dokter bisa menyebutkan
obat yang tepat untuk pasiennya
demikian pula tindakan preventif
untuk mencegah penyakit pasiennya
kemudian ternyata dia sendiri tidak
menjalankannya.
Berdasarkan keterangan yang lewat,
jelas sudah betapa bahaya hal ini,
karenanya menjadi kewajiban setiap
da’i dan muballigh untuk
memperhatikannya. Karena jika
obyek dakwah mengetahui hal ini
maka mereka akan mengejek sang
pendakwah. Belum lagi hukuman di
akhirat nanti dan betapa besar dosa
yang akan dipikul nanti.
Sebagian orang tidak mau
melaksanakan amar makruf dan nahi
mungkar karena merasa belum
melakukan yang makruf dan masih
melanggar yang mungkar. Orang
tersebut khawatir termasuk orang
yang mengatakan apa yang tidak dia
lakukan.

Sa’id bin Jubair mengatakan, “Jika
tidak boleh melakukan amar makruf
dan nahi mungkar kecuali orang yang
sempurna niscaya tidak ada satupun
orang yang boleh melakukannya.”
Ucapan Sa’id bin Jubair ini dinilai
oleh Imam Malik sebagai ucapan yang
sangat tepat. (Tafsir Qurthubi, 1/410)
Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata
kepada Mutharrif bin Abdillah,
“Wahai Mutharrif nasihatilah teman-
temanmu.” Mutharrif mengatakan,
“Aku khawatir mengatakan yang tidak
ku lakukan.” Mendengar hal tersebut,
Hasan Al-Bashri mengatakan,
“Semoga Allah merahmatimu,
siapakah di antara kita yang
mengerjakan apa yang dia katakan,
sungguh setan berharap bisa
menjebak kalian dengan hal ini
sehingga tidak ada seorang pun yang
berani amar makruf nahi
mungkar.” (Tafsir Qurthubi, 1/410)

Al-Hasan Al-Bashri juga pernah
mengatakan, “Wahai sekalian manusia
sungguh aku akan memberikan
nasihat kepada kalian padahal aku
bukanlah orang yang paling shalih dan
yang paling baik di antara kalian.
Sungguh aku memiliki banyak maksiat
dan tidak mampu mengontrol dan
mengekang diriku supaya selalu taat
kepada Allah. Andai seorang mukmin
tidak boleh memberikan nasihat
kepada saudaranya kecuali setelah
mampu mengontrol dirinya niscaya
hilanglah para pemberi nasihat dan
minimlah orang-orang yang mau
mengingatkan.” (Tafsir Qurthubi,
1/410)

Untuk mengompromikan dua hal ini,
Imam Baihaqi mengatakan,
“Sesungguhnya yang tidak tercela itu
berlaku untuk orang yang ketaatannya
lebih dominan sedangkan
kemaksiatannya jarang-jarang. Di
samping itu, maksiat tersebut pun
sudah ditutup dengan taubat.
Sedangkan orang yang dicela adalah
orang yang maksiatnya lebih dominan
dan ketaatannya jarang-jarang.” (Al-
Jami’ Li Syuabil Iman, 13/256)
Sedangkan Imam Nawawi
mengatakan, “Para ulama
menjelaskan orang yang melakukan
amar makruf dan nahi mungkar
tidaklah disyaratkan haruslah orang
yang sempurna, melaksanakan semua
yang dia perintahkan dan menjauhi
semua yang dia larang. Bahkan
kewajiban amar makruf itu tetap ada
meski orang tersebut tidak
melaksanakan apa yang dia
perintahkan. Demikian pula
kewajiban nahi mungkar itu tetap ada
meski orangnya masih mengerjakan
apa yang dia larang. Hal ini
dikarenakan orang tersebut memiliki
dua kewajiban, pertama memerintah
dan melarang diri sendiri, kedua
memerintah dan melarang orang lain.
Jika salah satu sudah ditinggalkan
bagaimanakah mungkin hal itu
menjadi alasan untuk meninggalkan
yang kedua.” (Al-Minhaj, 1/300)
Ibnu Hajar menukil perkataan
sebagian ulama, “Amar makruf itu
wajib bagi orang yang mampu
melakukannya dan tidak khawatir
adanya bahaya menimpa dirinya
meskipun orang yang melakukan amar
makruf tersebut dalam kondisi
bermaksiat. Secara umum orang
tersebut tetap mendapatkan pahala
karena melaksanakan amar makruf
terlebih jika kata-kata orang tersebut
sangat ditaati. Sedangkan dosa yang
dia miliki maka boleh jadi Allah
ampuni dan boleh jadi Allah menyiksa
karenanya. Adapun orang yang
beranggapan tidak boleh beramar
makruf kecuali orang yang tidak
memiliki cacat maka jika yang dia
maksudkan bahwa itulah yang ideal
maka satu hal yang baik. Jika tidak
maka anggapan tersebut
berkonsekuensi menutup pintu amar
makruf jika tidak ada orang yang
memenuhi kriteria.” (Fathul Baari,
14/554)

Wallahu a’lamu bishshowab.

Tidak Bisa Shalat Tepat Waktu
Karena Ada Alasan Lain
Bagaimana Hukumnya?
PERTANYAAN
Nur Anisa
Assalamu’alaikum wr wb
Saya ingin brtanya, apakah boleh sholat
maghrib sekitar jam setengah 7 an,
karena ada suatu halangan yang membuat
saya tidak bisa tepat waktu untuk sholat
maghrib, apakah jam 6 lewat hampir
setengah 7 an masih boleh melaksanakan
sholat maghrib ?
Mohon jawabannya bagi yang tau.
JAWABAN
Wa’alaikumussalamu warahmatullahi
wabarakatuh
ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ , ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪ ﻧﺎ
ﻣﺤﻤﺪ ﺳﻴﺪﺍﻟﻤﺮﺳﻠﻴﻦ , ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ
ﻭﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻟﻬﻢ ﺑﺎﺣﺴﺎﻥ ﺍﻟﻰ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺪ ﻳﻦ . ﺃﻣﺎ ﺑﻌﺪ
Saudariku Nur Anisa yang terhormat,
semoga dirahmati Allah.
Pada dasarnya mengakhirkan sholat itu
diharamkan dalam syari’at Islam,
berdasarkan Firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala :
ﻓﻮﻳﻞ ﻟﻠﻤﺼﻠﻴﻦ ﺍﻟﺬ ﻳﻦ ﻫﻢ ﻋﻦ ﺻﻼﺗﻬﻢ ﺳﺎﻫﻮﻥ . ﺳﻮﺭﺓ
ﺍﻟﻤﺎﻋﻮﻥ : ٤-٥
Artinya : “ Maka kecelakaanlah bagi
orang-orang yang shalat, ( yaitu) orang-
orang yang lalai dari shalatnya”. (QS. al-
Ma’uun : 4 – 5)
Bersumber dari Abu Dawud dan Ibnu
Maajah dari Ibnu U’mar radhiyallahu
a’nhum, Rasulullah shallahu a’laihi wa
sallam bersabda :
ﺛﻼﺛﺔ ﻻ ﻳﻘﺒﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﻨﻬﻢ , ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻳﺄﻭﻡ ﻗﻮﻣﺎ
ﻭﻫﻢ ﻟﻪ ﻛﺎﺭﻫﻮﻥ , ﻭﺍﻟﺮﺟﻞ ﻻ ﻳﺄ ﺗﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺍﻻ ﺩ ﺑﺎﺭﺍ ﻭﺍﻟﺪ
ﺑﺎﺭ ﺃﻥ ﻳﺄ ﺗﻴﻬﺎ ﺑﻌﺪ ﺃﻥ ﻳﻔﻮﺗﻬﺎ , ﻭﺭﺟﻞ ﺍﻋﺘﺒﺪ ﻣﺤﺮﺭﺍ ﺃﻱ
ﺟﻌﻠﻪ ﻋﺒﺪﺍ . ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ
Dalam hadits ini pada point kedua adalah
bantahan bagi orang yang sengaja
mengakhirkan sholat, bahwa Allah SWT
tidak akan menerima sholatnya
seseorang yang mengabaikan kedatangan
waktu shalat dan tidak ia shalat kecuali
dalam waktu yang mepet.
“ Apakah boleh sholat maghrib sekitar
jam setengah 7 an, karena ada suatu
halangan yang membuat saya tidak bisa
tepat waktu untuk sholat maghrib?”
Boleh dan sholatlah sebelum waktunya
habis meskipun memang sebenarnya
saudari punya dosa mengakhirkan shalat
maghrib tersebut, mudah-mudahan Allah
mengampuninya, aamiin.
BOLEHNYA MENGAKHIRKAN
SHALAT DENGAN MENGAZAM
ULAMA FIQIH membuat rumusan
dalam hal seperti ini untuk mengatasi
agar tidak terjebak pada perbuatan
mengakhirkan sholat yang di haramkan.
Caranya adalah, ketika telah tiba waktu
sholat dan mulai terdengar gema adzan di
masjid-masjid, maka kewajiban kita
sebagai muslim ada dua pilihan untuk
dipilih:
1. Shalat Diawal Waktu
Bersucilah untuk menyambut shalat tepat
diawal waktu. Jika memungkinkan perlu
mandi, mandilah segera karena badan
banyak kotoran dan debu karena habis
aktivitas perlu di bersihkan, setelahnya
berwudhu dan shalatlah. Dan inilah yang
di maksud Ulama’ Fikih dengan” Wajib
Muassa’ “. Kalau saja hal ini tidak bisa
dilakukan karena ada alasan tertentu,
misalnya sedang dalam perjalanan, atau
dalam kendaraan mobil, atau karena
airnya harus menunggu dulu dll, nah
untuk menghindari seperti ini pada point
yang kedua :
2. Mengazam Mengakhirkan Shalat
Jika shalat diawal waktu tidak bisa
dilakukan karena ada alasan tertentu,
maka wajib diawal waktu untuk
mengazam mengakhirkan sholat pada
jam tertentu sehingga pada jam tersebut
waktu untuk mengerjakan sholat masih
panjang dan cukup untuk bersuci,
berpakian dll, misalnya kalau waktu
zhuhur pada pukul 1 : 30.
Dengan demikian, adalah di bolehkan
oleh mayoritas Ulama’ Fuqaha dan tidak
termasuk dalam kategori mengakhirkan
sholat yang diharamkan. Seandainya
seseorang itu mati didalam azaman
waktu yang telah ia tentukan sebelumya
dan ia belum sempat mengerjakan
kewajiban shalat, maka matinya orang
tersebut tidak berdosa dalam kategori
mengakhirkan sholat, akan tetapi jika
tidak mengazam mengakhirkannya, maka
ia matinya berdosa karena mengakhirkan
shalat.
Wallahu a’lamu bishshowab.
* * * * *
Dasar pengambilan satu :
ﻋﺒﺎﺭﺓ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﺭﺷﺎﺩ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ﺻﺤﻴﻔﺔ : ١٤
( ﺗﻨﺒﻬﺎ ﺕ( ﺃﺣﺪﻫﺎ ﺃﻥ ﺍﺧﺮﺍﺝ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻦ ﻭﻗﺘﻬﺎ ﺑﻼ ﻋﺬﺭﻣﻦ
ﺃﻛﺒﺮﺍﻟﻜﺒﺎﺀﺭ ﺍﻟﻤﻬﻠﻜﺔ , ﻓﻴﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻓﻮﺗﻬﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﻋﺬﺭ
ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻓﻮﺭﺍ ﻭﺻﺮﻑ ﺟﻤﻴﻊ ﺯﻣﻨﻪ ﻟﻠﻘﻀﺎﺀ ﻣﺎ ﻋﺪﺍ ﺍﻟﻮﻗﺖ
ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﻟﺼﺮﻓﻪ ﻓﻲ ﺗﺤﺼﻴﻞ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﻣﻮﺀ ﻧﺔ ﻧﻔﺴﻪ
ﻭﻋﻴﺎﻟﻪ , ﻭﻛﻤﺎ ﻳﺤﺮﻡ ﺍﻻﺧﺮﺍﺝ ﻋﻦ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻳﺤﺮﻡ ﺗﻘﺪ ﻳﻤﻬﺎ
ﻋﻨﻪ ﻋﻤﺪﺍ .
ﻭﺛﺎﻧﻴﻬﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺗﺠﺐ ﺃﻭﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﺟﻮﺑﺎ ﻣﻮﺳﻌﺎ ﻓﻠﻪ
ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﻋﻦ ﺃﻭﻟﻪ ﺍﻟﻰ ﻭﻗﺖ ﻳﺴﻌﻬﺎ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻈﻦ ﻓﻮﺗﻬﺎ ﺑﺸﺮﻁ
ﺍﻟﻌﺰﻡ ﻋﻠﻰ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻓﻴﻪ ﻭﺍﻻ ﻋﺼﻰ ﺑﺎﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﻛﻤﻦ ﻧﺎﻡ ﺑﻼ
ﻏﻠﺒﺔ ﺑﻌﺪ ﺩﺣﻮﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﻗﺒﻞ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﺣﻴﺚ ﻟﻢ ﻳﻈﻦ ﺍﻻ ﺳﺘﻴﻘﺎ
ﻅ ﻗﺒﻞ ﺿﻴﻖ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﺃﻭ ﺍﻳﻘﺎ ﻅ ﻏﻴﺮﻩ ﻟﻪ .
ﻭﺛﺎﻟﺜﻬﺎ ﺃﻥ ﻓﻀﻴﻠﺔ ﺃﻭﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﺗﺤﺼﻞ ﺑﺎﺷﺘﻐﺎﻟﻪ ﺑﺄﺳﺒﺎﺏ
ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻛﻄﻬﺎﺭﺓ ﻭﺳﺘﺮ ﺃﻭﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﺛﻢ ﻳﺼﻠﻴﻬﺎ .
ﻭﺭﺍﺑﻌﻬﺎ ﺃﻧﻪ ﻳﻨﺪﺏ ﺗﺄﺧﻴﺮ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻦ ﺃﻭﻝ ﺍ ﻟﻮﻗﺖ ﻟﻤﻦ ﺗﻴﻘﻦ
ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺃﺛﻨﺎﺀﻩ ﻭﺍﻥ ﻓﺨﺶ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﻣﺎ ﻟﻢ ﻳﻀﻖ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﻛﺬﺍ
ﻟﻤﻦ ﻇﻨﻬﺎ ﺍﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻔﺨﺶ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﺑﺤﻴﺚ ﻻﻳﺰﻳﺪ ﻋﻠﻰ ﻧﺼﻒ
ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﻻ ﻳﻨﺪﺏ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻟﻤﻦ ﺷﻚ ﻓﻴﻬﺎ . ﺍﻩ
* * * * *
Dasar pengambilan dua :
ﻋﺒﺎﺭﺓ ﻛﺘﺎﺏ ﺷﺮﺡ ﺭﻳﺎﺽ ﺍﻟﺒﺎﺩﻳﻌﺔ ﺻﺤﻴﻔﺔ : ٣٠
ﻭﺍﻷﻓﻀﻞ ﺗﻌﺠﻴﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﺃﻭﻝ ﻭﻗﺘﻬﺎ ]١[ ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺗﺄ
ﺧﻴﺮﻫﺎ ﻋﻦ ﺃﻭﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﻟﻮﺑﻼﻋﺬﺭ ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﻳﻌﺰﻡ ﻋﻠﻰ
ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻗﺒﻞ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ]٢[ ﻭﻣﺜﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺑﻘﻴﺔ
ﺍﻟﻔﺮﻭﺽ ﺍﻟﻤﻮﺳﻌﺔ ﻛﺎﻟﺤﺞ .
ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﻋﻨﺪ ﺃﻭﻝ ﺑﻠﻮﻏﻪ ﺃﻥ ﻳﻌﺰﻡ ]٣ [ ﻋﻠﻰ
ﻓﻌﻞ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻮﺍﺟﺒﺎﺕ ﻭﺍﻻﻣﺘﻨﺎﻉ ﻋﻦ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺎﺕ .]٤ ]
ﻭﻣﻦ ﺟﺤﺪ ﻭﺟﻮﺏ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻜﻠﻔﻴﻦ ﻓﻬﻮ ﻛﺎﻓﺮ
ﻣﺮﺗﺪ ﻭﻳﻘﺘﻞ ﻛﻔﺮﺍ ﺍﻥ ﻟﻢ ﻳﺮﺟﻊ ﺍﻟﻰ ﺍﻻﺳﻼﻡ ﻭﻻ ﻳﺼﻠﻲ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﻻ ﻳﺪﻓﻦ ﻓﻲ ﻗﺒﻮﺭﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ]٥[ ﻓﺎﻥ ﻟﻢ ﻳﺠﺤﺪ ﻭﺟﻮﺑﻬﺎ]٦[
ﻭﺃﺧﺮﻫﺎ ﻋﻦ ﻭﻗﺘﻬﺎ ﺑﻼ ﻋﺬﺭ ﻓﻬﻮ ﻣﻮﺀﻣﻦ ﻓﺎﺳﻖ]٧[ ﻟﻜﻨﻪ
ﻳﻘﺘﻞ ﺑﺸﺮﻭﻁ ﻣﺬﻛﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻄﻮﻻﺕ.]۸ ]
ﻭﻻ ﺗﺴﻘﻂ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻦ ﺃﺣﺪ ﻭﻟﻮﺍﺷﺘﺪ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﺍﻻ ﺍﺫﺍ
ﻏﺎﺏ ﻋﻘﻠﻪ ﺑﻐﻴﺮ ﺗﻌﻤﺪ ﻣﻨﻪ]٩[ ﻭﻻ ﻋﺬﺭﻟﻪ ﻓﻲ ﺗﺄﺧﻴﺮﻫﺎ ﻓﻲ
ﺍﻟﺤﻀﺮ ﻋﻦ ﻭﻗﺘﻬﺎ ﻭﻟﻮ ﺗﻜﺎ ﺛﺮﺕ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻻﺷﻐﺎﻝ ﺍﻻ ﺍﺫﺍ
ﻧﺴﻴﻬﺎ ﺑﻐﻴﺮ ﻟﻌﺐ ﺃﻭ ﻧﺎﻡ ﻗﺒﻞ ﺩﺧﻮﻟﻪ ﻭﻗﺘﻬﺎ ﻭﻟﻢ ﻳﻨﺘﺒﻪ ﺍﻻ ﺑﻌﺪ
ﻓﻮﺍﺗﻬﺎ .
ﻭﺍﺫﺍ ﻓﺎ ﺗﺖ ﺷﺨﺼﺎ ﻓﺮﻳﻀﺔ ﺑﻐﻴﺮﻋﺬﺭ ﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻗﻀﺎﺀﻫﺎ
ﻋﻠﻯﺎﻟﻔﻮﺭ]١٠[ , ﻓﺎﻥ ﻓﺎ ﺗﺘﻪ ﺑﻌﺬﺭﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﻗﻀﺎﺀﻫﺎ
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺘﺮﺍﺧﻲ , ﻭﺍﻷﻓﻀﻞ ﻟﻪ ﺍﻟﻤﺒﺎﺩﺭﺓ ﺑﻘﻀﺎﺀﻫﺎ . ﺍﻩ
* * * * *
Dasar pengambilan tiga :
ﻋﺒﺎﺭﺓ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﺻﺤﻴﻔﺔ :١١۸ / ﺝ ١
ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺗﺠﺐ ﺑﺄﻭﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﺟﻮﺑﺎ ﻣﻮﺳﻌﺎ]١١ [
ﻓﻠﻪ ﺍﻟﺘﺄﺧﻴﺮﻋﻦ ﺃﻭﻟﻪ ﺍﻟﻰ ﻭﻗﺖ ﻳﺴﻌﻬﺎ ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﻳﻌﺰﻡ ﻋﻠﻰ
ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻓﻴﻪ]١٢[ ﻭﻟﻮ ﺃﺩﺭﻙ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﺭﻛﻌﺔ ]١٣[ ﻻﺩﻭﻧﻬﺎ
ﻓﺎﻟﻜﻞ ﺃﺩﺍﺀ]١٤ [ ﻭﺍﻻ ﻓﻘﻀﺎﺀ …. ﺍﻟﺦ
Catatan kaki :
[ ١[ ﻻ ﻧﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺱﺀﻝ ﺃﻱ ﺍﻻﻋﻤﺎﻝ ﺃﻓﻀﻞ
ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﺃﻭﻝ ﻭﻗﺘﻬﺎ.
[ ٢[ ﺃﻱ ﻋﻠﻰ ﺍﻷ ﺻﺢ ﻭﻫﺬﺍ ﻋﺰﻡ ﺧﺎﺹ ﻓﻴﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺪﺧﻮﻝ
ﺍﻟﻮﻗﺖ ﺃﺣﺪ ﺃﻣﺮﻳﻦ ﺍﻣﺎ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﺃﻭ ﺍﻟﻌﺰﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻓﺎﻥ ﻟﻢ
ﻳﻔﻌﻞ ﻭﻟﻢ ﻳﻌﺰﻡ ﺃﺛﻢ ﻓﺎﺫﺍ ﻋﺰﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﻓﻴﻪ ﻭﻟﻢ ﻳﻔﻌﻞ ﻭﻣﺎﺕ
ﻣﻊ ﺍﺗﺴﺎﻉ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻻ ﻳﻤﻮﺕ ﻋﺎﺻﻴﺎ ﻷﻥ ﻟﻬﺎ ﻭﻗﺘﺎ ﻣﺤﺪﻭﺩﺍ
ﺑﺤﻴﺚ ﻟﻮ ﺃﺧﺮﺟﻬﺎ ﻋﻨﻪ ﻷﺛﻢ .
[ ٣[ ﺃﻱ ﻋﺰﻣﺎ ﻋﺎﻣﺎ
[ ٤[ ﺃﻱ ﻓﺎﻥ ﻟﻢ ﻳﻌﺰﻡ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻋﺼﻰ ﻭﻳﺼﺢ ﺗﺪﺍﺭﻛﻪ ﻟﻤﻦ
ﻓﺎ ﺗﻪ ﺫﻟﻚ ﻛﻜﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ .
[ ٥[ ﺃﻱ ﻟﺨﺮﻭﺟﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﺑﺎﻟﺮﺩﺓ ﻭﻻ ﻓﻲ ﻣﻘﺎﺑﺮﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﻟﻤﺎ
ﺗﻘﺪﻡ ﻣﻦ ﺣﺮﻣﺔ ﺍﻻﺳﻼﻡ ﺃﻣﺎ ﻣﻦ ﺗﺮﻛﻬﺎ ﺟﺎﻫﻼ ﻟﻮﺟﻮﺑﻬﺎ
ﻟﻘﺮﺏ ﻋﻬﺪﻩ ﺑﺎﻻﺳﻼﻡ ﺃﻭﻧﺤﻮﻩ ﻣﻤﻦ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﺨﻔﻲ ﻋﻠﻴﻪ
ﺫﻟﻚ ﻛﻤﻦ ﺑﻠﻎ ﻣﺠﻨﻮﻧﺎ ﺛﻢ ﺃﻓﺎ ﻕ ﻓﻠﻴﺲ ﻣﺮﺗﺪﺍ ﺑﻞ ﻳﻌﺮﻑ
ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ ﻓﺎﻥ ﺃﺻﺮﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﺻﺎﺭ ﻣﺮﺗﺪﺍ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ
ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻐﺎﻳﺔ .
[ ٦[ ﺃﻱ ﻟﻢ ﻳﻨﻜﺮﻩ ﺑﻌﺪ ﻋﻠﻤﻪ ﺑﻪ ﺑﻞ ﺗﺮﻛﻬﺎ ﻛﺴﻼ .
[ ٧[ ﺃﻱ ﻓﻴﺴﺘﺘﺎﺏ ﻧﺪ ﺑﺎ ﺣﺎﻻ ﺍﻥ ﺃﺧﺮﺟﻬﺎ ﻋﻦ ﻭﻗﺖ ﺟﻤﻊ ﻟﻬﺎ
ﺍﻥ ﻛﺎﻥ ﻷﻥ ﺗﺄﺧﻴﺮﺍﻻﺳﺘﺘﺎﺑﺔ ﻳﻔﻮﺕ ﺻﻠﻮﺍﺕ .
[۸] ﺃﻱ ﻭﻫﻲ ﺃﻥ ﻳﻄﺎﻟﺒﻪ ﺍﻣﺎﻡ ﺃﻭﻧﺎﺀﺑﻪ ﺑﺄﺩﺍﺀﻫﺎ ﻭﻳﺘﻮﻋﺪﻩ
ﺑﺎﻟﻘﺘﻞ ﺍﻥ ﺃﺧﺮﺟﻬﺎ ﻋﻦ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻓﺎﻥ ﺃﺧﺮﻫﺎ ﻭﺃﺧﺮﺟﻬﺎ ﻋﻨﻪ
ﺍﺳﺘﺤﻖ ﺍﻟﻘﺘﻞ ﻓﻠﻮ ﺃﺑﺪﻯ ﻟﻠﺘﺮﻙ ﻋﺬﺭﺍ ﺻﺤﻴﺤﺎ ﺃﻭ ﺑﺎﻃﻼ
ﻭﺍﻣﺘﻨﻊ ﻣﻨﻬﺎ ﻓﻼ ﻳﻘﺘﻞ … ﺍﻟﺦ
[ ٩[ ﺃﻱ ﻗﺎﻝ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﺍﻥ ﻓﺮﺽ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻻﻳﺴﻘﻂ ﻋﻦ
ﺍﻟﻤﻜﻠﻒ ﻣﺎﺩﺍﻡ ﻋﻘﻠﻪ ﺛﺎ ﺑﺘﺎ ﻟﻮﺟﻮﺩ ﻣﻨﺎ ﻁ ﺍﻟﺘﻜﻠﻴﻒ ﻭﻫﻮﺍﻟﻌﻘﻞ
ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻻﻣﺎﻡ ﺃﺑﻮﺣﻨﻴﻔﺔ ﺍﻥ ﻣﻦ ﻋﺎ ﻳﻦ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﻭﻋﺠﺰ ﻋﻦ
ﺍﻻﻳﻤﺎﺀ ﺑﺮﺃﺳﻪ ﺳﻘﻂ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﻔﺮﺽ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﻋﻤﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺳﻠﻔﺎ
ﻭﺧﻠﻔﺎ ﻓﻠﻢ ﻳﺒﻠﻐﻨﺎ ﺃﻥ ﺃﺣﺪﺍ ﻣﻨﻬﻢ ﺃﻣﺮﺍﻟﺤﺘﻀﺮ ﺑﺎﻟﺼﻼﺓ ﺃﻱ
ﻻﻧﻪ ﺻﺎﺭ ﻗﻠﺒﻪ ﻣﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﺼﺎﺭ ﺣﻜﻤﻪ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﻮﻟﻲ
ﺍﻟﻤﺠﺬﻭﺏ .
[ ١٠[ ﺃﻱ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﺼﺮﻑ ﺯﻣﻨﺎ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻗﻀﺎﺀﻫﺎ
ﻛﺎﻟﺘﻄﻮﻉ ﺍﻻﻓﻴﻤﺎ ﻳﻀﻄﺮ ﺍﻟﻴﻪ ﻛﺄﺩﺍﺀ ﺍﻟﻔﺮﻭﺽ ﺗﺤﺼﻴﻞ
ﻡﺀﻭﻭﻧﺔ ﻣﻦ ﺗﻠﺰﻣﻪ ﻧﻔﻘﺘﻪ ﻭﻛﺎﻟﻨﻮﻡ .
[ ١١[ ﺃﻱ ﻣﻮﺳﻌﺎ ﻓﻴﻪ ﻓﻼ ﻳﺠﺐ ﻓﻌﻞ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺑﺄﻭﻝ ﺍﻟﻮﻗﺖ
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻮﺭ
[ ١٢[ ﺃﻱ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﻭﺣﻴﻨﻨﺬ ﻻ ﻳﺄ ﺛﻢ ﻟﻮﻣﺎﺕ ﻗﺒﻞ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻭﻟﻮ
ﺑﻌﺪ ﺍﻣﻜﺎﻧﻪ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﺍﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻌﺰﻡ ﻋﻠﻰ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻓﺎﻧﻪ ﻳﺄﺛﻢ
ﺣﻴﻨﻨﺬ ﻭﺍﻟﻌﺰﻡ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﺧﺎﺹ ﻭﻫﻮ ﺃﺣﺪ ﻗﺴﻤﻲ ﺍﻟﻌﺰﻡ
ﺍﻟﻮﺍﺟﺐ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺍﻟﻌﺰﻡ ﺍﻟﻌﺎﻡ ﻭﻫﻮ ﺃﻥ ﻳﻌﺰﻡ
ﺍﻟﺸﺨﺺ ﻋﻨﺪ ﺑﻠﻮﻏﻪ ﻋﻠﻰ ﻓﻌﻞ ﺍﻟﻮﺍﺟﺒﺎﺕ ﻭﺗﺮﻙ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺎﺕ
ﻓﺎﻥ ﻟﻢ ﻳﻌﺰﻡ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻋﺼﻰ ﻭﻳﺼﺢ ﺗﺪﺍﺭﻛﻪ ﻟﻤﻦ ﻓﺎ ﺗﻪ ﺫﻟﻚ
ﻛﻜﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ … ﺍﻟﺦ
[ ١٣[ ﺃﻱ ﻛﺎﻣﻠﺔ ﺑﺄﻥ ﻓﺮﻍ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺠﺪﺓ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﻗﺒﻞ ﺧﺮﻭﺝ
ﺍﻟﻮﻗﺖ .
[ ١٤[ ﺃﻱ ﻟﺨﺒﺮ ﻣﻦ ﺃﺩﺭﻙ ﺭﻛﻌﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻘﺪ ﺃﺩﺭﻙ
ﺍﻟﺼﻼﺓ ﺃﻱ ﻣﻮﺀﺩﺍﺓ .

Panduan Sholat Sunnat Tahajjud

Bismillahirrahmanirrahim

Sholat sunnat tahajud merupakan sholat yang dilaksanakan saat malam hari setelah tidur, meskipun hanya tidur dalam waktu yang sebentar. Sesuai dengan makna dari kata “Tahajjud” yang berarti “bagun dari tidur”. Jadi syarat utama melakukan sholat tahajud ialah setalah tidur terlebih dulu, meskipun hanya tidur sebentar.

Hukum dari sholat tahajud ini sendiri merupakan sunat mu’akkad, yang berarti sangat dianjurkan, karena menurut hadist Nabi SAW, sholat yang paling utama dikerjakan setelah sholat fardhu ialah sholat tahajud.

Dan untuk jumlah rakaat dari sholat tahajud ialah 2 rakaat itu untuk jumlah minimal, dan lebih baik jika dikerjakan dalam jumlah yang banyak. Karena Rasulullah SAW sendiri pernah melakukan sholat tahajud sebanyak 10 rakaat yang ditambah dengan 1 rakaat sholat witir, jadi melakukan sholat tahajud akan lebih baik jika ditambah dengan sholat witir sebagai penutup. Sholat tahajud ini hendaknya dikerjakan sebanyak 2 rakaat kemudian salam, dan jika anda ingin menambah lagi jumlah rakaatya. Anda bisa melakukannya hingga jumlah rakaat yang anda inginkan dengan 2 rakaat dan 1 kali salam.

Ada pun cara pelaksanaan dari sholat tahajud ini sama persis dengan cara sholat fardhu baik untuk bacaan ataupun gerakannya, yang berbeda hanya pada bacaan niatnya saja.

Niat Sholat Tahajud adalah

“USHALLIISUNNATATTAHAJJUDI RAK’ATAINI LILLAAHI TA’AALAA”

Artinya: (di dalam hati pada saat
takbiratul ihram) “Aku niat shalat sunat tahajud 2 rakaat, karena Allah Ta’ala”.

Dan setelah selesai melakukan sholat tahajud sebaiknya dilanjutkan dengan sholat witir. Dan sesudah selesai melakukan sholat witir, baiknya dilanjutkan lagi dengan membaca doa.

ALLAAHUMMA LAKAL HAMDU ANTA QAYYIMUS SAMAA WAATI WAL ARDHI WA MAN FIIHINNA. WA LAKAL HAMDU ANTA MALIKUS SAMAA WAATI WAL ARDHI WA MAN FIIHINNA. WA LAKAL HAMDU ANTA NUURUS SAMAAWAATI WAL ARDHI WA MAN FIIHINNA. WA LAKAL HAMDU ANTAL HAQQU, WA WA’DUKAL HAQQU, WA LIQAA’UKA HAQQUN, WA QAULUKA HAQQUN, WAL JANNATU HAQQUN, WANNAARU HAQQUN, WANNABIYYUUNA HAQQUN, WA MUHAMMADUN SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAMA HAQQUN WASSAA’ATU HAQQUN. ALLAAHUMMA LAKA ASLAMTU, WA BIKA AAMANTU, WA ‘ALAIKA TAWAKKALTU, WA ILAIKA ANABTU, WA BIKA KHAASHAMTU, WA ILAIKA HAAKAMTU, FAGHFIRLII MAA QADDAMTU, WA MAA AKH-KHARTU, WA MAA ASRARTU, WA MAA A’LANTU, WA MAA ANTA A’LAMU BIHIMINNII. ANTAL MUQADDIMU, WA ANTAL MU’AKHKHIRU, LAA ILAAHA ILLAA ANTA, WA LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAR

Artinya:

“Wahai Allah! Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah penegak dan pengurus langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah penguasa (raja) langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah cahaya langit dan bumi serta makhluk yang ada di dalamnya. Milik-Mu lah segala puji. Engkaulah Yang Hak (benar),janji-Mu lah yang benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, perkataan-Mu benar, surga itu benar (ada), neraka itu benar (ada), para nabi itu benar, Nabi Muhammad saw itu benar, dan hari kiamat itubenar(ada). Wahai Allah! Hanya kepada-Mu lah aku berserah diri, hanya kepada-Mu lah aku beriman, hanya kepada-Mu lah aku bertawakkal hanya kepada-Mu lah aku kembali, hanya dehgan-Mu lah kuhadapi musuhku, dan hanya kepada-Mu lah aku berhukum. Oleh karena itu ampunilah segala dosaku, yang telah kulakukan dan yang (mungkin) akan kulakukan, yang kurahasiakan dan yang kulakukan secara terang-terangan, dan dosa-dosa lainnya yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku. Engkaulah Yang Maha Terdahulu dan Engkaulah Yang Maha Terakhir. tak ada Tuhan selain Engkau, dan tak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

Dan setelah selesai membaca doa, sebaiknya dilanjutkan lagi dengan membaca istighfar sebanyak mungkin.

Bacaan Istighfar

“ASTAGHFIRULLAAHALA AZHIIM. ALLADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBUILAIH”

Artinya:

“Akumemohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung,yang tak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya”

Demikian Cara Sholat Tahajud. Semoga bermanfaat bagi Anda yang membutuhkan. Wallahu a’lamu bishshowab.



FADHILAH BERNIAT TAHAJJUD SEBELUM TIDUR

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ حَتَّى أَصْبَحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَل

Dari Abu Ad Darda’ yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Barangsiapa yang hendak tidur dan ia berniat untuk shalat malam, lalu ia tertidur hingga datang waktu subuh maka ia mendapat pahala apa yang ia niatkan, dan tidurnya adalah sedekah baginya dari Allâh ‘Azza wa Jalla.” HR Nasa`I 1765, shahih.

FADHILAH TAHAJJUD SECARA KONTINYU

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ امْرِئٍ تَكُونُ لَهُ صَلَاةٌ بِاللَّيْلِ فَيَغْلِبُهُ عَلَيْهَا نَوْمٌ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ أَجْرَ صَلَاتِهِ وَكَانَ نَوْمُهُ ذَلِكَ صَدَقَةً

Dari ‘Aisyah, bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: Tidaklah seorang yang membiasakan diri shalat malam kemudian tertidur (di malam harinya), kecuali Allâh akan menulis pahala shalat untuknya dan tidurnya sebagai shadaqah.” HR Ahmad 233303, shahih.

FADHILAH MEMBACA SURAH PANJANG DALAM TAHAJJUD

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ طُولُ الْقُنُوتِ

Dari Jabir berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat yang paling afdhal (utama) adalah shalat yang lama berdirinya.” HR Muslim 1257.

FADHILAH TAHAJJUD DENGAN 10, 100, ATAU 1000 AYAT

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنْ الْغَافِلِينَ وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْقَانِتِينَ وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْمُقَنْطِرِينَ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bangun (shalat malam) dan membaca sepuluh ayat, maka dia tidak akan dicatat sebagai orang-orang yang lalai. Barangsiapa bangun (shalat malam) dengan membaca seratus ayat, maka dia akan dicatat sebagai orang-orang yang tunduk, dan barangsiapa bangun (shalat malam) dengan membaca seribu ayat, maka dia akan dicatat sebagai muqanthirin (orang-orang yang mendapat pahala berlipat-lipat tak terhingga)2.” HR Abu Dawud 1190, shahih.

FADHILAH MEMBANGUNKAN ISTRI UNTUK TAHAJJUD

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allâh merahmati seseorang yang bangun malam kemudian shalat lalu membangunkan isterinya, apabila isterinya menolak, dia akan memercikkan air ke mukanya, dan semoga Allâh merahmati seorang isteri yang bangun malam lalu shalat, kemudian dia membangunkan suaminya, apabila suaminya enggan, maka isterinya akan memercikkan air ke muka suaminya.” HR Abu Dawud 1113, shahih.

FADHILAH TAHAJJUD BERSAMA ISTRI

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ قَالَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اسْتَيْقَظَ مِنْ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا مِنْ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ

Dari Abu Sa’id Al Khudri dan Abu Hurairah RhadhiyAllahu ‘anhuma, mereka Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang bangun malam dan membangunkan istrinya kemudian mereka berdua melaksanakan shalat dua rakaat secara bersama, maka keduanya dicatat sebagai orang yang banyak mengingat Allâh.” HR Abu Dawud 1239, shahih.

FADHILAH TAHAJJUD AKHIR MALAM

عَمْرُو بْنُ عَبَسَةَ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنْ الْعَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الْآخِرِ فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ

Dari ‘Amr bin ‘Abasah bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Waktu yang paling dekat antara Rabb dengan seorang hamba adalah pada tengah malam terakhir, maka apabila kamu mampu menjadi golongan orang-orang yang berdzikir kepada Allâh (shalat) pada waktu itu, lakukanlah!”. HR Tarmidzi 3503, shahih.

FADHILAH TAHAJJUD DAWUD

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللَّهِ صَلَاةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radliallahu ‘anhu’anhuma mengabarkannya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepadanya: “Shalat yang paling Allâh cintai adalah shalatnya Nabi Daud Alaihissalam dan shaum (puasa) yang paling Allâh cintai adalah shaumnya Nabi Daud alaihissalam. Nabi Daud Alaihissalam tidur hingga pertengahan malam lalu shalat pada sepertiganya kemudian tidur kembali pada seperenam akhir malamnya3. Dan Nabi Daud Alaihissalam shaum sehari dan berbuka sehari”. HR Bukhari 1063.

FADHILAH TAHAJJUD TENGAH MALAM

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

اعْبُدُوا الرَّحْمَنَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَأَفْشُوا السَّلَامَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Dari ‘Abdullahbin Amru ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Beribadahlah kalian kepada Ar Rahman (Alloh Swt), berilah makanan, dan tebarkanlah salam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” HR Tarmidzi 1778, shahih.

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

Dari Ali ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi menjawab: “Untuk orang yang berkata benar, memberi makan, shaum secara kontinyu, dan shalat pada malam hari di waktu orang-orang tidur.” HR Tarmidzi 1907, shahih. * Yaitu di tengah malam pada jam tidur.

FADHILAH TAHAJJUD TARAWIH

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنْ الشَّهْرِ حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَتْ السَّادِسَةُ لَمْ يَقُمْ بِنَا فَلَمَّا كَانَتْ الْخَامِسَةُ قَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا قِيَامَ هَذِهِ اللَّيْلَةِ قَالَ فَقَالَ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ قَالَ فَلَمَّا كَانَتْ الرَّابِعَةُ لَمْ يَقُمْ فَلَمَّا كَانَتْ الثَّالِثَةُ جَمَعَ أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ وَالنَّاسَ فَقَامَ بِنَا حَتَّى خَشِينَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ قَالَ قُلْتُ وَمَا الْفَلَاحُ قَالَ السُّحُورُ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِقِيَّةَ الشَّهْرِ

Dari Abu Dzar dia berkata; “Kami pernah berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau tidak mengerjakan shalat malam bersama kami sedikitpun dalam sebulan sampai berlalu sepertiga malam, setelah malam keenam (dari akhir bulan) beliau juga tidak mengerjakan shalat malam bersama kami, ketika di hari kelima (dari akhir bulan), beliau mengerjakan shalat malam bersama kami hingga tengah malam pun berlalu. Maka kataku; “Wahai Rasulullah, alangkah baiknya sekiranya anda menambahi shalat sunnah (qiyamullail) pada malam hari ini untuk kami!.” Abu Dzar berkata; Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya apabila seseorang shalat (malam) bersama imam hingga selesai, maka akan dicatat baginya seperti bangun (untuk mengerjakan shalat malam) semalam suntuk.” Kata Abu Dzar; “Ketika malam keempat (dari akhir bulan) beliau tidak mengerjakan shalat malam (bersama kami), setelah malam ketiga (dari akhir bulan), beliu mengumpulkan keluarganya, isteri-isterinya dan orang-orang, lalu melakukan shalat malam bersama kami, sampai kami khawatir ketinggalah “Al falah.” Jabir bertanya; “Apakah al falah itu?” jawabnya; “Bersahur. Kemudian beliau tidak lagi melakukan shalat malam bersama kami di malam-malam berikutnya dari sebulan itu.” HR Abu Dawud 1167, shahih.

TAHAJJUD MENINGGIKAN KEMULIAAN DI HADAPAN ALLOH

Terdapat hadits shahih dan hadits dha’if, yaitu:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ ، قَالَ : جَاءَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : يَا مُحَمَّدُ ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ ، وَأَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ ثُمَّ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ.

Dari Sahl bin Sa’d berkata, “Jibril ‘alaihissalam datang kepada Nabi saw lalu berkata: Hai Muhammad, hiduplah engkau semaumu sebab kau akan mati. Cintailah siapapun yang kau cintai karena kau akan meninggalkannya. Kerjakanlah apapun yang kau mau sebab kau akan dibalas dengannya.” Kemudian dia berpetuah, “Hai Muhammad, Kemuliaan orang mu’min adalah dengan qiyamullail, dan ‘izzahnya (gagah) adalah jika ia menahan diri dari meminta kepada orang.” HR Hakim 7921, shahih.

Adapun hadits yang dha’if bahkan palsu adalah:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَشْرَافُ أُمَّتِي حَمَلَةُ الْقُرْآنِ وَأَصْحَابُ اللَّيْلِ “

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah saw bersabda, “Para mulia dari ummatku adalah mereka yang hafal Al-Qur’an dan ahli ibadah malam hari.” HR Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2447 & 2977, DHA’IF/PALSU.4

DOA TAHAJJUD LEBIH MUSTAJAB

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ

قَالَ جَوْفَ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ

Dari Abu Umamah ia berkata; Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam ditanya: Wahai Rasulullah, doa apakah yang paling didengar? Beliau berkata: “Doa di tengah malam terakhir, serta setelah shalat-shalat wajib.” HR Tarmidzi 3421, shahih.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ فِي اللَّيْلِ لَسَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ

Dari Jabir ia berkata; Saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di waktu malam terdapat suatu saat, tidaklah seorang muslim mendapati saat itu, lalu ia memohon kebaikan kepada Allâh ‘Azza wa Jalla baik kebaikan dunia maupun akhirat, kecuali Allâh memperkenankannya. Hal tu terjadi pada setiap malam.” Muslim 1259.

TAHAJJUD MENGHAPUS DOSA

ثَوْبَان مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ يُدْخِلُنِي اللَّهُ بِهِ الْجَنَّةَ أَوْ قَالَ قُلْتُ بِأَحَبِّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ فَسَكَتَ ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَسَكَتَ ثُمَّ سَأَلْتُهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ سَأَلْتُ عَنْ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

Tsauban, maula Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, lalu aku bertanya, ‘Kabarkanlah kepadaku dengan suatu amal yang jika kukerjakan niscaya Allâh akan memasukkanku ke dalam surga disebabkan amal tersebut, -atau dia berkata, aku berkata, ‘Dengan amalan yang paling disukai Allâh-, lalu dia diam, kemudian aku bertanya kepadanya, lalu dia diam kemudian aku bertanya kepadanya yang ketiga kalinya.’ Dia menjawab, ‘Aku telah menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, maka beliau menjawab, ‘Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allâh, karena tidaklah kamu bersujud kepada Allâh dengan suatu sujud melainkan Allâh akan mengangkatmu satu derajat dengannya, dan menghapuskan satu dosa darimu dengannya’.” HR Muslim 753.

TAHAJJUD MELEPASKAN 3 IKATAN SETAN

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan. Pada tiap ikatan dia berkata: Kamu akan melewati malam yang sangat panjang maka tidurlah dengan nyenyak. Jika dia bangun dan mengingat Allâh maka lepaslah satu tali ikatan. Jika kemudian dia berwudhu’ maka lepaslah tali yang lainnya dan bila ia mendirikan shalat lepaslah seluruh tali ikatan dan pada pagi harinya ia akan merasakan semangat dan kesegaran yang menenteramkan jiwa. Namun bila dia tidak melakukan seperti itu, maka pagi harinya jiwanya merasa tidak segar dan menjadi malas”. HR Bukhari 1074.

TAHAJJUD ADALAH SHALAT SUNNAH PALING UTAMA

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seutama-utama puasa setelah Ramadlan ialah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama shalat sesudah shalat Fardlu ialah shalat malam.” HR Muslim 1982.

TAHAJJUD YANG PASTI DITERIMA ALLOH

عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَعَارَّ مِنْ اللَّيْلِ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي أَوْ دَعَا اسْتُجِيبَ لَهُ فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلَاتُهُ

‘Ubadah bin Ash-Shamit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang bangun di malam hari lalu membaca “Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir. Alhamdulillahi wa subhaanallah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar wa laa jaula wa laa quwwata illa billah” (Tidak ada tuhan yang berhaq disembah kecuali Allâh satu-satunya, tidak ada sekutu bagiNya. Dialah yang memiliki kerajaan dan baginNya segala pujian dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allâh dan Maha Suci Allâh dan tidak ada ilah kecuali Allâh dan Allâh Maha Besar dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Dia”) Kemudian dilanjutkan dengan membaca “Allahummaghfirlii” (“Ya Allâh ampunilah aku”) atau berdo’a, maka akan dikabulkan baginya. Jika dia berwudhu’ lalu shalat maka shalatnya diterima”. HR Bukhari 1154.

* * * * *
[MH]